Menu

Biografi Maulana Malik Ibrahim (1404-1419 M)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Maulana Malik Ibrahim rah.a putra dari Syekh Jumadil Kubra (Maulana Akbar)[1]. Pada umumnya, silsilah Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk keturunan Rasulullah SAW, Meskipun masih terjadi perbedaan pendapat tentang urutan nama-nama garis silsilah keturunannya.

 

Nama lain dari Maulana Malik Ibrahim adalah Kakek Bantal, Sunan Tandhes, Sunan Raja Wali, Wali Quthub, Mursyidul Auliya’ Wali Sanga, Sayyidul Auliya’ Wali Sanga, Maulana Maghribi, Syekh Maghribi, Sunan Maghribi, atau Sunan Gribig[2].

 

Masa kedatangan Maulana Malik Ibrahim ke tanah Jawa tahun 1404 M bertepatan dengan masa kepemimpinan Khilafah Turki Utsmani, yaitu Sultan Muhammad I (1379-1421 M), putra Sultan Bayazid I. Dalam masa Sultan Bayazid I, di daerah Timur Tengah telah terjadi berbagai pertempuran. Selain Daulah Utsmani harus berhadapan dengan Salibis Eropa sebagai kelanjutan perang salib, juga serangan dari Timur Lenk yang menguasai Persia, termasuk Samarkand dan Uzbekistan.

 

Maka ditugaskan oleh Sultan Muhammad I, Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa berangkat langsung dari Turki[3]. Beliau adalah seorang ahli irigasi dan tata negara. Beliau pernah ditugaskan ke Hindustan untuk membangun irigasi di daerah itu pada pemerintahan kerajaan Moghul. Sedangkan bangsa Moghul dan Turki adalah satu rumpun yang pada waktu itu sama-sama menjadi penguasa muslim yang terkenal. Tidak mengherankan jika Syekh Maulana Malik Ibrahim kemudian dikirim kejawa oleh Sultan Muhammad I, karena tidak diragukan kemampuan dan dedikasinya kepada negara dan pengembangan Islam[4].

 

Di dalam Dokumen Kropak Ferrara disebut-sebut nama Syekh Ibrahim yang disegani ajaran dan fatwanya serta menjadi panutan para wali sesepuh, termasuk Raden Rahmat (Sunan Ampel). Kiranya Maulana Malik Ibrahim inilah yang dimaksud dengan Syekh Ibrahim tersebut[5].

 

Menurut Walisana versi R. Tanoja bahwa Maulana Malik Ibrahim itulah muIa-mula tetalering waliullah, yaitu nenek moyang pertama bagi wali-wali[6]. Beliau datang ke Sembalo (Gresik)[7] pertama kali pada tahun 1404 M dan wafat pada 10 April 1419 M. Dengan demikian, beliau hidup di Jawa selama 15 tahun. Maulana Malik Ibrahim lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek Bantal[8].

 

Maulana Malik Ibrahim memiliki tiga istri, yaitu:

 

  • Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana lsrail (Raja Champa Dinasti Azmatkhan). Darinya memiliki dua putra yaitu Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah. Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha[9] dan melahirkan dua putra, yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)[10].
  • Siti Maryam binti Syekh Subakir. Darinya memiliki 4 putra, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad.
  • Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, Darinya memiliki 2 anak, yaitu Abbas dan Yusuf.

 

Setelah menggelorakan dakwah Islam di Jawa bagian timur, pada tahun 1419 M, Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya pun terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik Jawa Timur. Pada batu nisan makam Syekh Maulana Malik lbrahim di kampung Gapura, Gresik Jawa Timur[11] terdapat tulisan beberapa ayat Al-Qur’an, yaitu Surat Ali Imran: 185, Ar-Rahman 16-27, At-Taubah 21-22, dan ayat Kursi[12]. Selain itu juga tertulis sebuah kalimat dengan huruf dan bahasa Arab.

