
Saya Wafiq Aulia awali sedikit berbagi pengalaman ini dengan salam ilahi Robbi
Assalamu’alaikum wr.wb.
Salam sapa untuk sahabat pembaca!
Alhamdulillah…
Beasiswa Depag, menjadi jembatan yang menyebrangi saya sampai ke negara Lebanon.
Tak pernah terpikir oleh saya bisa melanjutkan kuliah disini. Karna kesempatan belum tentu bisa datang dua kali, maka saya coba!.
Ahad, 30 Oktober 2016 menjadi sejarah berpijaknya kaki ini di Lebanon, tepatnya dibandara Rafiq Hariri Beirut. Suasana baru udara akhir musim panas menjadi awal perkenalan saya dengan negara ini, little Paris.
Lebanon dengan kebiasaan penduduk, beragam agama, bahasa Prancis dan bangunan khas Eropanya sering juga disebut Paris Timur Tengah. Menjadi warna tersendiri jika dibandingkan dengan negara Timur Tengah lainnya.

Halba kota kecil bagian Utara Lebanon menjadi saksi aktifitas harian saya, dipekarangan kebun zaitun dan deretan rumah warga tepatnya. Beirut Islamic University, biasa juga disebut Jami’ah Daar El-Fatwa. Ya, Universitas dimana saya sekarang mengenyam pendidikan.
Empat hari dalam seminggu waktu untuk masuk jam kuliah. Dosen-dosen yang MasyaAllah kelimuannya, teman-teman dari berbagai negara mendorong saya semakin semangat dalam menimba ilmu di fakultas syari’ah.

Masyarakat tergolong ramah menjadi tambahan nilai plus yang bisa saya ambil. Misal, ketika mau berpisah dengan teman lebanon biasanya mereka mengucapkan dalam bahasa arab ‘ammiyyah ” Baddak Syai abl an aruh? ” (kamu mau sesuatu sebelum saya pergi). Sama dengan Indonesia masyarakat lebanon ketika melihat orang asing tentu agak merasa heran, biasanya mereka bertanya “Wein Syugl?” (Kerja dimana?) karna banyak orang asing pergi ke Lebanon untuk kerja, salahsatunya orang Bangladesh.

Merasakan empat musim tentu tidak terbayang sebelumnya bagaimana musim panas, gugur, dingin dan semi. Panasnya lebih panas dari Indonesia, dingin pun lebih dingin dari hujan deras bahkan sampai -0°c (kurang dari 0 derajat). Kaki bengkak, bibir pecah-pecah tentu menjadi teman dalam silih bergantinya musim.
Salju salah satu hal yang menarik disini, beda dengan negara arab lainnya yang terkenal dengan gurun, badai pasir, panas terik yang lumrah bagi hal layak kebanyakan orang.

Makanan tidak jauh dari roti, keju, zaitun, biji-bijian dan daging. Berbagai macam minuman pada waktu tertentu. misal minuman soda sehabis makan, teh dan kopi ketika kumpul-kumpul. Lebanon bisa dibilang pecinta kopi pahit, karna pejual kopi dapat dijumpai disetiap jalan di Lebanon.
Masyarakat yang tergolong konsumen menjadikan biaya hidup mahal, mata uang Lebanon sendiri yaitu Lebanon Pound (LBP) atau Lebanon Lira (LL). Karna banyaknya turis yang singgah, maka transaksi jual beli pun menggunakan Dolar.
Pembaca yang budiman!
Tentunya masih banyak suka duka saya disini. InsyaAllah kapan-kapan bisa saling berbagi pengalaman, kalau saya paparkan semua bosen nantinya hehe
Show Must Go On!
See you next time..
Wassalamu’alaikum wr.wb
(WARDAN/Shohwa)