Ada percakapan yang banyak orang tua hindari sampai sudah terlalu terlambat: pubertas. Padahal kalau anak laki-laki tidak mendapat penjelasan yang benar dari orang tuanya, dia akan mencari jawabannya sendiri — dan sumber yang dia temukan di luar belum tentu tepat, belum tentu benar, dan belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang kita tanamkan.
Kenapa banyak orang tua menghindari topik ini?
Karena canggung. Karena tidak tahu harus mulai dari mana. Karena merasa ini topik yang terlalu sensitif untuk dibicarakan dengan anak yang masih terlihat kecil.
Tapi kenyataannya, anak laki-laki sekarang mengalami pubertas lebih awal dari generasi sebelumnya. Ada yang sudah mulai merasakan perubahan di usia sembilan atau sepuluh tahun. Dan kalau kita menunggu sampai dia sendiri yang bertanya, mungkin dia sudah mendapat informasi dari sumber yang salah jauh sebelum itu.
Lebih baik anak mendengar dari orang tuanya dengan cara yang lembut dan benar, daripada mendengar dari teman sebaya yang sama bingungnya atau dari internet yang tidak punya filter.
Kapan waktu yang tepat untuk memulai?
Tidak ada usia yang pasti. Tapi ada tanda-tanda yang bisa dijadikan panduan. Saat anak mulai menunjukkan perubahan fisik — suara yang mulai berubah, tubuh yang mulai tumbuh lebih cepat, atau keringat yang mulai berbau berbeda — itu saat yang tepat untuk mulai bicara.
Jangan tunggu sampai dia bertanya. Karena banyak anak laki-laki yang justru tidak bertanya — bukan karena tidak penasaran, tapi karena malu. Dia merasakan perubahan di tubuhnya tapi tidak tahu apakah itu normal. Dan ketidaktahuan itu menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.
Mulai dengan kalimat yang membuka pintu: “Tubuh kamu sedang berubah. Itu normal. Semua laki-laki mengalami ini. Dan ada beberapa hal yang perlu kamu tahu supaya kamu tidak bingung.”
Kalimat itu tidak canggung kalau diucapkan dengan tenang dan natural. Yang membuat canggung biasanya bukan topiknya — tapi ketegangan kita sebagai orang tua yang belum terbiasa membicarakannya.
Bagaimana cara menjelaskan perubahan pubertas secara Islami?
Pertama: normalisasi perubahan sebagai bagian dari rencana Allah. Bilang pada anak: “Allah menciptakan tubuh kita dengan sangat sempurna. Dan di usia tertentu, tubuh kita berubah supaya kita bisa tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Perubahan itu sudah direncanakan Allah sejak kita diciptakan.”
Penjelasan ini memberi konteks spiritual yang membuat anak melihat pubertas bukan sebagai sesuatu yang aneh atau memalukan — tapi sebagai bagian dari rencana Pencipta.
Kedua: jelaskan perubahan fisik dengan bahasa yang jelas tapi sopan. Suara yang berubah. Rambut yang tumbuh di tempat baru. Tubuh yang mulai lebih berkeringat. Jerawat yang mungkin muncul. Semua itu perlu disebutkan — bukan untuk membuat anak malu, tapi supaya dia tahu bahwa semua itu normal dan dialami oleh setiap laki-laki.
Satu hal yang penting: jelaskan tentang mimpi basah. Banyak anak laki-laki yang sangat kaget dan merasa bersalah saat mengalami mimpi basah untuk pertama kali karena tidak ada yang pernah menjelaskan. Bilang dengan tenang: “Ini tanda bahwa tubuh kamu sudah mulai dewasa. Ini normal. Semua laki-laki mengalaminya. Dan dalam Islam, setelah ini kamu perlu mandi wajib sebelum sholat.”
Menghubungkan perubahan fisik dengan kewajiban ibadah memberi anak pemahaman bahwa pubertas bukan hanya soal tubuh — tapi juga soal tanggung jawab spiritual yang baru.
Ketiga: jelaskan tentang menjaga pandangan dan menjaga diri. Pubertas membawa dorongan baru yang sebelumnya tidak ada. Dan anak perlu tahu bahwa dorongan itu normal — tapi perlu dikelola.
Bilang: “Perasaan tertarik pada lawan jenis itu normal. Allah menciptakan perasaan itu. Tapi ada waktunya untuk semuanya. Sekarang bukan waktunya untuk menuruti perasaan itu. Sekarang waktunya untuk belajar, tumbuh, dan mempersiapkan diri.”
Jangan gunakan bahasa yang menakut-nakuti. “Kalau kamu lihat yang bukan mahram, dosa besar.” Bahasa seperti itu membuat anak takut pada tubuhnya sendiri. Yang lebih efektif adalah bahasa yang memberdayakan: “Kamu punya kendali atas dirimu sendiri. Menjaga pandangan itu tanda kekuatan, bukan kelemahan.”
Apa yang harus dihindari saat membicarakan pubertas dengan anak laki-laki?
Pertama: jangan mengabaikan topik ini dengan harapan anak akan tahu sendiri. Dia tidak akan tahu sendiri. Atau lebih buruk — dia akan tahu dari sumber yang salah.
Kedua: jangan menjadikan pubertas sebagai lelucon. Beberapa orang tua, karena canggung, menjadikan perubahan fisik anak sebagai bahan candaan. Suara yang pecah ditertawakan. Jerawat yang muncul dikomentari. Itu membuat anak malu dengan tubuhnya sendiri.
Ketiga: jangan hanya bicara sekali lalu selesai. Pubertas bukan satu percakapan. Ia serangkaian percakapan yang terjadi seiring perubahan anak. Di usia sepuluh mungkin cukup bicara tentang perubahan fisik. Di usia dua belas mungkin perlu bicara tentang menjaga pandangan. Di usia empat belas mungkin perlu bicara tentang hubungan lawan jenis.
Setiap tahap membutuhkan percakapan yang sesuai dengan perkembangan anak. Dan pintu untuk percakapan itu harus selalu terbuka — anak harus tahu bahwa dia bisa bertanya kapan saja tanpa merasa malu.
Lingkungan seperti apa yang mendukung pemahaman pubertas secara sehat?
Lingkungan di mana topik ini dibicarakan secara terbuka oleh orang dewasa yang dipercaya — bukan ditabukan. Di mana ada guru atau wali yang bisa menjadi tempat bertanya saat anak merasa canggung bicara dengan orang tuanya. Di mana pemahaman tentang tanggung jawab baru setelah pubertas — seperti mandi wajib dan menjaga diri — diajarkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ribuan anak laki-laki yang melewati masa pubertas di lingkungan yang mendukung menunjukkan pemahaman yang lebih sehat tentang tubuh mereka sendiri. Mereka tidak malu. Tidak bingung. Dan punya kerangka Islami untuk memahami dan mengelola perubahan yang terjadi.
Di Darunnajah 2 Cipining, pemahaman tentang pubertas diajarkan melalui pelajaran fiqh yang membahas taharah dan kewajiban yang muncul setelah baligh — termasuk mandi wajib, menjaga pandangan, dan tanggung jawab ibadah yang baru. Wali kamar yang tinggal di lingkungan santri juga hadir sebagai tempat bertanya yang aman bagi santri yang mengalami perubahan dan butuh panduan.
Kita di rumah bisa memulai dari satu percakapan yang tenang. Pilih momen yang rileks — saat jalan berdua atau sebelum tidur. Dan mulai dengan kalimat: “Ada hal penting yang mau ayah ceritakan tentang tubuh kamu.” Dari satu kalimat itu, pintu terbuka. Dan anak tahu bahwa dia punya tempat yang aman untuk bertanya.
Pubertas bukan musuh. Ia bagian dari perjalanan menjadi dewasa yang sudah direncanakan Allah. Dan anak yang memahaminya dengan benar akan melewatinya dengan tenang, bermartabat, dan tetap terhubung dengan nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak kecil. Buat yang ingin tahu lebih jauh soal lingkungan yang mendampingi anak melewati masa transisi dengan pendekatan Islami, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180.