ALLAH SANGAT MENCINTAI MANUSIA
(UST. SUHARDI)
Bagaimana Allah mencintai hambanya? Mungkin seorang bertanya atau merasa aneh, mungkinkah Allah sebagai sebagai tuhan yang maha agung dan tinggi mau mencintai kita yang hanya sebagai seorang mahluk.
Lalu apa sih isimewanya, kalau Allah mencintai kita? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a. :
Rasulullah SAW bersabda: Sesnugguhnya Allah SWT jika mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Jibril, Aku mencintai orang ini maka cintailah dai! Maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata: “wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintailah pula dia oleh kalian semua”. Maka seluruh penduduk langit mencintai dia. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.” (HR. Bukhari)
Masya Allah! Lihatlah cinta Allah, bagaimana Allah mencintai hambanya kepada sekalian makhluknya? Pernahkah terbetik dalam hati kita jika ada salah seiorang dari kita termasuk kepada orang-orang yang dicintai Allah? Ketika Allah SWT mencintai hambanya, Allah yang maha tinggi tidak hanya cukup mengatakan aku cinta kepada orang ini! Tapi Allah umumkan kepada seluruh penjuru makhluknya.
Jika seseorang telah dicintai oleh Allah SWT maka hidup ini akan terasa tenang, damai, dan tentram penuh kasih sayang, perlindungan dan rahmatnya ta`ala. Apa yang diminta akan diberi, apa yang diinginkan akan terkabul. Segala kebutuhannya akan dipenuhi, dan diakherat mendapatkan ridho dan perlindungannya dari siksa api neraka.
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT berfirman: “orang yang telah menjadi kekasih-ku, maka aku akan selalu siap membantunya, siapakah wali atau kekasih Allah itu? Ketahuilah sesungguhnya para waliullah tidak merasa takut dan sedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa”.
Lalu Allah melanjutkan firman-Nnya dalam hadits Qudsi tadi: “tidak seorang hambapun mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang paling aku cintai, melainkan dengan apa yang telah aku wajibkan kepadanya. Hambaku adalah yang selalu mengerjakan ibadah-ibadah nawafil (amalan-amalan sunnah) sehingga aku mencintainya. Ketika aku telah mencintainya, maka aku lah yang menjadi telinga yang gunakan untuk mendengar, mata yang dia gunakan untuk melihat, tangan yang dia gunakan untuk memukul, kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika diameminta kepada-Ku, pasti ku berikan, dan jika dia butuh perlindungan-Ku, pasti aku lindungi.”
Melalui hadits Qudsi ini kita bisa memahami bahwa seorang yang sangat istimewa di hadapan Allah SWT adalah seorang hamba yang dapat memadukan suatu kewajiban dengan amalan sunnah. Tidak ada artinya amalan sunnah, atau ibadah-ibadah sifatnya skunder di saat hal-hal yang lebih wajib di tinggalkan. Kita mengerjakan solat dhuha atau solat qobliyah dan ba`diyah misalkan, tetapi harus juga dengan tidak meninggalkan kewajiban solat yang lima waktu yang fardu. Kita menunaikan kewajiban ke baitullah untuk ke sekian kalinya, tetapi dengan melihat apakah orang-orang di sekitar kita sudah tercupi semua. Jangan sampai kita selalu melaksanakan ibadah sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, tetapi kita tidak menjaga tali silaturrahmi yang wajib.
Di saat kita bisa memadukan atau mengerjakan antara amalan-amalan yang wajib sunnah, maka disaat itulah seorang manusia menjendi lebih istimewa di hadapan Allah SWT. Namun yang perlu seslalu kita ingat adalah, bahwa ibadah itu bukan hanya sebatas kepada Allah, terlebih terhadap makhluknya didlam berbuat baik dan mesti pula harus dilandasi keimanan dan keikhlasan dalam mengerjakannya. Ada sebuah hadits yang serng kita dengar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a.: “jika telah lewat tengah malam atau sepertiga malam yang terakhir, Allah yang maha mulia dan agung turun kelangit yang paling rendah (langit dunia), lalu berkata: adakah orang yang meminta kepada ku saat ini, akan ku beri, adakah yang memohon ampunan, pasti akan kuampuni, adakah orang yang bertaubat, pasti aku berikan taubat-Ku, adakah orang yang memerlukan-Ku, pasti akan aku penuhi. Dan itu terjadi setiap malam hingga terbit fajar.” HR. Bukhari)
Oleh karena itu alangkah baiknya jika menyembah tunduk dan patuh kepada Allah SWT hanya atas dasar cinta kepadan-Nya bukan dilandasi oleh rasa takut atas murka dan siksa-nya walaupun hal itu juga tidak buruk. Karena Allah juga sangat mencintai kita bahkan dalam banyak ayat alqura`an selalu diawali kasih sayang –Nya terlebih dahulu, seperti Firmannya: “ Maka Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai Allah.”
Terakhir Rasulullah SAW bersabda: “ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah dalam lidungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindungan –Nya: Imam yang adil, pemuda yang rajin ibadah, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan Masjid, dua orang yang selalu saling mencintai, bertemu dan berpisah hanya karena Allah, seseorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah, seseorang yang menyembunyikannya sedekahnya tidak ingin dilihat orang, dan seorang yang mengingat Allah dalam keheningan hingga menitikkan air mata.” (HR. Bukhari dan Muslim).




