Belajar Cinta Dari Sang Ustadz

Atas nama cinta, sejarah mengupas kisah Romeo dan Juliet, Rama dan sinta, Qays dan Layla, Ramadhan dan Ramona hingga Yusuf dan Zulaikha. Lagu-lagu cinta sepanjang masa disenandungkan mengiringi cerita kehidupan manusia. Menurut sang pujangga, cinta sumber inspirasi yang melebihi kata-kata. Meski terkadang cinta berfatamorgana, tetap saja ia menjadi tujuan sang pengembara. Bagi para pejuang, cinta menjadi penawar duka lara. Di mata kehidupan, cinta adalah anugerah istimewa. Dan pada pengajaran Tuhan, cinta merupakan metafora surga.

CaptureAtas nama cinta pula, Adam terbawa rayuan Hawa hingga Tuhan ciptakan dunia, tempat melebur dosa. Atas nama cinta, dua insan membina rumah tangga menuju masa depan bersama. Atas nama cinta, para kekasih rela berbuat dan berikan apa saja.

Sungguh, jalan cinta akan selamanya ditempuh, namun Sang Pemilik kehidupan mengingatkan agar segala cinta dibangun di atas cinta-Nya. Karena hakekat cinta adalah cahaya, berasal dari cahaya, dan akan menuju cahaya. Melalui Muhammad, isyarat tersebut difirmankan “Pasti akan mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling menyambung hubungan silaturahmi karena Aku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling menasihati karena Aku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling memberi karena Aku” (HR. Ahmad).

Perjalanan cinta kerap kali memasuki dimensi eksplorasi tiada henti. Hanya pecinta yang memiliki kebeningan hati, kekuatan mental, dan niat yang suci sajalah yang mampu menempatkan cinta pada pondasi pembentukan pribadi.  Karena cinta, sejatinya adalah konskuensi dari kepribadian seseorang. Untuk itu, Habiburrahman, dalam mengeksplorasi mental Fahri, diawali dengan kepribadiannya yang berkarakter.

Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashirmangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah segarnya. (AAC:20,21)

Penggambaran sosok Fahri kemudian berlanjut pada Kepribadian yang terpaut akan cinta yang hakiki, yaitu cinta kepada sang pemilik kesejatian. Kemudian cinta ini terealisasi pada tekad yang kuat untuk tetap bersamanya dan komitmen untuk menjadi pribadi yang mengembalikan segala permasalahan hidup hanya kepada-Nya.

Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan. Masjid tempat akau mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di negeri Musa ini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada yang Maha Pemberi Rizki saat berada dalam keadaan krisis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang. Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang. (AAC:29,30)

Hal inilah yang diajarkan dalam Islam. Yaitu dalam tingkatan cinta, cinta kepada Allah adalah yang utama. Cinta kepada Allah tidak boleh dikalahkan oleh cinta siapapun dan cinta apapun. Begitulah yang juga terjadi atas Rasulullah, memberikan segenap cintanya dan mengembalikan segala urusan hanya kepada-Nya. Dengan berlumuran darah saat didholimi oleh penduduk Thaif, beliau berdoa, “Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia……..”

Buah cinta dari mencintai Allah adalah kasih sayang-Nya. Dia akan menurunkan berbagai hal yang membahagiakan. Maka, perasaan untuk menghadirkan Allah dalam setiap keadaan, baik bahagia maupun duka,  adalah bentuk cinta yang sejati. Rasa bersyukur dengan semua kebahagiaan, bukan sikap kufur. Karena sikap syukur sangat rawan dimiliki oleh seseorang yang kebetulan mendapatkan kebahagiaan. Kegembiraan dan keberhasilan, bukanlah semata kerja dan upaya kita, namun karena adanya bentuk kasih-Nya. Pribadi yang baik akan selalu bersyukur. Begitupun perihal yang dilakukan Fahri saat menerima kebahagiaan atas kelulusannya dan berhak menulis tesis. Fahri merasakan selalu ada campur tangan Tuhan pada kebahagiaannya.

Aku merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras ke ubun-ubun kepalaku lalu menyebar ke seluruh tubuh. Seketika itu aku sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa dibelai-belai tangan Tuhan. (AAC:69)

Seseorang yang telah mencintai Tuhan, memiliki kewajiban untuk melanjutkan misi ini dengan mencintai orang lain karena-Nya. Ini adalah buah cinta yang manis. Karena cinta yang kian tertebar berpangkal dan akan bermuara pada kesejatian. Fahri, sebagai pengibar bendera cinta, dengan segala resiko yang dihadapi, mampu menunaikannya. Misi pertamanya yaitu dengan menolong seorang gadis Mesir bernama Noura.

Misi ini, sesungguhnya sangat berbahaya. Di saat sebuah lingkungan kehidupan telah tidak peduli mengambil peran sebagi penyelamat Noura dengan berbagai alasan. Fahri tampil sebagai penyelamat. Ini semata-mata karena didasarkan sebuah cinta yang telah terpatri dalam keyakinannya. Meskipun Fahri dalam lakon ini tidak langsung menolong dengan tangannya sendiri, karena ia mengutamakan kemulian cinta yang telah diajarkan Tuhannya.

“Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap airmatanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan airmata selama-lamanya”

“Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa!”

“Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon.” (ACC:76)

Bahkan, pembuktian akan perannya sebagai sang penyelamat kian tereksplorasi tiada henti. Maka, di saat ia membantu Noura, Fahri mampu meyakinkan Maria beserta Nurul, yang seharusnya memiliki jiwa lebih peka terhadap sesamanya karena mereka sama-sama perempuan. Setelah Fahri meyakinkan keduanya, mereka pun tampil sebagai pecinta yang mengambil jalan cinta dengan apapun resikonya.

Fahri mampu memasukkan dimensi paling total dari cinta kepada orang-orang disekitarnya. Bila cinta dipusatkan pada satu obyek, ia adalah cinta. Bila diarahkan ke beberapa obyek, ia disebut kasih. Bila seperti kabut, ia disebut nafsu. Bila cenderung kepada moral, ia adalah kebaktian. Sebagaimana yang diulas oleh Anis Matta dalam pengklasifikasian cinta. Menurutnya, cinta yang paling luhur adalah cinta yang lahir dari misi yang suci. Karena cinta ini didorong oleh emosi kebajikan dan kemampuan memberi. Sebagaimana cinta Nabi kepada umatnya, cinta guru kepada muridnya, cinta ibu kepada anaknya. Pun begitupun cinta Fahri kepada saudarinya sesama mukmin.

Aku tiba-tiba merasa Noura itu seperti adik kandungku sendiri. Entah bagaimana aku bisa merasakan begitu, padahal aku tidak memiliki adik. Aku anak tunggal. Tapi aku seperti merasakan apa yang dirasakan Noura. Seandainya dia adikku tentu tidak akan aku biarkan ada orang jahat menyentuh kulitnya. Akan aku korbankan nyawaku untuk melindunginya. (AAC:136)  

Fahri, sebagai pribadi dan sebagai manusia, menyadari bahwa  yang bersumber pada akal dan perasaanya telah mengantarkannya pada pengetahuan dan kepekaan. Hal inilah yang kemudian memotivasi nalurinya menuju kasih sayang-Nya. Pesan Nabi, “Siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, dia tidak akan disayang Allah.

Rasa kasih dan sayang juga tidak terbatas pada belas kasihan kepada seseorang yang sedang ditimpa cobaan, namun perlu eksplorasi pada setiap sisi. Fahri, yang mendapat kehormatan sebagai orang yang dituakan dalam flat tempat tinggalnya, ditampilkan pula oleh pengarang sebagai sosok yang simpatik, penuh kesan, dan ‘romantis’.

Salah satu sifat keromantisan Fahri terekam pada saat memberikan surprise hadiah kepada tetangga dekatnya, yaitu Madame Nahed dan Yousef saat keduanya berulang tahun.

“Maafkan kami Madame, jika kedatangan kami mengganggu. Kami datang untuk mengungkapkan rasa cinta dan hormat kami pada keluarga ini. Kebetulan kami telah menyiapkan hadiah ala kadarnya. Ini untuk Madame dan yang satunya untuk Yousef. (AAC:113)

Pengungkapan rasa dengan simbol hadiah, meskipun kecil, namun sangat berarti bagi penerimanya. Memberi atau menghadiahi, adalah ekspresi dari salah satu bentuk kasih sayang yang memunculkan perhatian nyata. Dan perhatian inilah yang mampu memotivasi bahkan menghidupkan jiwa seseorang. Terlebih pada jiwa perempuan, nilai perhatian ini memiliki esensi dan ‘sakral’. Nabi menyarankan”Salinglah kalian memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.

Sebelumnya, pengarang juga menggambarkan nilai kemanusiaan yang ditunjukkan Fahri dengan ajaran Islam sebagai  sumber keluhuran budi dan cinta. Saat itu sebuah insiden terjadi. Tiga orang bule yang berasal dari Amerika menjadi bulan-bulanan orang-orang Mesir yang menampakkan sikap kekesalannya pada ketiganya. Di saat seorang perempuan bernama Aisya membuka perhatian pada tamu Amerika itu, berbagai penolakan mengarah padanya. Maka Fahri dengan sikap bijaksana melerai keadaan.

Cerita kebaikan Fahri juga tampak pada bagaimana ia memandang dan memperlakukan orang lain. Bagaimana Fahri mengesankan Maria, gadis yang menjadi tetangganya, putri dari Madame Nahed dan Tuan Boutros. Juga bagaimana Fahri menghormati guru-gurunya dan simpatinya kepada kenalan-kenalan Mesir-nya. Salah satunya adalah Syaikh Ahmad. Dalam benaknya, Syaikh Ahmad adalah seseorang yang luar biasa.

Jika Maria gadis Koptik yang aneh, aku merasa Syaikh Ahmad adalah ulama muda yang unik (AAC:31) 

Di awal cerita inilah, pengarang berhasil mengantarkan Fahri sebagai sosok penuh cinta. Sebuah alur yang menjadi titik tolak pengembaraan Fahri dalam episode kehidupannya menuju takdir Tuhan. Paulo Coelho dalam novelnya ‘Sang alkemist’ menginspirasikan bahwa seseorang harus mendengarkan suara hati, karena disanalah harta berada. Maksudnya, hati menjadi   ‘chip’ yang menentukan kualitas seseorang. Sebagaimana Nabi Muhammad juga mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat segumpal darah yang menentukan baik tidaknya orang tersebut. Segumpal darah itu ialah hati.

Jauh sebelum menemukan cinta sejatinya, Fahri telah menemukan jalan untuk mencapainya. Bila sebuah alamat dicari dengan menggunakan penunjuk jalan yang benar, pasti akan sampai. Pun begitu jalan yang ditempuh Fahri.

Bila diibaratkan sebuah profesi, Fahri telah melalui masa pembekalan yang dilengkapi dengan training uji kelayakan. Maka, kualitas modalitas Fahri dalam menghadapi tema utama yaitu ‘cinta’ telah memenuhi kualifikasi dan kompetensi. Beberapa petunjuk dalam jalan cinta yang ia dapat antara lain; pertama, Fahri memahami secara baik bagaimana adab seorang suami kepada istrinya yang berbuat salah. Hubungan antara suami dan isteri sangat penting, karena disanalah bangunan cinta yang asli dan murni berdiri. Oleh karenanya, seorang laki-laki dan perempuan harus berpikir jauh sebagai jalan cinta yang akan menjadi muaranya, bukan hanya memahami cinta terbatas pada rasa suka yang tidak bertanggung jawab. Perbuatan salah dalam membina rumah tangga juga hal yang sangat mungkin dan wajar, hanya saja sikap dewasa dan menerimalah yang akan menjadi tali pengikatnya. Hal ini terungkap dalam jawaban kepada Alicia, seorang Amerika yang pernah ditolongnya (AAC: 96-99).

Kedua, pemahaman akan sikap memuliakan perempuan. Menurutnya, Islam mengajarkan bahwa seorang lelaki mulia terlihat dari caranya memuliakan perempuan. Hal ini juga jawaban untuk Alicia (AAC: 99). Ketiga, Ia memiliki prinsip bahwa manusia yang menentukan takdirnya sendiri. Kemaha adilan takdir Tuhan sesuai dengan usaha manusia dalam meraihnya. Maka Fahri membuat peta hidup yang di dalamnya ia membuat rencana-rencana berikut targetnya, termasuk di dalamnya adalah membangun singgasana dalan istana cinta bersama pendamping hidupnya (AAC: 144).

