Biografi KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. Mengenang Wafatnya Beliau Biografi KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. Mengenang Wafatnya Beliau

Biografi KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. Mengenang Wafatnya Beliau, 27 Oktober 2026 M

Biografi KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. Mengenang Wafatnya Beliau

Sang Kiai, Pengasuh Santri, Guru Pendidik dan Pejuang Pesantren Nan Sarat Inspirasi & Motivasi
A. Kelahiran, Asal-Muasal dan Keluarga
KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 21 Agustus 1949. Beliau merupakan putra dari H. Abdul Jalal bin Syafi’i dan Hj. Sariati binti Tamyis. Beliau memiliki empat adik kandung: Ustadz H. Drs. Junaedi Abdul Jalal, Bapak Sa’roni Abdul Jalal, Bapak Nuryasin Abdul Jalal, S.H., M.Kn., dan Ustadzah Umayah. Adapun istri beliau adalah Nyai Hj. Rahmah Manaf Mukhayyar (salah seorang putri Muassis/Pendiri dan Wakif Pesantren Darunnajah, KH. Abdul Manaf Mukhayyar).

Ibu Nyai Rahmah adalah anak keenam dari KH. Abdul Manaf Mukhayyar dan Hj. Tsurayya. Berikut nama kakak dan adiknya secara berurutan: Hj. Suniyati Manaf, KH. Saifuddin Arief, S.H., M.H., Hj. Zainuyah, S.Pd,I., H. Noor Badri, B.B.A., Hj. Muslihati Manaf, Hj. Siti Rahmah, H. Nasrullah Manaf, S.H., M.Si., drg. Munifah, Assoc. Prof. Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si.,

KH. Jamhari Abdul Jalal menikah dengan Nyai Hj. Rahmah Manaf Mukhayyar, berlangsung pada Kamis, 21 Ramadhan 1401 H/ 23 Juli 1981, pukul 17.20 wib di Jakarta Selatan. Sebagaimana termaktub dalam Akta Nikah No. 508/71/VII/1981 seri FL ditandatangani Pegawai Pencatat Nikah KUA Kebayoran Lama, H. Moh. Sadeli.

Dari pernikahan penuh keberkahan tersebut lahir enam putra-putri:

  1. Ridha Makky, M.Pd.I. menikah dengan Halimah, S.Pd.I., Al-Hafidzah. Anak-anak: Muhammad Raja, Sima Salimah, Nismah Hasinah, Ibrohim Rosyad dan Khodijah.
  2. Assoc. Prof. Dr. H. Musthofa Zahir, S.Pd.I., Lc., M.A. menikah dengan Nailil Muna Sholihah, S.H.I., M.Si. Anak-anak: Abdullah Muqimus Shalah, Abidah Muharrarah Aqilah dan Muhammad Abdullah Al Muharrar.
  3. H. Fathi Mubarok, Lc., M.Pd menikah dengan Minahul Fikriah, M.H., Al-Hafidzah. Anak: Fauzan Abdurrahman Alhafiy, Faristha Ailatu Thoyiyibah dan Aaminah Rasheedah.
  4. Muna Maulida, B.A., M.Sc., menikah dengan H. Muhammad Fauzan, Lc., M.A..
  5. Shofa, B.S., M.Si.
  6. Burhanu Rabby, S.Pd.

Dalam kisah yang beliau sampaikan sendiri kepada para santri, nama “Jamhari” ternyata memiliki cerita yang sangat menarik.
Ayah beliau, H. Abdul Jalal, memberi nama anak laki-laki pertamanya “Jamhari” karena terinspirasi oleh nama seorang kiai yang masyhur di daerah Kendal Jawa Tengah. Ayah beliau sangat kagum dan simpati kepada kiai tersebut. Harapannya, anaknya kelak dapat memiliki karakter seperti sang kiai.

