Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar. Oleh karena itu, para ulama memasukkan puasa Arafah ini ke dalam puasa sunnah yang sangat direkomendasikan (muakkad). Rasulullah saw. bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَة

Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah Dia membalas dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun menyusulnya (HR. Muslim).

Puasa Arafah yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah ini memiliki banyak keutamaan. Berikut merupakan keutamaan berpuasa di hari Arafah:

  1. Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Puasa arafah merupakan salah satu amalan khusus pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Amal shalih pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah sangat dicintai Allah sebelum waktu lainnya.

Rasulullah melihat bersabda: “Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah daripada amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).”

Para sahabat bertanya: “Tidak boleh jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam menjawab: “Tidak boleh berjihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

  1. Dilaksanakan di Hari Arafah

Arafah Puasa juga sangat utama karena dikerjakan pada hari arafah. Pada hari Arafah ini, Allah SWT banyak membebaskan manusia dari neraka. Rasulullah melihat bersabda: “Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari pergi hari Arafah.” (HR. Muslim)

  1. Terkabulnya Do’a 

Keutamaan lain puasa Arafah adalah kemustajaban doa. Pada umumnya doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah. Lebih lagi dengan keutamaan waktu hari Arafah Dimana lebih baik doa pada waktu itu, maka semakin kuatlah keutamaan terkabulnya doa orang yang berpuasa Arafah pada hari itu.

Rasulullah melihat, bersabda: “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan baik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilahaa illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Apakah ada Ilah yang dapat Allah tanyakan, apakah ada sekutu bagi (Milik-Nya lah segalanya kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu). ”(HR. Tirmidzi)

(DN.COM/adam)