Keempat, Ketidaksengajaannya dalam melakukan suatu hal dapat memiliki dampak yang luar biasa meskipun hal terkecil yang ia lakukan. Ini terjadi karena setiap yang Fahri kerjakan selalu dibarengi dengan sikap ‘positive thinking’. Seperti salah satunya pada saat Fahri membeli boneka dan mainan anak. Kemudian ia mendapatkan hadiah berupa untaian doa indah dari penjualnya.

“Belilah, kudoakan kau mendapatkan istri yang sholehah dan cantik seperti bidadari dan memiliki anak yag saleh salehah, juga kudoakan umurmu berkah, rizkimu melimpah sehingga kau dan anak cucumu tidak akan perlu berjualan di jalan seperti diriku. Belilah untuk penyemangat hidupku!” (AAC: 147)

Kelima, pemahaman Fahri tentang perempuan adalah sebagai pasangan cinta bagi seorang laki-laki, bukan objek cinta pemuas nafsu yang mengatasnamakan cinta, sehingga perempuan memiliki derajat mulia. Seorang pecinta sejati akan memahami hal ini dengan baik. Namun, wanita juga dapat menjadi ujian bagi seorang laki-laki. Kesempurnaan Fahri turut pula digambarkan sebagai pribadi yang berusaha menjaga kesucian diri dari fitnah perempuan meskipun berada dalam keadaan yang lemah sekalipun.

“Jangan Maria tolong, ja..jangan sentuh” (AAC: 176). Begitulah penolakan Fahri saat Maria cemas karena Fahri sakit.

Keenam, kemudian hal terpenting dalam proses mencari cinta adalah melibatkan Dia di dalamnya. Cara melibatkan cinta-Nya ialah dengan melakukan shalat Istikhoroh, memohon jodoh yang memang telah tertulis sebagai takdir-Nya. Jalan inilah yang ditempuh oleh Fahri. Sebuah do’a memohon cinta sejati yang diajarkan Rasul, tidak pernah lupa dibacanya.

“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa! (AAC: 207)  

Setelah menempa diri dengan berpedoman pada jalan cinta yang dibangun dengan sebuah keyakinan, Fahripun mendapatkan seorang jodoh yang sangat mendambakannya. Aisha, seorang bidadari nan rupawan, pemilik wajah indah yang tiada duanya.

Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah yang menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat di seluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak tak akan mampu. Pelukis paling hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni Mahaagung dari Dia Yang Mahakuasa. Aku benar-benar merasakan saat-saat yang istimewa. Saat-saat untuk pertama kali mekihat wajah Aisha (AAC: 214,215).

Hal demikian merupakan bentuk syukur dan cara menjaga hati untuk melihat sisi baik seseorang. Karena jika sisi baik yang terlihat, muncullah rasa cinta itu. Dan bentuk pengungkapan rasa cinta kepada manusia, haruslah mengikutkan pemilik cinta di atas cinta. Fahri merasakan amanah cinta yang dibebankan kepadanya begitu besar, maka serangkaian doa sebagai bentuk kehambaan dan kepasrahan dirinya. Ia baca doa Adam, doa Ibrahim, doa Ayyub, doa Ya’qub, doa Daud, doa Sulaiman, doa Zakariya, doa Muhammad, doa seribu nabi, doa seribu wali dan doa seribu sufi yang telah mereguk cinta hakiki.

Bahkan setelah menikah, Fahri tetap memaknai cinta sedemikan indah seuntai dengan cinta-Nya. Mendapatkan istri secantik dan sejelita Aisha, pun tidak memalingkan cintanya kepada Allah.

“Aisha, cinta Tuhan memanggil-manggil kita. Saatnya shalat Isya. Aku ke masjid dulu untuk shalat berjamaah. Kau shalat di rumah saja ya. Dalam suasana seperti apapun shalat fardhu adalah utama.” (AAC: 249)

Pernikah Fahri dan Aisha telah membuka gerbang kebahagiaan antara keduanya. Episode-episode kebahagiaan mereka lalui bersama. Namun sebagai bentuk cerita kehidupan, permasalahan turut mengintai mengisi sela-sela kebahagiaan mereka berdua.

Permasalahan datang, sejatinya adalah bentuk cinta-Nya melalui cara yang lain. Permasalahan adalah bentuk ujian guna mengukur kualitas pribadi seseorang, apakah itu dengan yang menyenangkan ataupun sebaliknya.