Beliau kemudian menuturkan bahwa ketika memasuki dunia pesantren, ternyata banyak orang yang bernama Jamhari. Di pesantren Semarang ada Jamhari, di Gontor pun ada beberapa Jamhari. Agar tidak rancu, nama beliau kemudian ditambahkan dengan nama ayahnya sehingga menjadi Jamhari Abdul Jalal.
Demikianlah sunnah penamaan dengan menyebut nama ayah dan seterusnya, sebagaimana misal ideal: Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Muroh bin Ka’ab bin Luaiy bin Ghalib bin Fihr bin Ilyas bin Annadzr bin Kinanah bin Mudrikah bin Khuzaeman bin Malik bin Mudhar bin Nazar bin Ma’ad bin ‘Adnan.

Sejak kecil, Jamhari dikenal sebagai anak yang rajin dan bersemangat belajar. Pada masa itu, untuk tiga desa—Parakan Subaran, Getas Blawong dan Pageruyung—hanya terdapat satu Sekolah Rakyat dengan jumlah murid sekitar 20 orang. Jamhari termasuk anak yang menonjol dalam semangat belajarnya. Salah seorang kawan karib SR-nya adalah yang sekarang memimpin Pesantren Darul Amanah Sukorejo Kendal, KH. Mas’ud Abdul Qadir.

Menariknya, sejak usia muda pula sudah terlihat bakat dakwah dan kewibawaan beliau. Ketika masih mondok di Mangkang, pada masa liburan beliau pernah mengadakan pengajian qiraah Al-Qur’an di kampung dan menjadi qari dalam acara masyarakat. Setelah tamat dari Gontor, ketika masih berusia sekitar 20-an tahun, beliau bahkan sudah mulai diminta mengisi pengajian/tabligh akbar.

Benih seorang kiai ternyata sudah tumbuh sejak usia muda: cinta ilmu, dekat dengan masyarakat, pandai berkomunikasi dan memiliki daya tarik kepemimpinan. Jika biasanya dalam pengajian Maulidur Rasul dibacakan Kitab Barzanzi dan sebagainya maka beliau terjemahkan sehingga masyarakat mendapat pencerahan.

B. Background Pendidikan
Perjalanan pendidikan KH. Jamhari Abdul Jalal menunjukkan satu karakter penting: beliau adalah produk perpaduan pendidikan umum, pesantren salaf dan pesantren modern.

  1. Sekolah Rakyat (SR) — tamat tahun 1962.
  2. Madrasah Diniyah, yang diikuti pada sore hari.
  3. Sekolah Menengah Kanisius Sukorejo, Kendal. Alasannya waktu itu belum ada sekolah SLTP lainnya dan sekolah ini dinilai bagus manajemen dan mutu pendidikannya.
  4. Pondok Pesantren Luhur Mangkang Dondong, Semarang.
  5. Pondok Pesantren Kaliwungu dalam sistem pasaran.
  6. Pondok Pesantren Krayapan Kendal dalam sistem pasaran.
  7. Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, masuk tahun 1966. Beliau termasuk alumni angkatan Abu Sittin.
  8. Fakultas Tarbiyah Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor, tahun 1977.
  9. Fakultas Syari’ah Universitas Ummul Qura, Makkah Al-Mukarramah.
  10. Daurah Internasional Para Imam dan Dai Universitas Al-Azhar Mesir, tahun 2002.

C. Kiprah sebagai Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining
Inilah bagian terbesar dari sejarah pengabdian dan perjuangan beliau. Pesantren Darunnajah 2 Cipining dan KH. Jamhari Abdul Jalal adalah dua nama yang dalam perjalanan sejarahnya hampir tidak dapat dipisahkan.

Pesantren Darunnajah 2 Cipining resmi berdiri pada 18 Juli 1988 di Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Pada saat peresmian, KH. Abdul Manaf Mukhayyar—pendiri Darunnajah—memberikan mandat kepada KH. Jamhari Abdul Jalal untuk memimpin pesantren baru tersebut.

