Ada sesuatu yang berubah di dalam cara kita membesarkan anak — sesuatu yang tidak mudah diungkapkan, tapi terasa setiap hari. Ketika anak minta ganti handphone yang masih berfungsi baik. Ketika liburan tidak cukup tanpa ada yang diunggah. Ketika prestasi hanya dianggap berarti kalau ada yang memuji. Kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan anak — dunia di sekeliling mereka memang bergerak dengan pesan yang sama berulang-ulang: lebih banyak, lebih cepat, lebih tinggi.
Yang membuat banyak orang tua diam-diam gelisah bukan hanya soal konsumsi barang. Lebih dari itu — ada kekhawatiran bahwa anak tumbuh tanpa kemampuan untuk duduk diam bersama apa yang sudah ada. Tanpa kemampuan untuk bersyukur, tanpa kemampuan untuk merasa cukup.
Pertanyaannya: di mana, dan bagaimana, hal seperti itu bisa diajarkan?
Mengapa merasa cukup menjadi keterampilan paling langka hari ini?
Dunia tidak mengajarkan kepuasan. Dunia mengajarkan optimasi. Setiap platform dirancang untuk membuat kita merasa kurang — kurang produktif, kurang menarik, kurang berhasil dibanding orang lain. Anak-anak yang tumbuh di dalam ekosistem ini menyerapnya bukan dengan sengaja, tapi secara perlahan dan terus-menerus.
Merasa cukup bukan berarti berhenti berkembang. Itu perbedaan yang sering luput.
Pesantren — khususnya yang masih menjalankan sistem pendidikan berbasis asrama penuh — beroperasi dari landasan yang berbeda. Bukan karena pesantren anti-kemajuan. Justru sebaliknya: pesantren percaya bahwa kemajuan yang sesungguhnya dimulai dari ketenangan batin, bukan dari kegelisahan yang terus dipompa dari luar.
Apa yang sebenarnya diajarkan saat santri hidup dengan apa yang ada?
Salah satu nilai yang ditanamkan dalam sistem pendidikan pesantren adalah kesederhanaan — bukan sebagai simbol kemiskinan, melainkan sebagai pilihan sadar untuk tidak membiarkan keinginan mengambil alih akal.
Di pesantren, santri hidup dalam komunitas yang tidak mengenal hierarki berdasarkan merek baju atau gadget terbaru. Semua memakai seragam yang sama. Semua makan dari dapur yang sama. Semua tidur di kamar yang sama. Dalam keseragaman itu, ada sesuatu yang menarik: perbedaan yang tersisa adalah perbedaan karakter — siapa yang lebih rajin, siapa yang lebih jujur, siapa yang lebih ringan tangan membantu. Perbedaan semacam itu tidak bisa dibeli.
Ketika santri menjalankan puasa Senin-Kamis secara rutin, bukan sekadar menahan lapar yang dilatih — ada kesadaran bahwa tubuh bisa diajak bernegosiasi, bahwa keinginan tidak harus selalu dipenuhi seketika. Ketika giliran memasak di program tata boga tiba, santri tidak hanya belajar teknik dapur — mereka belajar menghargai makanan yang ada di depan mereka, karena mereka tahu berapa lama dan berapa tangan yang terlibat untuk menyiapkannya.
Latihan-latihan kecil seperti ini, yang berlangsung dalam kehidupan nyata sehari-hari, bukan dalam ceramah atau teori, itulah yang membentuk refleks batin seorang santri.
Bagaimana rasa syukur diajarkan tanpa terasa menggurui?
Tahsin Al-Quran setiap sore sebelum Maghrib bukan hanya pelajaran membaca kitab suci. Ada dimensi lain yang bekerja di situ — santri duduk bersama wali kamar, belajar satu per satu, diperhatikan satu per satu. Dalam dunia yang terbiasa dengan kecepatan dan efisiensi massal, pengalaman diperhatikan secara personal itu sendiri adalah sesuatu yang langka.
