Berikut Adalah Keutamaan dan Keunggulan Menjadi Santri
Menu

Berikut Adalah Keutamaan dan Keunggulan Menjadi Santri

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Santri adalah seseorang pejuang islam yang menuntut ilmu di pondok pesantren. Adapun untuk menjadi seorang santri tidaklah mudah. Banyak lika-liku tantangan yang harus dihadapi ketika menjadi seorang santri,demi mendapatkan ilmu atau cahaya ilahi.

Menjadi seorang santri memiliki beberapa keutamaan dan kelebihan, diantaranya:

1. Termasuk golongan yang dimaksud oleh Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 122:

وما كان المؤمنون لينفروا كافّة فلولا نفر من كلّ فرقة منهم طائفة ليتفقّهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلّهم يحذرون

“ Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam agama dan untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ”.

2. Termasuk golongan yang dimaksud oleh Allah SWT dalam surat Al An’am ayat 125:

من يرد الله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ومن يرد أن يضلّه يجعل صدره ضيّقا حرجا كأنّما يصعّد في السماء

“Barang siapa yang Allah SWT menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangnkan dadanya untuk (mempelajari, memeluk, mengamalkan dan menda’wahkan) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah SWT kesesatannya, niscaya Allah SWT menjadikan dadanya sesak lagi sempit (untuk mempelajari, memeluk, mengamalkan dan menda’wahkan Islam), seolah-olah ia sedang mendaki ke langit”.

3. Termasuk dalam golongan yang dimaksud Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Mujadilah ayat 11:

يرفع الله الّذين أمنوا منكم والّذين أوتوا العلم درجات

“Niscaya Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

4. Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits dari Mu’awiyah RA :

من يرد الله به خيرا يفقّهه في الدين

“ Barang siapa dikehndaki Allah SWT dengan kebaikan (dunia dan akhirat) maka Allah akan memahamkannya dalam (urusan) agama”. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 2948 dan Muslim, no. 1037).

5. Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah SAW dalam hadits :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: سبعة يُظلّهم الله في ظلّه يوم لا ظلّ إلاّ ظلّه : إمام عادل، و شابّ نشأ في عبادة الله تعالى، ورجل قلبه معلّق بالمساجد، ورجلان تحابّا في الله اجتمعا عليه وتفرّقا عليه، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال، فقال إنّي أخاف الله، ورجل تصدّق بصدقة فأخفاها حتّى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجل ذكر اللهَ خاليا ففاضت عيناه”. (رواه متفق عليه) .

Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ada 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah SWT pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta-mencintai karena Allah SWT dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan lalu menjawab:’Sesungguhnya saya takut kepada Allah SWT!’, seseorang yang mengeluarkan sedekah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah SWT di tempat yang sunyi kemudian menenteskan air mata”. ( Riwayat Bukhari dan Muslim).

6. Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah SAW dalam Hadits:

من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتّى يرجع (أخرجه الدارمي و الصياء المقدسي)

“Barang siapa yang keluar dalam rangka menuntut ilmu maka ia dalam jalan-Nya Allah SWT hingga ia kembali”.

  1. Termasuk golongan yang dimaksud Rasulullah dalam hadits:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَبْتَغِي فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَريْقاً إِلَى الجَنَّةِ، وَإنَّ الملَاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضاً بِمَا يَصْنَعُ، وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّماوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِي الْمَاءِ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، وَإنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوْا دِيْنَاراً وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ.

“Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan membentangkan sayap-sayap mereka kepada pencari ilmu sebagai keridhaan atas apa yang ia perbuat. Dan sesungguhnya penghuni langit dan di bumi, sampai ikan-ikan di laut pun memohonkan ampun untuk orang-orang yang berilmu. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 3641 dan ini adalah lafazhnya. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; Ahmad 4/196; Darimi, 1/98. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 2/470, hadits no. 1388).

9. Termasuk golongan yang dimaksud oleh Sahabat Rasul, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan Ulama Salafus Sholih: Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barangsiapa yang menghendaki dunia, hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akherat, hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (dunia dan akherat), maka hendaknya dia berilmu.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengatakan, “Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunnah”. (Shahih Jami’ Al-Bayan 31/48, Hilyatul Auliya’ 9/119).

Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Ilmu itu lebih baik daripada harta, sebab ilmu akan selalu menjagamu, sedangkan engkau yang selalu menjaga harta.” (Faqih wal Mutafaqqih 1/50, Ittiba’ milik Ibnu Abdil ’Izz hal. 86, Bidayah wa Nihayah 9/47 dan I’tishom 2/358).

Hasan Al Bashri rahimahulloh mengatakan, “Beramal tanpa ilmu itu seperti berjalan di luar jalurnya. (Apabila seseorang) beramal tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan itu lebih banyak daripada kebaikan yang diraih. Maka carilah ilmu dengan tidak mengganggu ibadah, dan beribadahlah dengan tidak mengganggu mencari ilmu. (Miftaah Daaris Sa’aadah 1/83, Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh).

 

(DN.COM/arulanisrullh)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait