Mendidik anak laki-laki di era sekarang terasa lebih kompleks dari sebelumnya. Di satu sisi, kita ingin mereka kuat dan tangguh. Di sisi lain, kita tidak ingin mereka keras dan tidak peka. Kita ingin mereka bertanggung jawab tapi tidak otoriter. Pemimpin tapi bukan penindas. Keseimbangan ini tidak mudah dicapai — tapi bukan tidak mungkin.
Apa tantangan khusus mendidik anak laki-laki?
Anak laki-laki tumbuh dalam budaya yang sering memberi pesan yang bertentangan. “Laki-laki tidak boleh menangis” di satu sisi, dan “laki-laki harus sensitif” di sisi lain. “Harus kuat” tapi “jangan kasar.” Pesan-pesan ini membingungkan, dan tanpa bimbingan yang jelas, anak laki-laki bisa kehilangan arah tentang seperti apa seharusnya ia menjadi.
Ditambah, di era digital, role model yang tersedia di media sering ekstrem — entah maskulinitas toksik yang agresif, atau gambaran laki-laki yang terlalu pasif. Anak laki-laki yang mencari identitas di antara dua ekstrem ini butuh bimbingan yang lebih nyata dari figur di sekitarnya.
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Pertama, ajarkan bahwa kekuatan sejati bukan soal fisik. Kekuatan adalah kemampuan menahan diri saat marah, keberanian untuk jujur saat berbohong lebih mudah, dan kesediaan untuk melindungi yang lebih lemah. Ini narasi yang perlu ditanamkan sejak dini — melalui cerita, melalui contoh, melalui pengalaman.
Kedua, beri tanggung jawab nyata. Anak laki-laki yang diberi tugas — menjaga adik, membantu pekerjaan rumah, mengelola uang saku — belajar bahwa menjadi laki-laki berarti menanggung, bukan menuntut. Tanggung jawab kecil yang konsisten membentuk karakter jauh lebih efektif dari ceramah tentang tanggung jawab.
Ketiga, izinkan anak laki-laki merasakan dan mengekspresikan emosi. Menangis bukan kelemahan. Takut bukan aib. Anak laki-laki yang diizinkan mengekspresikan emosinya tumbuh menjadi pria yang lebih sehat secara mental dan lebih mampu berempati.
Keempat, sediakan figur laki-laki yang positif. Ayah, paman, guru laki-laki, mentor — anak laki-laki butuh melihat contoh nyata bagaimana menjadi pria yang baik. Bukan yang sempurna, tapi yang berusaha dengan tulus. Kalau figur ini tidak tersedia di keluarga inti, carilah di lingkungan yang lebih luas.
Kelima, ajarkan bahwa melayani orang lain adalah bentuk maskulinitas tertinggi. Dalam Islam, pemimpin terbaik adalah yang paling banyak melayani. Ini konsep yang sangat kuat kalau ditanamkan sejak remaja.
Bagaimana lingkungan membentuk anak laki-laki?
Lingkungan sangat menentukan. Anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan di mana maskulinitas diukur dari kekuatan fisik dan dominasi akan menginternalisasi itu. Anak yang tumbuh di lingkungan di mana maskulinitas diukur dari tanggung jawab, pelayanan, dan keteguhan prinsip akan menginternalisasi yang berbeda.
Pesantren, dalam banyak hal, menawarkan model maskulinitas yang cukup seimbang. Santri laki-laki diajarkan untuk kuat secara fisik — lewat olahraga dan pencak silat — sekaligus lembut secara spiritual — lewat ibadah dan tadarus. Mereka dididik untuk memimpin — lewat organisasi santri — sekaligus melayani — lewat tradisi piket dan gotong royong. Tegas dalam prinsip tapi sopan dalam cara.
Figur-figur laki-laki positif juga tersedia — wali kamar, ustadz, dan kakak kelas yang menjadi panutan sehari-hari. Bagi anak laki-laki yang mungkin kurang mendapat figur ini di rumah, pesantren bisa mengisi kekosongan itu. Meskipun tentu kualitas figur-figur ini bervariasi dan pesantren terus berusaha meningkatkannya.
Apa yang perlu diingat?
Anak laki-laki yang bertanggung jawab tidak terbentuk dari satu momen heroik. Ia terbentuk dari ribuan momen kecil — setiap kali ia memilih jujur, setiap kali ia menahan diri, setiap kali ia membantu tanpa diminta, setiap kali ia bangkit setelah gagal.
Tugas kita bukan mencetak anak laki-laki yang sempurna. Tapi menyediakan lingkungan, contoh, dan kesempatan yang cukup untuk ia menemukan jalan menjadi pria yang bermartabat — dengan caranya sendiri.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menjadi tempat di mana ribuan anak laki-laki belajar menjadi pria yang bertanggung jawab — dari mengurus kebutuhan sendiri sampai memimpin organisasi. Prosesnya tidak selalu mulus, dan pesantren sendiri masih terus belajar menjadi lebih baik. Tapi fondasinya cukup kuat.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Laki-laki sejati bukan yang paling kuat di ruangan. Tapi yang paling pertama mengulurkan tangan ketika orang lain butuh bantuan.