Pada tahun pertama, 1988–1989, Pesantren Darunnajah 2 Cipining mendidik sekitar 200 santri, semuanya laki-laki dan berasrama. Sebanyak 196 santri awalnya mendaftar ke Darunnajah Ulujami tetapi tidak tertampung, kemudian diarahkan ke Cipining. 4 santri berasal dari Cipining dan sekitarnya Saat itu hanya ada 18 orang guru, termasuk KH. Jamhari. Catatan menarik, sebenarnya para santri tersebut pada tahun kedua dipersilahkan untuk kembali ke Darunnajah 1 Ulujami Jakarta Selatan, namun mereka semuanya tetap betah serta memilih meneruskan pendidikannya di Darunnajah 2 Cipining.

Bayangkan titik awalnya. Hari ini orang melihat kampus, masjid, asrama, sekolah, unit usaha, ribuan santri dan alumni yang tersebar ke berbagai penjuru. Tetapi dahulu yang ada adalah lahan yang masih sederhana, fasilitas terbatas dan sebuah amanah besar. Di situlah perjuangan KH. Jamhari dimulai.

Kesaksian para guru dan santri generasi awal menggambarkan betapa berat kondisi awal tersebut. Ketika dikirim ke Cipining, kawasan itu masih berupa hutan. Namun KH. Jamhari tetap datang dan menjalankan amanah.

Dari hutan menjadi pesantren Di bawah kepemimpinan beliau, Cipining berkembang secara bertahap. Program pendidikan berkembang dari TMI, MI, MD, TPQ, MTs, MA, SMP, SMK, Tahfizul Qur’an, Santri Cilik dan berbagai program lainnya. Pembangunan sarana dan prasarana juga terus bergerak. Dalam sambutan KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., waktu itu sebagai Ketua Umum Yayasan Darunnajah yang termakstub dalam buku Sabilun Najihin, Senarai Inspirasi & Motivasi Sang Kiai Jalan Sukses Pendidikan Islami bahkan menggambarkan Darunnajah Cipining sebagai “master piece” beliau—membaca perjalanan Cipining berarti secara tidak langsung membaca perjuangan Kiai Jamhari.

D. Kiprah sebagai Ketua Dewan Nazir Yayasan Darunnajah
Selain memimpin Darunnajah 2 Cipining, KH. Jamhari Abdul Jalal juga mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Nazir Yayasan Darunnajah, sejak 1994 hingga sekarang. Dalam posisi ini, orientasi beliau tidak lagi hanya berbicara tentang satu pesantren, tetapi tentang amanah wakaf, keberlangsungan lembaga dan pengembangan jaringan pendidikan Darunnajah.

Dalam sambutan sebagai Ketua Dewan Nazir pada tasyakuran 54 tahun Darunnajah, beliau menekankan bahwa tanah wakaf yang diterima Yayasan Darunnajah adalah amanat yang harus dipertanggungjawabkan terus-menerus hingga menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan Islam. Beliau juga mengingatkan bahwa perjuangan tersebut tidak boleh berhenti pada satu generasi.

Bukan sekadar menjaga aset, tetapi menghidupkan amanah. Salah satu contoh kiprah beliau sebagai Ketua Dewan Nazir adalah ketika menghadiri deklarasi pendirian pesantren di Palangka Raya pada 2 April 2011. Beliau tidak berhenti pada dukungan moral. Kepada pihak Palangka Raya, beliau menawarkan konsep kaderisasi: anak-anak daerah terbaik dikirim untuk dibina di Yayasan Darunnajah, kemudian setelah selesai kembali untuk mendukung pesantren di daerahnya.

Bagi beliau, pesantren bukan hanya tempat pendidikan. Pesantren adalah basis kekuatan umat, pusat kaderisasi dan instrumen kebangkitan masyarakat. Karena itu beliau pernah menegaskan bahwa pesantren perlu berdiri di banyak tempat agar Indonesia memiliki generasi yang memiliki keseimbangan antara ilmu dan akhlak.