Dalam perjalanan cinta Fahri, saat setelah menikah dengan Aisha, dua bentuk ujian itu muncul meskipun datang silih berganti. Pertama adalah saat Nurul Azkia, seorang gadis yang sebenarnya disukai Fahri menyatakan cinta kepadanya, meski tidak secara langsung. Hal itu membahagiakannya, namun sekaligus membuatnya bersedih.

Sebagai lelaki yang berkarakter, Fahri juga memiliki prinsip, maka ketika Nurul berputus asa dalam menggapai cintanya, Fahri tidak lantas menduakan cintanya kepada Aisha. Fahripun secara halus menolak cinta Nurul dengan cara yang bijaksana dan membukakan gerbang masa depan untuk Nurul.

Ujian kedua terasa lebih berat, yaitu berupa fitnah bahwa Fahri menjadi tertuduh pelaku pelecehan seksual kepada gadis yang pernah ditolongnya, Noura. Insiden ini mengakibatkan ia dipenjara dengan menerima berbagai macam siksaan dan hinaan. Episode penuh derita terkumpul dalam bagian ini. Dari fitnah tersebut, Fahri mendapatkan perlakuan tidak manusiawi.

Ujian-ujian cinta memaksa Fahri dan Aisha berada posisi yang sulit. Namun keadaan ini tidak sampai menggugurkan cinta sejati keduanya, baik kepada Tuhan maupun antarsesamanya. Hingga saat yang sedemikan urgen, karena rasa cinta yang sangat besar, Aisha hendak mengeluarkan Fahri dengan menyuap. Namun secara tegas, Fahri menolak karena rasa takwanya.

Menghadapi persidangan terkait kasus Noura memerlukan banyak energi. Di tengah bergulirnya kasus ini, satu-satunya orang yang bisa membantu adalah Maria. Namun sayangnya, saat itu Maria justru sedang dalam keadaan koma, juga karena cinta. Dan dengan kekuatan cinta dari seoarang Fahri, Maria dapat menemukan kembali kehidupannya. Juga karena rasa cinta, Hingga akhirnya, Maria menjadi penolong Fahri bebas dari tuduhan Noura.

Cinta saling memberi dan menerima. Saling mengasihi dan menyayangi. Cinta adalah power yang saling menguatkan satu sama lain. Begitupun dengan Aisha, karena cinta pula ia rela mengorbankan ego dirinya dengan merelakan Maria mendapatkan cinta yang sama dari Fahri.

Dramatisasi cinta ketiga tokoh, Fahri, Aisha, dan Maria semakin lama kian menguat. Semakin dalam perenungan akan makna cinta, semakin ditemukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang dicintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki. Posisi inilah yang terjadi pada diri Maria di akhir hidupnya. Melalui cinta yang dianya sendiri tidak mengetahui namun sangat kuat dirasakan, cinta itu mengantakannnya pada jalan keagungan, Islam.

Ayat-ayat cinta menjadi pengantar Maria menuju cinta yang abadi yang disaksikan oleh suami tercinta, Fahri.  Allah telah menunjukkan jalan, dan ketiga tokoh telah melakukan pekerjaan besar dan agung, mencintai. Dan nikmat yang dijanjikan adalah nikmat yang diidamkan semua manusia.

“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.” (AAC 402)

Wallahu a’lam bisshawab.

Daftar Bacaan

Al-Buthy.2010. Al-Qur’an kitab Cinta. Bandung: Hikmah.

 

Al-Kedokany, Rudiyanto SW. 2010. 165 Nafas-nafas Cinta Kidung Cinta Rabiah al-Adawiyah.

Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

 

Asti, BM. 2007. Oh…Indahnya Jatuh Cinta. Jakarta: Al-Mawardi.

 

El-Sherazy, Habiburrahman. Cetakan XI, 2006. Ayat Ayat Cinta. Jakarta: Republika.

 

Fakhruroji, Moch. Cetakan II, 2006. Tafsir Cinta. Bandung: Mizan Media Utama.

 

Muhapi. 2005. Berpetualang Mencari Cinta Sejati. Jakarta: Al-I’thisom Cahaya Umat.

 

Kumpulan Tulisan Anis Matta. Serial Cinta tarbawi. eBook oleh Keluarga ilma95.

(Red___________________2013)