 

Inilah makam aI-marhum aI-maghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi para sultan dan para menteri, dan penolong para fakir miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat-Nya dan keridhaan-Nya, dan dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Telah wafat pada hari Senin, 12 Rabi’uI AwwaI tahun 822 H.”[13]

 

Berdasarkan model nisan yang ada pada makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, menunjukkan model yang serupa pada makam Sultan Malikus Saleh di Samudera Pasai. Keduanya, menurut sejarawan Moquette, adalah hasil “fabriekswerk” mengacu pada model yang disediakan lebih dahulu oleh pengusahanya yang berada di Campabay.[14]

 

Moquette telah melakukan penelitian dengan membandingkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an maupun kalimat-kalimat dalam bahasa Arab lainnya antara salah satu batu nisan di Cambay (Gujarat India) dengan batu nisan pada Sultan Malikus Saleh maupun batu nisan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Hasilnya menunjukkan benar-benar serupa[15].

 

Apa yang tertulis pada batu nisan Maulana Malik Ibrahim tersebut adalah bukti nyata sejarah yang dapat memberi banyak keterangan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

 

  1. Sebagaimana yang telah diteliti Moquette, menunjukkan bahwa model nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim adalah serupa dengan nisan batu pada makam Sultan Malikus Saleh di Pasai. Ini menunjukkan eratnya hubungan antara Maulana Malik Ibrahim dengan kekuasaan politik Islam di Pasai. Sekaligus hubungan antara Pasai dengan Campabay, Gujarat India dalam perdagangan dan pelayaran[16].
  2. Kehadiran Maulana Malik Ibrahim tidak menimbulkan konflik dengan penguasa maupun masyarakat. Bahkan disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim dinyatakan sebagai kebanggaan para pangeran, sendi para sultan dan para menteri, penolong para fakir dan miskin, serta membuat negara menjadi cemerlang[17].
  3. Meskipun mungkin pembuatan nisan dilakukan beberapa tahun setelahnya, namun nama yang tertulis di atas batu nisan adalah Maulana Malik Ibrahim. Tidak ada istilah syekh maupun sunan yang tercantum dalam tulisan pada batu nisan tersebut. Sebagai perintis awal bagi pesatnya perkembangan Islam di Jawa awal abad 15 M, Maulana Malik Ibrahim lebih layak disebut sebagai sunan atau bahkan sunannya para sunan. Akan tetapi tidak ada istilah sunan yang tertera pada batu nisan makam beliau. Ini menguatkan tesis Prof. Buya Hamka bahwa istilah sunan diciptakan setelah masa wafatnya para wali di Jawa yang tergabung dalam Wali Songo.

 

Adapun istilah syekh yang dinisbatkan kepada Maulana Malik Ibrahim, telah terdapat dalam dokumen Kropak Ferrara dengan sebutan Syekh lbrahim rah.a, isinya tentang wejangan beliau.

Foot Note:

[1] Lihat: Sejarah Lengkap Wali Sanga: Masa kecil, Dewasa, Hingga Akhir Hayatnya, Masykur Arif. Penerbit Diva, Yogyakarta 2013, hal. 16. Disebutkan bahwa ada pendapat yang menyatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang sama dengan Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari kota Samarkand (As-Samarkandi), salah satu daerah di Uzbekistan. Pendapat ini dibantah oleh para peziarah yang pernah ke makam para Wali. Oleh karena makam Syekh Maulana Malik Ibrahim berada di Gresik sedangkan makam Syekh lbrahim Asmarakandi berada di Tuban.

[2] Ibid, Sejarah Lengkap Wali Sanga: Masa kecil, Dewasa, Hingga Akhir Hayatnya, hal 15. Menurut penulis, sebutan Malik Ibrahim dengan Maghribi berikut gelarnya seperti Maulana, Sunan, dan sebutan singkat menurut lisan Jawa (Gribig) perlu dipertanyakan. Jika alasannya bahwa Malik Ibrahim berasal dari Maghrib, yaitu Maroko di ujung Afrika utara sebelah selatan, maka semakin menimbulkan kerancuan. Berasal dari manakah Maulana Malik lbrahim? Apakah dari Samarkand, kota megah di Uzbekistan ataukah Maghrib, Maroko di ujung barat laut Afrika? Wallahu A’lam bish-Shawwab