E. Karakter dan Kelebihan
Jika seluruh kesaksian guru, santri, alumni, tokoh masyarakat yang tercantum dalam beberapa buku biografi dan atau buletin pesantren Darunnajah dirangkum, maka terdapat sejumlah karakter kuat KH. Jamhari Abdul Jalal.

  1. Tangguh. Ustadz Abdul Rasyid Shaleh menyebut beliau sebagai sosok yang tangguh hatinya, fisiknya dan disiplinnya.
  2. Disiplin. Beliau bukan hanya berbicara tentang disiplin, tetapi memberi teladan langsung. Bahkan ketika masih terdapat mushala kecil di kampus, beliau ikut mengontrol kedisiplinan ibadah guru.
  3. Tawadhu’ dan sederhana. Banyak kesaksian menggambarkan beliau sebagai pribadi yang low profile, santun, tenang dan sederhana.
  4. Dekat dengan guru, santri dan masyarakat. Beliau dikenal mudah berinteraksi dan terbuka terhadap ide serta gagasan. KH. Mas’ud Abdul Qodir menyebut keterbukaan tersebut membuat komunikasi dengan guru dan santri berjalan baik.
  5. Visioner dan adaptif. Beliau mampu memadukan nilai kepesantrenan dengan tuntutan zaman. Karena itu beberapa tokoh menilai beliau sebagai sosok yang visioner, mampu membaca perkembangan zaman dan berpikir jauh ke depan.
  6. Lihai berdiplomasi. Kesaksian orang-orang dekat beliau menunjukkan kemampuan diplomasi dan membangun jejaring yang kuat, termasuk dengan masyarakat, tokoh agama, pemerintah dan berbagai kalangan.
  7. Peka terhadap persoalan. Dalam penilaian buku Sabilun Najihin, beliau memiliki sense of crisis, naluri yang peka, mampu menentukan prioritas, gigih mencari solusi, berani mengambil risiko dan mau melakukan introspeksi.
  8. Ghirah ibadah tinggi. Ada kesaksian yang menggambarkan beliau hampir setiap hari memimpin salat lima waktu, mengajar Tafsir selepas Subuh, mengontrol kandang ayam, mengecek dapur santri, bahkan berkeliling pondok malam hari dengan membawa senter.
    Inilah salah satu rahasia kepemimpinan beliau: memimpin dengan langsung hadir di tengah kehidupan pesantren.

F. Hal-Hal yang Wajib Diteladani Santri, Guru dan Alumni
Dari sosok beliau, setidaknya ada 10 keteladanan utama.

  1. Jangan mengeluh. Ini salah satu pesan yang paling sering beliau sampaikan. Ketika menghadapi masalah, jangan berhenti pada keluhan. Terus cari solusi dan optimalkan ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Menurut beliau, semakin kuat ikhtiar batin, semakin ringan ikhtiar lahir.
  2. Seimbangkan tawakkal dan ikhtiar Bukan memilih antara doa atau usaha. Berdoa tanpa berusaha adalah kelemahan. Berusaha tanpa berdoa adalah kesombongan.
  3. Disiplin dimulai dari diri sendiri. Beliau sangat menekankan disiplin sebagai kunci kemajuan: “Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan. Tidak ada kedisiplinan tanpa keteladanan.”
  4. Hidup mandiri. Ini sangat relevan bagi guru maupun alumni: berkhidmah tanpa kehilangan kemandirian.
  5. Jangan pernah puas dengan ilmu. Kepada alumni yang hendak melanjutkan studi ke luar negeri, pesan beliau sangat jelas: “Jaga nama baik, keluarga dan pesantren. Jangan pernah puas dengan apa yang kita dapati, selalu terus belajar dan kembangkan diri!”
  6. Berani bergerak. Beliau adalah contoh bahwa gagasan tidak cukup disimpan di kepala. Gagasan harus diterjemahkan menjadi gerakan.
  7. Terbuka terhadap gagasan. Beliau terbiasa bermusyawarah dan meminta pendapat guru sebelum mengambil sejumlah kebijakan penting.
  8. Menjadi teladan sebelum menjadi pengarah Keteladanan lebih kuat daripada instruksi.
  9. Menjaga nama baik. Nama baik diri, keluarga, almamater dan pesantren merupakan amanah yang harus dibawa sampai kapan pun.
  10. Mengabdi dengan ikhlas. Pada akhirnya, seluruh perjuangan pesantren kembali kepada satu ruh: keikhlasan.
    Sebagaimana kesaksian, KH. Hadiyanto Arif, beliau adalah sosok yang bekerja tekun dengan keikhlasan dan kebersahajaan dalam perjuangan li ‘izzatil Islam wal muslimin.

