Perpustakaan pesantren biasanya bukan ruangan paling ramai. Bukan tempat yang dikunjungi semua santri setiap hari. Tapi bagi segelintir santri yang dipercaya menjadi pengurusnya, perpustakaan menjadi tempat yang mengubah hubungan mereka dengan buku — dan dengan ilmu — secara mendasar. Pengurus perpustakaan di pesantren bukan pustakawan profesional. Mereka adalah santri biasa yang diberikan tanggung jawab merawat koleksi buku yang sudah dikumpulkan selama puluhan tahun.
Tugas sehari-hari pengurus perpustakaan terdengar sederhana — mencatat peminjaman, mengembalikan buku ke rak yang benar, menjaga kebersihan ruangan, dan memastikan koleksi tidak ada yang hilang atau rusak. Tapi di balik tugas administratif itu, ada sesuatu yang terjadi secara diam-diam. Santri yang setiap hari dikelilingi oleh ratusan buku perlahan mulai membaca lebih dari yang diminta oleh pelajaran sekolah.
Proses itu terjadi secara alami tanpa paksaan.
Saat mengembalikan buku ke rak, mata tertarik pada judul yang belum pernah dibaca. Saat menunggu santri lain datang meminjam, tangan meraih buku yang kebetulan ada di dekat meja. Saat merapikan koleksi di sudut yang jarang dikunjungi, menemukan kitab atau buku tua yang isinya ternyata sangat menarik. Setiap interaksi kecil dengan buku-buku itu memperluas dunia santri yang menjadi pengurus — lebih luas dari yang bisa diberikan oleh pelajaran di kelas saja.
Perpustakaan pesantren punya koleksi yang unik. Kitab-kitab klasik dalam Bahasa Arab berjajar di rak yang sama dengan ensiklopedia modern. Buku tentang sejarah Islam berdampingan dengan buku tentang sains dan teknologi. Kumpulan puisi Arab di dekat novel-novel sastra Indonesia. Keberagaman itu mencerminkan filosofi pesantren yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum tanpa memisahkan keduanya.
Santri yang menjadi pengurus perpustakaan juga sering menjadi orang yang paling banyak ditanya rekomendasi bacaan oleh teman-temannya. Mau baca apa yang bagus? Pertanyaan itu datang dari santri yang baru pertama kali ingin membaca di luar kewajiban sekolah. Pengurus yang sudah membaca banyak bisa merekomendasikan dengan tepat — tahu buku mana yang cocok untuk pemula, mana yang terlalu berat, mana yang paling seru untuk anak seusianya. Peran informal itu membuat perpustakaan terasa lebih hidup dan lebih personal.
Kita mungkin tidak menyadari betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap kebiasaan membaca. Anak yang di rumah tidak pernah menyentuh buku di luar pelajaran sekolah, setelah berbulan-bulan menjadi pengurus perpustakaan, bisa berubah menjadi pembaca yang rakus. Perubahan itu bukan karena dipaksa membaca. Tapi karena berada di tempat yang membuat buku terasa sangat dekat dan sangat mudah dijangkau.
Dampak jangka panjang dari pengalaman ini sering terlihat bertahun-tahun kemudian. Alumni yang pernah menjadi pengurus perpustakaan biasanya tetap menjadi pembaca aktif sepanjang hidupnya. Rak buku di rumah mereka selalu penuh. Rekomendasi bacaan yang mereka berikan kepada teman dan keluarga selalu tepat sasaran. Kemampuan memilih buku yang bagus dari sekian banyak pilihan — keterampilan yang terdengar sepele tapi sebenarnya sangat berharga — sudah terlatih sejak duduk di meja penjaga perpustakaan pesantren.
Di Darunnajah 2 Cipining, perpustakaan menjadi salah satu fasilitas yang mendukung pengembangan literasi santri. Koleksinya mencakup kitab-kitab klasik dan buku-buku modern, dan pengelolaannya melibatkan santri sebagai bagian dari pembentukan karakter dan tanggung jawab.
Cinta buku memang jarang lahir dari perintah. Lebih sering lahir dari kedekatan — dari tangan yang setiap hari menyentuh sampul buku, dari mata yang setiap hari memindai judul-judul di rak, dan dari rasa penasaran yang akhirnya tidak bisa ditahan lagi.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang fasilitas dan pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.