[3] Ini disebutkan oleh Prof. Hasanu Simon. Telah terjadi perbedaan pendapat tentang masalah ini. Menurut sumber lain, seperti Kitab Walisana versi Tanojo menyebutkan bahwa Syekh Maulana Malik lbrahim berasal dari Arab (Timur Tengah). Ada juga yang menyatakan beliau dari Persia. Versi lain menyebutkan beliau dari Gujarat, India. (Drs. Nur Amin Fattah.1997. Metode Dakwah Walisongo, hal. 28) Jika persoalannya adalah masalah kedatangan ke Jawa-bukan tempat lahir, maka dapat disatukan bahwa jalur pelayaran dan perdagangan dari Turki ke Jawa memang dapat ditempuh melalui jalur darat dan laut, yaitu Turki-Syam-lraq-Persia-Gujarat (India), lalu ke Sumatera dan singgah di Jawa

[4] Op.Cit., Misteri Syekh Siti Jenar, hal. 165

[5] Ibid, Misteri Syekh Siti Jenar, hal. 165

[6] Keterangan yang hanya menyebut dari Arab ini kurang akurat. Selain juga berbeda dengan sumber yang menyatakan asal Malik Ibrahim dari Samarkand maupun Maghribi. Meskipun As-Samarkandi lebih kuat daripada Maghribi, Maroko. Mungkin yang dimaksud Arab adalah Timur Tengah, bukan negara Arab Saudi yang saat itu belum berdiri.

[7] Desa Sembalo sekarang adalah daerah Desa Leran kecamatan Manyar, 9 km arah utara kota Gresik. Sejak abad ke-11, di daerah Leran Gresik ini telah berdiri kekuasaan politik Islam yang dibangun oleh Fatimah Hibatoellah binti Maimun sebelum berdirinya Kerajaan majapahit di Trowulan pada 1294 M. Sebagai bukti adalah keberadaan nisan yang menyebutkan tarikh wafatnya pada Rajab 475 H atau Desember 1082 M. Op.Cit., Api Sejarah 1, hal. 155

[8] Lihat: Solichin Salam, Seputar Wali Sanga. Kudus: Menara Kudus, 1960 M.hal 24; Op.Cit., Kisah Perjuangan Walisongo, hal. 5-6 & 9; Op.Cit., Metode Dakwa Walisongo, hal. 28

[9] Disebut juga Ali Murtalo, Ali Musada, Sunan Santri, atau Raden Santri

[10] Lihat: http://id.wikipedia.com/walisongo. Update: 7 Syawal 1434 H/14 Agustus 2013 M

[11] Makam beliau terletak 1 km dari utara Pabrik Semen Gresik. Op.Cit., Kisah Perjuangan Walisongo, hal. 9. Jalan menuju makam beliau dinamakan Jl. Malik Ibrahim. Op.Cit., Seputar Wali Sanga, hal. 25.

[12] Op.Cit., Misteri Syekh Siti Jenar, hal. 168

[13] Lihat: MB. Rahimsyah. AR, Kisah Perjuangan Walisongo, Suroboyo: Dua Media, hal.9; Misteri Syekh Siti Jenar, hal.168

[14] Muhammad Said, Aceh Sepanjang Abad, hal. 92.

[15] Ibid, Aceh Sepanjang Abad, hal. 93

[16] Berdasarkan analisis bentuk makam dan jenis batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim, Prof. Dr. Hasanu Simon menduga bahwa Maulana Malik Ibrahim membawa adat orang Turki dalam membuat makam. Menurutnya pula, anak-anak Maulana Malik Ibrahim tentunya yang mengurus pemakaman yang setelah wafat juga dimakamkan di tempat yang sama

[17] Op.Cit., Misteri Syekh Siti Jenar, hal. 169

[WARDAN/DR]

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Informasi Perubahan Kalender Pendidikan Tahun 2019-2020 Kelas 3 TMI Darunnajah Jakarta

Perihal  : Informasi Perubahan Kalender Pendidikan  Tahun 2019/2020                                  31 Maret 2020                                                                 Yang terhormat, Bapak/Ibu Orang Tua Santri Kelas III