Dua puluh tahun lalu, saya hampir mengambil keputusan berbeda dalam hidup. Ketika itu, saya mahasiswa Akidah Filsafat yang merasa perlu pindah prodi. Bukan karena tidak mencintai filsafat—justru sebaliknya, saya sangat menikmatinya. Tapi ada sesuatu yang terus terbayang dalam pikiran yaitu dunia bisnis dan keuangan.
Saya ingat betul malam-malam panjang membaca buku Robert Kiyosaki. Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant—buku-buku itu mengubah cara saya memandang uang dan kebebasan finansial. Kiyosaki mengajarkan perbedaan mendasar antara bekerja untuk uang dan membuat uang bekerja untuk kita. Pelajaran yang sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
Setelah membaca buku-buku itu saya nyaris pindah ke Manajemen Lembaga Keuangan Islam (MLKI). Tapi akhirnya saya tetap di jalur filsafat, menyelesaikan S1, S2, hingga S3 di bidang yang sama. Apakah saya menyesal? Tidak. Karena ternyata jalan hidup membawa saya ke profesi yang menarik: sebagai Dosen, saya justru mendapati diri mengamati sebuah profesi yang sepertinya menjawab pertanyaan-pertanyaan lama saya tentang keuangan dan peluang.
Profesi itu adalah aktuaris.
Siapa Aktuaris?
Bagi kebanyakan orang, kata “aktuaris” terdengar asing. Bahkan mahasiswa yang sudah kuliah bertahun-tahun pun mungkin baru pertama kali mendengarnya. Padahal, setiap kali kita membayar premi asuransi, mengajukan klaim kesehatan, atau membicarakan pensiun, di balik semua angka itu ada perhitungan seorang aktuaris.
Sederhananya, aktuaris adalah profesional yang menerjemahkan ketidakpastian menjadi angka yang bisa dikelola. Mereka menggunakan matematika, statistika, dan teori keuangan untuk memprediksi risiko—kapan seseorang mungkin sakit, berapa biaya yang dibutuhkan untuk dana pensiun, atau seberapa besar cadangan yang harus disiapkan perusahaan asuransi untuk membayar klaim.
Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), Paul Setio Kartono, menggambarkannya dengan menarik: “Aktuaris merupakan gabungan antara ilmu fisik seperti matematika, dan ilmu sosial seperti ekonomi dan demografi. Ini menjadikan aktuaris profesi yang unik.”
Kelangkaan yang Menciptakan Peluang
Mari bicara fakta. Berdasarkan data PAI per 31 Maret 2024, Indonesia hanya memiliki 817 orang yang mengantongi gelar profesi aktuaris. Dari jumlah itu, 532 orang bergelar FSAI (Fellow of Society of Actuaries of Indonesia) atau aktuaris penuh, dan 285 orang bergelar ASAI (Associate of Society of Actuaries of Indonesia) atau ajun aktuaris.
Bisa kita bayangkan 817 orang untuk melayani populasi 275 juta jiwa apakah cukup?. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat memiliki sekitar 33.600 aktuaris untuk populasi 330 juta jiwa menurut data Bureau of Labor Statistics 2024. Rasio per kapita kita sangat jauh tertinggal.
Kelangkaan ini bukan tanpa sebab. Untuk menjadi aktuaris bersertifikasi, seseorang harus melewati serangkaian ujian profesional yang diakui secara internasional. Ujian Level ASAI terdiri dari 7 modul—mulai dari Matematika Keuangan, Probabilitas dan Statistika, hingga Pemodelan dan Teori Risiko. Setelah itu, masih ada ujian Level FSAI yang lebih advanced.
Prosesnya memang panjang. Rata-rata dibutuhkan 3-5 tahun untuk menyelesaikan semua ujian dan menjadi aktuaris penuh. Tapi justru di situlah nilai profesi ini terbentuk.
Tentang Gaji: Bukan Sekadar Angka
Saya tidak ingin menjebak pembaca dengan fantasi angka-angka besar. Tapi faktanya memang menarik.
Menurut Paul Kartono, berdasarkan survei pasar, aktuaris di Indonesia bisa menghasilkan lebih dari Rp100 juta per bulan. Data dari berbagai sumber juga menunjukkan kisaran yang konsisten: lulusan baru dengan sertifikasi awal bisa memulai dengan gaji Rp7,5 juta hingga Rp16,7 juta per bulan. Setelah lulus ujian level ASAI, gajinya melonjak ke kisaran Rp10 juta hingga Rp25 juta. Dan untuk aktuaris penuh dengan gelar FSAI di posisi Appointed Actuary, kompensasi bisa mencapai Rp50 juta per bulan atau lebih.
