Aku dan Jilbabku

Hai!perkenalkan nama ku Estu, aku mulai berjilbab sejak sekolah dasar. Aku mulai menggunakan jilbab saat Umi memberikan sebuah jilbab biru yang manis. Aku memakainya setiap saat. Sejak itulah aku terbiasa menggunakan jilbab. Aku sekolah di sebuah SMP Negeri jadi teman-temanku banyak yang tidak menggunakan jilbab, bukan hanya tidak memakai, tapi terkadang mereka mencemohku. Aku pernah dibilang kuper, kampungan dan lain-lain, tapi aku tetap bertahan.

Pagi-pagi seperti biasa aku menggunakan jilbab putihku dan seragam yang sengaja umi buat panjang. Setelah berpakaian dan sarapan aku segera berpamitan dan berangkat ke sekolahku. Aku pergi ke sekolah menggunakan angkutan kota, sekitar pukul setengah tujuh.

Sesampainya di sekolah aku segera masuk kelas dan meletakan tas lalu mengambil buku matematika karena hari ulangan. Setelah mengambil buku aku segera menuju kursi taman. Sebelum sempat aku duduk, tiba-tiba Mega dan Arini menghampiriku, ”Hai!Estu, aku sudah kesal denganmu juga jilbab mu. Jilbabmu itu sangat menggangguku”, bentak Mega. ”Apa maksudmu?ini Negara merdeka. Aku berhak menggunakan jilbabku”, bentakku juga. ”Hei, berani sekali kau membentak bosku. Aku pikir siapa kami ini. rasakan ini!” bentak Arini sambil mendorongku hingga tersungkur, lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan ku.

Lalu aku bergegas lari ke kamar mandi membersihkan bajuku sambil menangis, ”Aku tidak sanggup lagi”, kataku dalam hati. Setelah sekolah berakhir, aku pulang ke rumah.

“Umi……..”, teriakku saat sampai ke rumah. ”Ada apa estu…..???kenapa kamu menangis?”, tanya umi. ”Mereka,,, mereka menghina jilbabku lagi”, isakku. ”Mereka menghina jilbabmu?” Tanya umi. “iya, Umi. Aku tidak tahan lagi mereka menghinaku terlalu sangat keterlaluan.” curhatku. ”Sabar sayangku. ini adalah cobaan. Allah ingin menguji kesabaran umatnya. kalau kamu tabah maka kamu berhasil lolos ujian Allah”, kata Umi menguatkan. ”terima kasih umi, aku akan berusaha tabah”, kataku. ”aku akan terus tabah aku akan berusaha lulus dari ujian Allah”, kata ku dalam hati.

By: Nadiva Dzikriyati

santriwati TMI Darunnajah kelas ~I-i