Bagaimana Mengajarkan Anak Bersyukur di Tengah Budaya yang Selalu Merasa Kurang

Anak yang baru saja dapat sepatu baru sudah ingin yang lain karena melihat milik temannya. Yang baru liburan kemarin sudah protes belum liburan lagi karena melihat postingan teman di media sosial. Yang sudah punya kamar sendiri masih mengeluh karena belum punya TV di kamar. Di era di mana eksposur terhadap kehidupan orang lain begitu intens, rasa cukup menjadi semakin sulit dimiliki — tidak hanya oleh anak, tapi juga oleh orang dewasa.

Kenapa anak zaman sekarang sulit bersyukur?

Karena mereka terus-menerus terpapar pada apa yang tidak mereka miliki. Media sosial menampilkan highlight reel kehidupan orang lain — liburan mewah, gadget terbaru, pakaian branded — tanpa konteks perjuangan di baliknya. Otak yang terus membandingkan secara alami merasa kurang, berapapun yang sudah dimiliki.

Iklan juga berperan. Anak terpapar ribuan pesan per hari yang pada intinya mengatakan: “kamu belum cukup, belum punya ini.” Pesan ini tertanam di bawah sadar dan membentuk persepsi bahwa kebahagiaan selalu ada di pembelian berikutnya.

Ditambah, kemudahan hidup yang semakin meningkat. Anak yang tumbuh dengan kenyamanan cenderung menganggapnya sebagai hal yang wajar — bukan sesuatu yang perlu disyukuri. Air bersih, listrik, makanan di meja makan — semua ini menjadi “default” yang tidak terasa istimewa.

Bagaimana mengajarkan syukur secara nyata?

Pertama, praktikkan, bukan sekadar nasihati. Anak yang melihat orang tuanya mengucapkan syukur atas hal-hal kecil — makanan yang enak, cuaca yang bagus, keluarga yang sehat — menginternalisasi kebiasaan itu jauh lebih efektif dari ceramah tentang syukur.

Kedua, kurangi eksposur terhadap perbandingan yang tidak perlu. Membatasi waktu media sosial dan mengajarkan anak bahwa apa yang terlihat di layar bukan gambaran utuh kehidupan seseorang — ini fondasi penting untuk mengurangi rasa kurang.

Ketiga, beri anak pengalaman hidup sederhana. Makan bersama tanpa harus mewah. Liburan yang bermakna tanpa harus mahal. Berkunjung ke tempat di mana orang hidup dengan lebih sederhana. Pengalaman langsung mengajarkan perspektif yang tidak bisa didapat dari nasihat.

Keempat, buat tradisi bersyukur di keluarga. Sebelum tidur, setiap anggota keluarga menyebutkan satu hal yang disyukuri hari ini. Praktik sederhana ini, ketika dilakukan konsisten, melatih otak untuk mencari hal baik daripada yang kurang.

Kelima, ajarkan memberi. Anak yang terbiasa memberi — waktu, tenaga, atau harta — secara alami lebih menghargai apa yang dimilikinya. Karena dalam proses memberi, ia melihat bahwa tidak semua orang punya apa yang ia punya.

Bagaimana lingkungan mendukung rasa syukur?

Lingkungan yang mengutamakan kesederhanaan secara alami mengajarkan syukur. Ketika semua orang makan makanan yang sama, tidur di tempat yang setara, dan memakai seragam yang sama — perbandingan material berkurang drastis. Yang tersisa adalah perbandingan yang lebih bermakna: siapa yang lebih rajin, lebih baik akhlaknya, lebih bermanfaat bagi orang lain.

Pesantren, dengan filosofi kesederhanaan yang menjadi salah satu Panca Jiwanya, menawarkan lingkungan di mana syukur bisa tumbuh lebih natural. Ribuan anak hidup dengan terbatas — uang saku terbatas, fasilitas yang dimiliki bersama, tanpa gadget yang terus memperlihatkan apa yang tidak mereka punya. Dan di tengah keterbatasan itu, banyak santri yang justru menemukan kebahagiaan yang lebih tulus dibandingkan di rumah yang serba ada.

Apakah ini berarti harus mondok untuk bisa bersyukur? Tentu tidak. Tapi pengalaman hidup sederhana dalam komunitas — di mana kesederhanaan adalah norma, bukan pengecualian — sering menjadi titik balik bagi banyak anak dalam cara mereka memandang hidup.

Apa yang perlu diingat?

Syukur bukan tentang merasa cukup dengan sedikit dan tidak boleh menginginkan lebih. Syukur adalah menghargai apa yang sudah ada sambil tetap berusaha menjadi lebih baik. Anak yang bersyukur bukan anak yang tidak punya ambisi — ia anak yang punya kedamaian di dalam dirinya apapun yang terjadi di luar.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menjadikan kesederhanaan sebagai salah satu pilar kehidupan santri. Bukan karena kurang — tapi karena memilih cukup. Dan dari pilihan itu, rasa syukur tumbuh secara lebih natural.

Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.

Anak yang bersyukur bukan yang punya segalanya. Tapi yang tahu betapa berharganya apa yang sudah dimilikinya.