G. Beberapa Kesan dan Testimoni

  1. KH. Mas’ud Abdul Qodir (Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah Ngadiwarno Sukorejo Kendal):

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pertama marilah kita bersama-sama mengucapkan rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah. Karena berkat nikmat, karunia, serta izin-Nya juga kita dapat berkumpul di tempat ini dengan keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Selain itu, marilah juga kita sampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

KH. Jamhari Abdul Jalal juga merupakan sosok pemimpin yang terbuka dan mudah bersosialisasi dengan santri dan guru-gurunya. Sosok keterbukaan inilah yang membuat aspires, ide dan gagasan dari siapapun beliau terima, sehingga komunikasi bisa berjalan dengan baik.

Beliau merupakan alumni pesantren salaf dan modern. Saya dan beliau sama-sama belajar di Pesantren Dondong Mangkang dan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dua Hal ini menjadikan KH. Jamhari Abdul Jalal mempunyai sifat tawadu’, tenang dan zuhud. beliau juga sosok Kiai yang visioner yang mampu berfikir sesuai perkembangan zaman.

KH. Jamhari Abdul Jalal adalah salah satu Ulama yang mewakafkan diri, tidak hanya untuk kemajuan Agama Islam saja, tetapi juga untuk kamajuan masyarakat, bangsa dan negara. Melalui Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, beliau sukses mencetak Sumber Daya Manusia yang handal, tidak hanya mempunyai aqlakhul karimah, tetapi juga berpengetahuan luas dan berkualitas. Hal ini tentu tidak lepas dari kepemimpinan KH. Jamhari Abdul Jalal. Konsep pemikiran beliau dalam mengelola Ponpes ini memang sangat bagus dan bisa rujukan pengembangan Ponpes di Jawa Barat.

Beliau mempunyai Strategi Pengembangan Ponpes, yaitu menerapkan Panca Jiwa dan Panca Jangka Pesantren. Panca jiwa yang diterapkan di Ponpes Darunnajah 2 Cipining, yang pertama adalah jiwa keikhlasan. Keikhlasan adalah ruh utama dalam perjuangan, tanpanya akan sia-sia semua yang diusahakan manusia.

Kemudian jiwa kesederhanaan yang mengandung nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Panca jiwa berikutnya adalah jiwa berdikari. Lalu pola jiwa ukhuwah diniyah/islamiyah. Prinsip ini bertujuan menjalin hubungan sesama manusia yang berasaskan kepada prinsip dari ajaran Islam yang damai dan toleran.
Terakhir pola jiwa bebas. Jiwa ini terkait dengan kemandirian, karena dengan memiliki jiwa mandiri seseorang dapat bebas menentukan pilihannya. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

Adapun strategi panca jangka dalam mengembangkan Ponpes Darunnajah 2 Cipining itu meliputi, pertama pendidikan dan pengajaran. Kedua, yaitu kaderisasi, dan ketiga, yaitu pergedungan, serta keempat, yakni khizanatullah, yaitu diantara syarat terpenting bagi sebuah lembaga pendidikan agar tetap bertahan hidup dan berkembang adalah memiliki sumber dana sendiri.

Dan, panca jangka kelima, yaitu kesejahteraan keluarga Pondok. Jangka ini bertujuan untuk memberdayakan kehidupan keluarga yang membantu dan bertanggungjawab terhadap hidup dan matinya Pondok secara langsung, sehingga mereka tidak menggantungkan penghidupannya kepada Pondok. Sesuai dengan semboyan: “Hidupilah Pondok dan jangan menggantungkan hidup kepada Pondok”.

Selain konsep yang bagus dalam pengembangan Ponpes, hal lain yang saya kagumi dari KH. Jamhari Abdul Jalal adalah beliau senantiasa mensyiarkan Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang menjunjung tinggi perbedaan, mengandung nilai-nilai toleransi, gotong-royong, perdamaian, keberagaman dan cinta kasih pada sesama manusia. Beliau juga sosok kiai nasionalis, yang menjadi rujukan hampir semua orang.

Banyak nilai-nilai yang musti kita teladani dari beliau. Semoga Allah SWT, selalu memberikan kesehatan, melindungi dan merahmati beliau untuk terus berjuang memajukan Agama, Bangsa dan Negara Indonesia.
Wabillahi taufik wal hidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  1. KH. Sulaeman Ma’ruf (Pimpinan dan Pengasuh Pondok Modern Darul Istiqomah Serang Banten):
    Mengenal Sosok KH. Jamhari Abdul Jalal. Beliau adalah seorang guru yang sangat perhatian kepada murid-muridnya. Mata lahir dan batinnya sangat kuat.

Sebelum beliau dimanatkan sebagai pimpinan dan pengasuh di
Darunnajah Cipining di mana anak saya yang kedua dan ketiga saya titipkan ke beliau, yaitu Sumayyah dan Asma Munadiyah, saya sudah mengenal beliau di Gontor, ketika itu beliau sebagai wali kelas 2 C (Dua Se). Saya sebagai salah-satu muridnya diantara seluruh siswa kelas 2 C, seperti tidak ada yang bisa lepas dari pandangan beliau..

Beliau bubuhkan tulisan beliau pada setiap nama santrinya dengan tulisan beliau yang indah, diwajibkan santrinya memiliki buku ulangan, muraja’ah harian 2 macam, yang satu tulisan latin yang satunya tulisan Arab. Buku ulangan itu harus dikumpulkan di tangan beliau sehingga kita malu kalau mendapat nilai mata pelajaran yang buruk.

Tutur katanya yang lemah lembut tapi tegas masuk ke relung hati, setiap muridnya apalagi yang bermasalah sehingga membangun kesadaran bersama akan tanggungjawab setiap menasehati satu sama lain. Beliau sosok yang tawadhu’. Bimbingan dan arahannya baik ketika jam belajar pagi maupun saat belajar muwajjah di luar jam pagi membentuk mentalitas bahwa belajar itu perlu kedisiplinan, kerapihan, kerajinan, kesabaran dan ketekunan.

Maka ketika bertemu dengan beliau di Cipining obrolannya mengalir sedemikian rupa dari urusan mendidik anak sendiri, anak santri, problematika guru pengabdian Gontor, masalah politik, pemilihan Gubernur Banten, pembinaan masyarakat sekitar kampus Darunnajah, santri mukim dan non mukim, santri beasiswa tahfidz, pengajian rutin untuk guru-guru, masalah air dan lain sebagainya. Sungguh sesuatu yang luar biasa seperti beliau tidak henti-hentinya untuk menularkan kebaikan kepada orang lain yang bisa beliau ajak untuk mendiskusikan ide-ide dan gagasannya.
Semoga beliau dianugerahi kesehatan dan panjang umur dan ilmu yang bermanfaat.
Serang 28 Juni 2021

  1. Ustadz Drs. Abdul Rasyid Shaleh (Guru senior Darunnajah 2 Cipining, Kepala Madrasah Aliyah Juli 1997 – September 2010, Pengawas Pesantren hingga 2023):

Saya mengikuti perjalanan Pak Kiai ini dari September tahun 1990, sampai sekarang kira-kira sudah 31 tahun. Saya melihat Pak Kiai adalah sosok yang sangat tangguh; tangguh hatinya, tangguh fisiknya, tangguh disiplinnya, sehingga kalau beliau berhasil ya saya kira sangat wajar. Bayangkan, di sini (waktu itu) masih hutan kemudian sebagai menantunya dikirim oleh KH. Abdul Manaf Mukhayyar ke sini, ya masih hutan, siapa yang mau, kalau orang muda sekarang kan gak ada yang mau, maka saya kira Pak Kiai itu panutan.

