Lantunan sholawat dan hadroh menggema di Aula Abdul Manaf, Pondok Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai, Rabu (4/9/2025). Seluruh Guru Dan Santri bersatu dalam gelombang cinta kepada Rasulullah SAW melalui acara “Al-Harokah Bersholawat” memperingati Maulid Nabi. Mahalul qiyam yang khusyuk menjadi puncak spiritualitas malam penuh berkah ini. Momentum sakral ini mengingatkan bahwa cinta sejati kepada Nabi bukan sekadar ritual, melainkan transformasi akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
“Peringatan Maulid bukan sekadar perayaan historis, tetapi momentum introspeksi untuk mencontoh akhlak mulia Rasulullah,” ungkap Ustadz Shoddiq, Direktur Pengasuhan Pondok Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai. Ceramah bertema “Meneladani Akhlak Rasul” menjadi inti pesan yang disampaikan kepada para hadirin.
Kegiatan mencapai puncak emosional saat mahalul qiyam dilantunkan bersama-sama. Suasana hening namun penuh khidmat menyelimuti aula ketika puluhan suara bersatu memuji keagungan Nabi.
Ustadz Shoddiq menyampaikan hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Barangsiapa membaca sholawat kepadaku satu kali, Allah akan memberi sholawat kepadanya sepuluh kali.” Hadits ini menegaskan keutamaan berselawat sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada Rasulullah yang mendatangkan keberkahan berlipat dari Allah SWT.
“Kami berharap momentum ini tidak berhenti pada perayaan semalam, tetapi menjadi spirit berkelanjutan untuk mengimplementasikan ajaran Rasul,” tambah Ustadz Shoddiq. Pesantren Al-Harokah Darunnajah merupakan pesnatren dengan komitmen yang menimbulkan rasa cinta kepada rasul
Acara ditutup dengan doa bersama untuk menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman hidup. Para peserta berjanji akan meneruskan semangat sholawat dalam keseharian, mewujudkan masyarakat yang penuh kasih sayang sebagaimana diajarkan sang Nabi. Momentum Maulid ini menjadi refleksi bahwa Islam adalah agama yang merayakan cinta, bukan kebencian.
Mari jadikan setiap hari sebagai peringatan Maulid dengan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam interaksi sosial kita. Cinta sejati kepada Nabi terwujud dalam transformasi diri menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan.
