DNKindergarten, 11/05
Salah satu tujuan utama pengajaran disiplin pada anak adalah melatihnya bertanggung jawab atas perbuatannya. Banyak anak yang terkadang lari dari tanggung jawabnya, seperti mengatakan “ tapi aku kan tidak sengaja…”. Namun, hal yang lebih buruk lagi yaitu anak menyangkal perbuatannya walaupun pada kenyataannya ia tertangkap basah.
Agar anak memahami dan menerima konsep tanggung jawab, ia harus :
1. Ia harus menyadari bahwa setiap tingkah lakunya akan berdampak pada orang di sekitarnya.
2. Memegang kendali atas kelakuannya sendiri dan dirinyalah yang membuat pilihan untuk berperilaku dan menaati peraturan.
3. Siap mengakui akibat perbuatannya dan berusaha memperbaiki.
Yang bisa anda lakukan mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya yaitu mengaitkan secara jelas perbuatannya dengan penghargaan atau hukuman yang diperoleh. Karena itu, anda harus menanggapi tingkah lakunya dengan cepat sesuai usia.
Sebagai patokan, jarak waktu antara perbuatan anak dan reaksi anda tidak boleh lebih dari hitungan detik jika ia berusia 2 tahun, menit jika ia berusia 4 tahun dan jam jika ia berusia 7 atau 8 tahun.
Selalu berikan penjelasan atas penghargaan atau hukuman yang anda berikan.
5 Tips untuk Orang tua :
1. Tumbuhkan rasa sensitive.
Mintalah anak untuk berpikir bagaimana perasaan orang lain akibat perbuatannya. Anda dapat berharap memperoleh jawaban yang lebih dari sekedar, ‘Aku Tidak Tahu’ seperti yang biasa ia lontarkan.
2. Selalu jelaskan hukuman dan penghargaan.
Jangan memberi penghargaan atau hukuman tanpa penjelasan.
3. Berikan hukuman sesuai porsinya.
Anak tidak akan mau bertanggung jawab jika reaksi anda berlebihan. Sebaliknya, ia akan berusaha keras untuk menutupi-nutupi kesalahannya.
4. Jaga agar peraturan selalu konsisten.
Salah satu keuntungan memiliki pendekatan disiplin yang konsisten dan terstruktur adalah anak akan belajar memperkirakan secara tepat reaksi yang anda berikan terhadap kesalahan yang ia perbuat.
5. Memperbaiki kesalahan.
Temukan cara agar anak dapat memperbaiki kesalahannya. Misalnya, ia bisa minta maaf pada anak yang mainannya ia rusak.
Sumber : Erlangga for Kids
(sita,[email protected])