Beliau memperhatikan guru-guru, saya masuk sini sudah berkeluarga, ya betul-betul disiplinnya, dulu di kampus dua sini ada mushala kecil, kita sholat di situ, ada Ustadz Hidayat, ada Ustadz Muhtadi, Pak Kiai kadang-kadang juga sholat di situ mengontrol kita, kemudian kalau kita kumpul hari Jum’at ditanyain “Siapa yang tidak sholat Shubuh berjama’ah hari ini?”. Perhatian Pak Kiai terhadap disiplin ibadah betul-betul diperhatikan. Kemudian juga, beliau itu bermasyarakat menurut saya, tokoh-tokoh di lingkungan sini di Kadaung, seperti Pak Rasyid tokoh masyarakat di Jasinga, Kiai Khadamul Quddus di Leuwiliang, banyak yang kenal beliau, kemudian kalau ada apa-apa Pak Kiai suka berkunjung, kalau ada pernikahan Pak Kiai itu tidak segan-segan datang ke walimahan, kalau kita-kita sakit didatangi Pak Kiai, Ustadz Syukron sakit (di Parung Panjang sekira 20 km dari pesantren) didatangi ke sana, Ustadz Bashari sakit (di Kadaka sekira 9 km dari pesantren) didatangi ke sana. Jadi, menurut saya, sekali lagi bahwa Pak Kiai itu panutan.

Kemudian beliau itu didukung dengan ilmu, ilmu yang luas, di pesantren salaf sekian tahun, di Gontor sekian tahun, tamat KMI mengajar juga sekian tahun, mengajar ke Darul Rahman (Jakarta), kemudian setelah itu ke Ummul Qura Makkah, baru kemudian di
Darunnajah. Juga pengalaman berorganisasinya banyak, di Gontor jadi panitia banyak acara. Perlu kita contoh perjuangan dan disiplin beliau. Pak Kiai sering mengajak berunding dalam menentukan beberapa kebijakan, antara lain yang saya ingat, saya diajak musyawarah ketika akan membuat SMP, beliau bertanya: “bagaimana kira-kira prospek SMP ini?”, juga ketika akan ada pergantian Kepala Sekolah saya dimintai pendapat siapa yang kira-kira cocok, termasuk ketika akan dibangun masjid di kampus dua ini saya ditunjuk menjadi ketua kemudian beliau minta saya agar mencari partnernya.

  1. Bapak Drs. Acep Sajidin, M.Si. (Camat Cigudeg 2015 s/d 2020):
    Saya mengenal KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc saat bertugas menjadi Camat Cigudeg. Beberapa kali saya menyempatkan diri sowan ke Pondok Pesantren Darunnajah Cipining, tempat dimana Kyai Jamhari mendedikasikan hidupnya mengamalkan ilmu pengetahuan.

Kyai Jamhari adalah sosok yang membuat saya terkesan. Beliau adalah figur yang mendidik santri dengan keteladanan. Tutur katanya yang lembut, keramahan dan tentu saja keluasan ilmu pengetahuannya berbalut dengan hidupnya yang sederhana. Perilaku baik sang Kyai ini membuat beliau sangat dicintai santri dan jamaah yang mengikuti materi pengajiannya.

