Akhir pekan di pesantren punya suasana yang berbeda dari hari-hari biasa. Di hari-hari tertentu, gerbang pesantren terbuka untuk kunjungan wali santri. Mobil-mobil mulai berdatangan sejak pagi. Orang tua yang datang dari berbagai kota — ada yang menempuh perjalanan satu jam, ada yang empat jam, ada yang lebih jauh lagi — semuanya membawa satu tujuan yang sama. Bertemu anak yang sudah berminggu-minggu tidak dilihat langsung.
Santri yang tahu orang tuanya akan datang berkunjung biasanya sudah bersiap sejak subuh. Seragam yang lebih rapi dari biasanya. Rambut yang disisir lebih teliti. Sepatu yang dibersihkan meskipun nanti akan kotor lagi sore ini. Semua persiapan itu bukan karena aturan pesantren. Murni karena ingin terlihat baik di depan orang yang paling dirindukan.
Momen ketika santri pertama kali melihat orang tuanya di area parkir atau di halaman tamu selalu menjadi momen yang sangat emosional. Kaki langsung bergerak lebih cepat. Senyum langsung melebar. Dan pelukan yang terjadi beberapa detik kemudian — pelukan itu selalu terasa kurang lama, tidak peduli berapa lama sebenarnya berlangsung. Karena rindu yang menumpuk selama berminggu-minggu tidak bisa dihapus hanya dalam satu pelukan singkat.
Waktu kunjungan yang terbatas membuat setiap menit terasa sangat berharga. Orang tua dan anak biasanya duduk bersama di area yang sudah disediakan — di halaman, di teras wisma, atau di bangku-bangku yang tersebar di sekitar pesantren. Percakapan mengalir cepat. Kita yang menyaksikan dari jauh bisa melihat betapa intensnya interaksi itu — tangan ibu yang terus memegang tangan anaknya, mata ayah yang memperhatikan wajah anaknya lekat-lekat mencari perubahan, dan mulut anak yang bercerita tanpa henti tentang semua yang sudah terjadi sejak terakhir bertemu.
Makanan yang dibawa orang tua dari rumah selalu menjadi bagian penting dari kunjungan. Bekal yang dimasak khusus — rendang, ayam goreng, kue-kue favorit — semua disiapkan dengan penuh kasih sayang. Santri yang membuka bekal itu langsung mengenali aroma yang sudah berminggu-minggu tidak tercium. Aroma rumah. Aroma dapur ibu. Momen makan bersama orang tua di halaman pesantren, meskipun sederhana, terasa lebih istimewa dari makan di restoran manapun.
Jam kunjungan selalu berlalu terlalu cepat. Ketika waktu pulang tiba, suasana berubah. Percakapan melambat. Pelukan terakhir berlangsung lebih lama dari pelukan pertama. Kata-kata perpisahan diucapkan dengan nada yang berusaha terdengar ceria meskipun ada yang menarik di dada. Santri yang melambaikan tangan saat mobil orang tuanya bergerak keluar gerbang kadang berdiri di situ beberapa menit setelah mobil sudah tidak terlihat — menikmati jejak kehadiran yang perlahan menipis.
Orang tua yang berkunjung biasanya juga merasakan campuran emosi yang kompleks. Senang karena sudah melihat anaknya sehat dan tumbuh. Lega karena mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Tapi juga berat karena harus meninggalkannya lagi. Perjalanan pulang sering kali lebih sunyi dari perjalanan berangkat — karena mobil yang tadi penuh oleh antusiasme sekarang diisi oleh perasaan yang belum sepenuhnya bisa diungkapkan.
Di Darunnajah 2 Cipining, orang tua dapat berkunjung setiap hari pada jam yang telah ditentukan. Wisma tersedia di dalam lingkungan pesantren untuk wali santri yang datang dari jauh dan ingin menginap. Kebijakan ini memastikan hubungan antara orang tua dan anak tetap terjaga meskipun terpisah jarak setiap hari.
Pelukan memang selalu terasa kurang lama. Tapi setiap pelukan yang terjadi di halaman pesantren itu menyimpan satu pesan yang sama — bahwa jarak tidak pernah mengubah besarnya kasih sayang, dan rindu justru membuatnya semakin terasa.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang fasilitas untuk orang tua dan kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.