Jauh dari rumah dan pelukan orang tua, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darunnajah menjalani akhir pekan yang berbeda. Mereka mengikuti Perkemahan Jumat Sabtu (PERJUMSA) di lapangan Kampus 2 pada Jumat–Sabtu, 18–19 September 2026. Kegiatan ini bertujuan melatih kemandirian, membangun kerja sama, serta menanamkan disiplin ibadah dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Di usia yang masih belia, mereka belajar bahwa kedewasaan tumbuh dari langkah-langkah kecil.
Selama dua hari, lapangan Kampus 2 berubah menjadi ruang belajar terbuka. Suara tawa dan langkah kaki kecil mengisi suasana sejak kegiatan dimulai. Antusiasme anak-anak terlihat jelas, sebab mereka selalu penasaran pada hal-hal baru. Setiap materi yang disampaikan mereka sambut dengan semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Berkemah bersama teman sebaya, jauh dari kenyamanan kamar di rumah, memberi pengalaman yang sulit mereka dapatkan di ruang kelas.

PERJUMSA dirancang dengan empat tujuan utama yang saling berkaitan:
- Melatih kemandirian siswa
- Membangun kerja sama tim
- Menanamkan kedisiplinan dalam beribadah
- Menumbuhkan karakter peduli lingkungan
Keempat tujuan ini dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan agar mudah diterima anak-anak. Pendekatan bermain sambil belajar membuat nilai-nilai tersebut hadir secara alami, tanpa terasa sebagai beban.
Puncak keseruan terjadi saat wide game berlangsung. Dalam permainan jelajah ini, anak-anak bergerak dalam kelompok mengelilingi tanah wakaf Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Mereka menyusuri area terbuka, mengamati lingkungan sekitar, dan menyelesaikan tantangan bersama. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu terlihat di sepanjang rute. Bagi mereka, setiap sudut tanah wakaf menjadi tempat penemuan yang baru.
Menjelajahi tanah wakaf menyimpan makna yang dalam. Tanah wakaf adalah amanah, titipan dari para wakif yang diserahkan untuk kemaslahatan umat. Saat anak-anak berjalan di atasnya, mereka sedang mengenal bahwa ada kebaikan orang lain yang menopang tempat mereka belajar. Dari sini tumbuh rasa syukur sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya. Nilai ini selaras dengan peran manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 30, yang bertugas merawat alam, bukan merusaknya.

Kemandirian juga menjadi pelajaran penting selama perkemahan. Tanpa pendampingan orang tua, anak-anak belajar mengatur diri, merapikan barang, dan memenuhi kebutuhan pribadi. Kedisiplinan beribadah tetap dijaga di tengah padatnya kegiatan. Kebiasaan menjaga waktu ibadah melatih mereka untuk tertib dan menghargai waktu. Nilai ini menjadi bekal berharga yang kelak terbawa hingga mereka dewasa.
Kerja sama tim terasa kuat, terutama selama wide game. Setiap kelompok harus saling menunggu, berbagi peran, dan mendengarkan pendapat teman. Anak yang lebih cepat belajar bersabar, sedangkan yang tertinggal belajar untuk terus berusaha. Di sinilah makna kebersamaan dipahami secara langsung. Hasil permainan menjadi nomor dua, sebab proses belajar bersama adalah pelajaran utama.
PERJUMSA menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui pengalaman sederhana dan menyenangkan. Kemandirian, kerja sama, disiplin ibadah, dan kepedulian lingkungan ditanam sejak dini agar kelak berbuah dalam kehidupan sehari-hari. Para orang tua diajak melanjutkan pembiasaan ini di rumah, misalnya dengan memberi anak tanggung jawab kecil dan mengajaknya menjaga kebersihan lingkungan. Pendidikan terbaik lahir dari kerja sama antara sekolah, pesantren, dan keluarga. Mari bersama-sama mendampingi generasi kecil ini tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, peduli, dan berakhlak mulia.