Hadroh dan marawis yang dilatih bersama kakak kelas mengajarkan hal yang berbeda dari ekstrakurikuler kompetitif kebanyakan. Di sana tidak ada yang paling bintang. Yang ada adalah keselarasan — dan keselarasan hanya terjadi kalau masing-masing mau mendengarkan yang lain, bukan hanya ingin didengar.
Pramuka di pesantren membawa santri ke situasi di mana peralatan terbatas, kondisi alam tidak bisa dikontrol, dan satu-satunya yang bisa diandalkan adalah kemampuan diri dan kepercayaan pada teman di sebelah. Dari situ, secara alami, tumbuh rasa syukur atas hal-hal yang selama ini dianggap biasa: atap yang tidak bocor, air yang mengalir, malam yang tidak hujan.
Sholat berjamaah lima waktu bukan ritual wajib yang dijalankan dengan wajah masam. Bagi santri yang sudah melewati bulan-bulan pertama adaptasi, sholat berjamaah menjadi titik kembali — ke tenang, ke tempat yang sama, ke tujuan yang sama. Lima kali sehari, mereka diingatkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari target, lebih besar dari kompetisi, lebih besar dari daftar keinginan yang belum terpenuhi.
Apakah ini berarti santri diajarkan untuk tidak punya ambisi?
Justru di sini letak kesalahpahaman yang paling sering muncul.
Pesantren tidak mencetak anak yang pasif. Sistem visi yang disebut IMAMA — yang berpijak pada Al-Quran Surat Al-Furqan ayat 74 — justru membangun aspirasi yang dalam dan serius. Imam. Muttaqien. Alim. Mubaligh. Amil. Ini bukan gelar simbolis — ini arah hidup yang nyata, yang dibangun sejak hari pertama santri masuk.
Yang berbeda adalah sumber energinya.
Ambisi yang tumbuh dari rasa kurang akan selalu lapar — tidak pernah puas meski sudah mencapai banyak. Ambisi yang tumbuh dari rasa syukur bergerak dari tempat yang cukup — dan dari sana, ada energi yang lebih bersih, lebih tahan lama, lebih jujur.
Santri yang belajar berdiri di depan audiens dalam latihan muhadharah, yang menguasai dua bahasa sekaligus dalam satu pekan bergantian antara Arab dan Inggris, yang berlatih debat dalam Munaqasyah — mereka bukan anak yang sudah menyerah pada kemajuan. Mereka hanya sedang belajar bahwa kemajuan tidak harus disertai kegelisahan yang tidak pernah reda.
Apa yang berubah pada seorang santri setelah beberapa waktu hidup dalam sistem ini?
Ada sebuah momen kecil yang sering diceritakan oleh orang tua yang sudah menjenguk anak mereka setelah beberapa bulan mondok. Bukan tentang nilai ujian. Bukan tentang hafalan yang bertambah. Tapi tentang cara anak mereka berbicara — lebih pelan, lebih runtut, lebih memilih kata.
Dan tentang cara mereka makan: menghabiskan sampai piring bersih, tanpa perlu diperintah.
Hal-hal kecil seperti itu bukan kebetulan. Itu hasil dari hidup dalam lingkungan yang tidak terus-menerus menawarkan pilihan tanpa batas. Ketika pilihan berkurang, kapasitas untuk menghargai justru tumbuh.
Orang tua yang menitipkan anak di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining sering menyebut perubahan itu sebagai sesuatu yang sulit dijelaskan — anak yang sama, tapi ada kedewasaan di balik matanya yang tidak ada sebelumnya.
Perubahan itu tidak datang dari satu kelas khusus tentang syukur. Ia datang dari hidup yang dijalani konsisten, hari demi hari, dalam sistem yang percaya bahwa karakter dibentuk dari kebiasaan yang kecil dan berulang — bukan dari motivasi besar yang sekali-sekali menyala.
Ke mana langkah selanjutnya?
Buat orang tua yang sedang memikirkan soal ini — soal bagaimana anak bisa tumbuh dengan ketenangan batin di tengah dunia yang tidak pernah berhenti mendorong — bisa langsung mengobrol lebih jauh melalui WhatsApp 0812111180. Tim di sana siap menjawab pertanyaan apa pun, tanpa tekanan, tanpa tenggat waktu.