Empati — kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain — menjadi salah satu keterampilan yang paling banyak dibicarakan di dunia pendidikan modern. Sekolah-sekolah maju berusaha memasukkannya ke dalam kurikulum lewat program khusus. Psikolog anak menulis buku tentang cara mengajarkannya. Tapi di pesantren, empati terbentuk tanpa program khusus, tanpa mata pelajaran tambahan, dan tanpa poster motivasi di dinding kelas. Terbentuk dari pengalaman hidup bersama yang intens dan tulus.
Di pesantren, santri hidup berdampingan dengan orang yang kondisi hidupnya sangat beragam. Di satu kamar, ada anak yang orang tuanya berkecukupan dan ada yang keluarganya harus menabung bertahun-tahun untuk bisa membayar biaya pesantren. Ada yang sehat dan ada yang sering sakit. Ada yang mudah bergaul dan ada yang butuh waktu lebih lama untuk terbuka. Keberagaman itu menciptakan kesempatan setiap hari untuk melihat kehidupan dari sudut pandang orang lain — dan dari situ empati tumbuh secara alami.
Momen-momen kecil sehari-hari menjadi latihan empati yang paling efektif.
Teman sekamar yang menangis diam-diam di malam hari karena rindu ibu mengajarkan bahwa tidak semua orang menghadapi perpisahan dengan cara yang sama. Teman yang tidak punya uang untuk jajan di kantin tapi tidak pernah meminta mengajarkan bahwa ada kebutuhan yang tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata. Teman yang tiba-tiba pendiam setelah menerima kabar dari rumah mengajarkan bahwa di balik ketenangan kadang ada beban yang tidak terlihat. Kita yang hidup bersama mereka setiap hari perlahan belajar mengenali tanda-tanda itu tanpa perlu diajarkan secara formal.
Sistem kehidupan pesantren juga mendorong empati lewat struktur yang memaksa saling membantu. Piket yang bergiliran mengajarkan bahwa kenyamanan bersama adalah tanggung jawab semua orang. Makan bersama satu nampan mengajarkan bahwa lauk yang terbatas harus dibagi rata — mengambil lebih dari porsi berarti ada orang lain yang kekurangan. Sholat berjamaah mengajarkan bahwa shaf yang rapat berarti memastikan teman di belakang mendapat tempat. Setiap aktivitas kolektif itu menumbuhkan kesadaran bahwa tindakan kita selalu berdampak pada orang lain.
Empati di pesantren juga terbentuk dari budaya saling mendoakan. Santri yang mendoakan temannya yang sedang sakit tanpa diminta. Yang mendoakan temannya yang sedang ujian meskipun dirinya sendiri juga ujian. Yang ikut bersedih saat temannya mendapat kabar buruk dari rumah. Respons emosional itu tidak diajarkan lewat buku teks tentang kecerdasan emosional. Tumbuh dari kebiasaan hidup di lingkungan yang mengajarkan bahwa perasaan orang lain sama pentingnya dengan perasaan sendiri.
Dampak empati yang terbentuk di pesantren terlihat sangat jelas di kehidupan dewasa. Alumni pesantren cenderung menjadi pendengar yang baik — karena terbiasa mendengarkan teman yang butuh didengar. Cenderung peka terhadap kebutuhan orang di sekitar — karena terbiasa hidup di lingkungan di mana kepekaan itu bukan pilihan tapi kebutuhan. Cenderung tidak menghakimi dengan cepat — karena pernah tinggal seatap dengan orang yang cerita hidupnya sangat berbeda dari cerita mereka sendiri.
Di Darunnajah 2 Cipining, kehidupan asrama yang mempertemukan santri dari berbagai latar belakang menjadi tempat di mana empati terbentuk secara alami. Budaya saling mendoakan, saling membantu, dan saling memperhatikan sudah menjadi bagian dari identitas kehidupan pesantren selama puluhan tahun.
Empati yang paling kuat memang bukan yang diajarkan dari buku. Tapi yang tumbuh dari pengalaman — dari melihat, merasakan, dan menjalani kehidupan bersama orang-orang yang ceritanya berbeda dari cerita kita sendiri.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.