Yang lebih menarik, kenaikan karir di profesi ini relatif cepat. “Rata-rata, dari entry level sampai manajer itu bisa 2 sampai 3 tahun. Mungkin profesi lain di perusahaan yang sama bisa 5 tahun lebih,” kata Paul. Setiap kali lulus ujian, ada kenaikan gaji. Sistem ini menciptakan insentif untuk terus belajar dan berkembang.
Tapi saya ingin menekankan sesuatu: gaji tinggi bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah apa yang mendasari gaji tersebut, tidak lain dan tidak bukan adlaah keahlian langka, tanggung jawab besar, dan dampak nyata terhadap industri keuangan.
Peluang di Depan Mata
Industri asuransi Indonesia masih menyimpan ruang pertumbuhan yang besar. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2024 menunjukkan penetrasi asuransi kita baru mencapai 2,80% dari PDB. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah 4,8%, atau Singapura yang mencapai 11,4%.
Artinya apa? Industri ini akan terus tumbuh. Dan setiap pertumbuhan membutuhkan lebih banyak aktuaris.
Bahkan di awal 2024, OJK mencatat masih ada 15 perusahaan asuransi yang belum memiliki aktuaris. Regulasi terbaru juga mewajibkan perusahaan asuransi dan pemimpin aktuaria bergelar aktuaris. Belum lagi rencana spin off unit syariah dan amanat UU P2SK yang memandatkan OJK dan Kemenkeu untuk memiliki aktuaris. Kebutuhan akan terus meningkat.
Di luar asuransi tradisional, aktuaris juga mulai dibutuhkan di bidang-bidang baru: data analytics, AI, climate risk, cyber risk, hingga fintech dan insurtech. Profesi ini tidak akan ketinggalan zaman—justru akan semakin relevan.
Kembali ke Kiyosaki
Dalam Cashflow Quadrant, Kiyosaki membagi orang ke dalam empat kuadran: Employee, Self-Employed, Business Owner, dan Investor. Pesan utamanya: kebebasan finansial datang ketika kita bergerak dari kuadran kiri (E dan S) ke kuadran kanan (B dan I).
Aktuaris memiliki posisi unik. Sebagai profesional, mereka bisa berada di kuadran Employee dengan kompensasi yang menyaingi pemilik bisnis kecil. Tapi dengan keahlian mereka, banyak yang kemudian bergerak ke Self-Employed sebagai konsultan independen, atau bahkan menjadi Business Owner dengan mendirikan firma konsultansi aktuaria.
Lebih dari itu, pemahaman mendalam tentang risiko dan keuangan membuat aktuaris memiliki keunggulan natural untuk menjadi investor yang cerdas. Mereka terlatih untuk berpikir jangka panjang, menghitung probabilitas, dan mengelola ketidakpastian, ini persis keterampilan yang dibutuhkan dalam investasi.
Mengapa Prodi Aktuaria Masih Sepi?
Ini isu yang menarik. Profesi dengan prospek luar biasa, gaji tinggi, dan permintaan pasar besar, namun program studinya masih sepi peminat.
Saya pikir ada beberapa alasan.
Pertama, kurangnya informasi. Tanyakan pada siswa SMA atau orang tua mereka: apa itu aktuaris? Kebanyakan tidak tahu. Berbeda dengan dokter, insinyur, atau pengacara yang sudah mapan dalam imajinasi publik, aktuaris masih menjadi “profesi tersembunyi.”
Kedua, persepsi bahwa matematika itu menakutkan. Memang, aktuaria membutuhkan fondasi matematika dan statistika yang kuat. Tapi bagi mereka yang memang menikmati pemecahan masalah dan angka, ini justru menjadi daya tarik, bukan hambatan.
Ketiga, jalur karir yang tidak instan. Di zaman yang menginginkan segalanya cepat, proses sertifikasi 3-5 tahun mungkin terasa lama. Padahal, justru itulah yang menciptakan nilai premium profesi ini.
Saya menulis artikel ini bukan untuk menjual mimpi kosong. Menjadi aktuaris memang tidak mudah. Ujiannya sulit. Prosesnya panjang. Butuh ketekunan dan konsistensi.
Tapi kabar baiknya, siapapun bisa menjadi aktuaris. Tidak perlu lahir dari keluarga kaya. Tidak perlu koneksi istimewa. Yang dibutuhkan adalah kemauan belajar dan keberanian mengambil jalan yang belum banyak dilalui.
PAI sendiri sudah mencatat ada 4.432 kandidat yang sedang dalam proses ujian. Ini menunjukkan minat yang mulai tumbuh. Universitas-universitas juga mulai membuka program studi aktuaria dengan kurikulum yang selaras dengan standar internasional.
Bagi mahasiswa yang sedang mencari arah, pertimbangkanlah. Profesi langka dengan gaji miliaran memang ada. Pertanyaannya bukan apakah peluang itu nyata—karena jelas nyata. Pertanyaannya adalah: apakah Anda berani mengambilnya?
Ditulis oleh: Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