Saya merasa sangat terbantu, karena selain mendidik santri, Kyai juga memberikan waktu khusus yang diatur pondok pesantren untuk memberikan pengajian umum yang dapat diikuti oleh masyarakat di luar pondok pesantren. Tentu saja, Majlis tersebut banyak dimanfaatkan masyarakat Cigudeg untuk mendalami pengetahuan tentang agama. Materi yang disampaikan kyai dalam ceramah juga sangat mudah dipahami. Beliau menyampaikan ilmu pengetahuan bukan sekedar mendedah dalil-dalil (tekstual) tetapi bagaimana menerapkannya dalam konteks ke-kinian dan juga menjangkau kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Dengan segala ke-uswatun hasanah yang melekat pada beliau, sosok ini sangat pantas untuk dijadikan inspirator. Saya berharap, Pondok Pesantren Darunnajah Cipining yang diasuh oleh beliau, dapat melahirkan intelektual dan ulama besar. Mendatangkan Rahmat Allah SWT dan meneduhkan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.

  1. Ustadz Ustadz Ahmad Bukhori Asnawi, S.Pd.I. (Ketua Orsat ICMI Cigudeg dan Sekretrais Umum MUI Kecamatan Cigudeg):
    Bismillahirrahmanirrahim

Di pandangan saya, sosok KH. Jamhari Abdul Jalal LC merupakan guru, sesepuh, orang tua dan keluarga super baik hati serta hebat. Beliau dikenal dengan sosok yang sangat santun dalam bertutur, bersikap lemah lembut serta mudah berinteraksi di masyarakat. Beliau adalah seorang sosok yang juga aktif di berbagai organisasi, Beliau pun selalu belajar bagaimana berorganisasi dengan baik dan bagaimana mengelola organisasi itu dengan semaksimal mungkin.
Pada akhirnya ide-ide, gagasan, atau pun hasil pemikiran beliau pun banyak diterima oleh lingkungan sekitar. Dengan demikian, nama K.H. Jamhari Abdul Jalal semakin akrab mulai dari masyarakat sekitar para tokoh hingga aparatur pemerintahan.

Dari sisi akademik, Beliau merupakan sosok intelek dalam berbagai ilmu dengan prestasi akademik yang cemerlang. Dari sisi kepemimpinan tidak perlu diragukan lagi, dengan pembawaan yang tenang dan kapasitas kepemimpinannya yang baik, ia telah mencetak sejarah sebagai seorang pemimpin dengan segudang prestasinya.

Beliau memiliki semangat dan memotivasi yang tinggi untuk mengabdi pada masyarakat terutama dunia pendidikan terhadap guru-guru dan santri-santinya. Gagasan-gagasan freshnya ia munculkan dalam membangun mental dimasa mendatang. Beliau mampu memimpin yang sangat berlian dari berbagai kalangan untuk membantu menyelesaikan tantangan dalam Strategi Komunikasi. Semangat dan kecintaannya untuk membangun negeri tercinta dan kampung halamannya terutama Kp. Cipining Desa Argapura dan sekitarmya.

Tidak berhenti sampai itu saja, Beliau setahu saya juga cukup perhatian dalam pengembangan kemajuan pendidikan disekitarnya baik pendidikan formal maupun non formal. Ini adalah sebagai wujud kepedulian dan loyalitas memajukan bangsa. Dan tentunya masih banyak lagi yang tidak bisa saya ungkapkan satu per satu.

Kesimpulan saya, Beliau is a complete skilled leader with great leadership, great thinking, great behavior, and great passion. (adalah pemimpin yang sangat terampil dengan kepemimpinan yang hebat, pemikiran yang hebat, perilaku yang hebat, dan semangat yang besar). Dengan pengetahuan, pengalaman, dan pemikirannya, Insya Allah KH. Jamhari Abdul Jalal Lc melahirkan pemimpin dan santri yang handal dan berkualitas.

H. Riwayat Akhir Hayat
Beliau meninggal dunia dengan Husnul Khotimah pada hari Selasa, 16 Jumadil Awwal 1447 H/ 27 Oktober 2026 M, pukul 09.52 wib dan dikebumikan di kapling Pemakaman Pejuang Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor yang berlokasi di sebelah utara Kampus 1.