Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dr. Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar mengunjungi Pesantren dan Universitas Darunnajah, Jumat (1/8).
Kunjungan ini dalam rangka pembukaan Muktamar Ke-V Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia dengan tema “Revitalisasi Peran Santri dalam Pembangunan Bangsa”.
Cak Imin disambut meriah oleh para santri dan diterima langsung oleh Pimpinan Pesantren Darunnajah K.H. Sofwan Manaf, M.Si., jajaran rektorat Universitas Darunnajah, serta wakil pengasuh cabang turut menyambut kedatangan.
“Saya sangat bangga karena acara ini memilih tempat yang tepat: Pondok Pesantren Darunnajah dan Universitas Darunnajah. Di mana kita tahu persis seluruh perjalanan, perjuangan para pendiri, para pimpinan, dan seluruh keluarga besar Darunnajah sampai hari ini bisa tumbuh berkembang menjadi kekuatan pendidikan nasional yang membanggakan,” ujar Cak Imin dalam sambutannya.
“Darunnajah tumbuh sesuai dengan tantangan dan perkembangan zaman. Darunnajah bisa menjadi teladan dan contoh pesantren transformatif yang memiliki kemampuan memodernisasi diri, tetapi tetap kuat dengan akar budaya tradisinya,” kata Cak Imin.
Ia menekankan semangat Darunnajah dalam mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi inspirasi pesantren lain.
Cak Imin menyoroti tantangan global yang dihadapi pesantren di era disrupsi teknologi. Menurutnya, kondisi dunia yang diwarnai peperangan dan persaingan dagang tidak adil menuntut pesantren menjadi kekuatan yang terus berkembang. “Tinggal satu saja: pesantren-pesantren belum memiliki daya saing,” ujarnya.
Menko Muhaimin Iskandar optimis BEM Pesantren mampu mendorong kemajuan universitas pesantren.
“BEM Pesantren seluruh Indonesia punya peluang mendorong universitas dan kekuatan-kekuatan pesantren bisa mengejar dan lebih unggul daripada Universitas Indonesia,” katanya.
Ia menyebut peringkat UI yang baru di level 189 dunia sebagai peluang pesantren untuk berkembang.
Muktamar yang berlangsung 31 Juli hingga 3 Agustus 2025 dihadiri Komisaris Independen Bank BRI Lukmanul Khakim dan Presedium Nasional BEM Pesantren Indonesia Muhammad Naqib Abdullah.
Kegiatan meliputi tiga seminar utama, sidang pleno, dan akan ditutup Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad.
“Di tangan kalian adalah masa depan umat. Saatnya Indonesia menjadi subjek bagi peradaban dunia, bukan objek,” tegas Cak Imin.
Ia berharap pesantren-pesantren Indonesia menjadi tulang punggung peradaban Islam dan mewujudkan Indonesia sebagai negara yang menentukan, bukan ditentukan negara lain.




