Pandangan mata tertuju pada sebuah tulisan yang tertempel di dinding saat menaiki tangga sebuah bangunan megah. Entah mengapa hati tergelitik dengan tulisan bercorak kekuningan dengan bingkai kayu warna cokelat itu.

“Annadzofatu minal imaan” begitulah kira-kira bunyi tulisan yang dibawahnya tertera kalimat dalam bahasa Indonesia “kebersihan sebagian dari iman”

Sebuah kalimat yang tak asing lagi bagi sebagian orang, karena peribahasa ini sudah begitu familiar bagi sebagian penduduk indonesia yang mayoritas muslim.

Namun sepertinya jauh panggang dari api, perkataan tak sesuai dengan perbuatan. Sampah bertebaran dimana-mana, bukan hanya di lingkungan rumah, tempat umum, bahkan di sebuah sekolah tempat anak belajar sampahpun sepertinya enggan berpindah tempat.

Ketika jam istirahat usai dan siswa berdiri dari tempatnya bercengkrama bersama teman untuk kembali ke kelas, maka disitulah mata tertuju pada bekas-bekas bungkus dan sisa makanan berserakan di lantai. Entah mengapa tangannya begitu enggan menggapai tempat sampah yang jaraknya hanya kisaran 3 meter dari tempet mereka duduk.

Kebiasaan merapikan atau membuang sampah pada tempatnya merupakan pembiasaan yang dilakukan saat anak di rumah. Bagaimana seorang anak dilibatkan dalam aktifitas orang tua di rumah seperti menyapu, mencuci piring, merapikan mainan dll. Medelegasikan suatu pekerjaan juga merupakan pembelajaran bagi anak untuk bertanggung jawab.

Walaupun di rumah ada asisten rumah tangga yang dapat mengerjakan semuanya, namun jangan dilupakan pula proses pembelajaran dan pembiasaan anak untuk memupuk jiwa mandiri, tolong menolong dan bertanggung jawab.

Sepertti sebuah postingan di media sosial yang menarik jutaan netizen dengan komntar-komentarnya. Ketika sebuah keluarga makan disebuah restoran kemudian setelah selesai ikut membersihkan dan merapikan meja seperti semula, bersih dan rapi seperti saat mereka datang.

Mungkin dalam pikiran sebagian orang, itukan sudah jadi tanggung jawab karyawan restoran, saya kan sudah bayar wajar dong setelah selesai tinggal pergi saja, lagian kalau saya beresin terus kerjaan karyawan disitu ngapain? Makan gaji buta gitu?

Itulah cara pikir yang harus di rubah, sebuah tradisi warisan kolonial yang terbawa sampai sekarang, dilayani, dilayani, dilayani tanpa mau melayani. Sebuah kebiasaan kecil remeh temeh namun bisa jadi akan menjadi sebuah bencana besar dikemudian hari.

Ujian mid semester yang sebagian materinya tentang kebersihan dijawab dengan sempurna, namun korelasi antara jawaban dengan tindakan sepertinya jauh dari kenyataan, anatara ucapan dan perbuatan tidak sinkron. Inilah tugas orang tua di rumah membiasakan anaknya untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya dan juga tugas guru di sekolah mengarahkan, meneruskan dan menyempurnakan apa yang sudah menjadi kebiasaan positif di rumah.

Kamar kecil/wc di sekolah bau pesing dan kotoran ada yang tidak disiram setelah digunakan siswa, bisa jadi itulah gambaran anak ketika di rumah, bisa jadi itulah kebiasaan anak di rumah. Bisa saja semuanya dikerjakan oleh karyawan, namun proses pendidikan akan berjalan pada satu sisi saja. Bagaimana pendidikan karakter bisa diterapkan jika siswanya sendiri tidak dilibatkan, bagaimana rasa tanggung jawab diajarkan bila siswa tidak dilatih memikul tanggung jawab, bagaimana jiwa sosial ditumbuh kembangkan jika siswanya acuh terhadap lingkungan sekitar.

Maka sinergi antara orang tua dan pihak sekolah (guru) dalam mendidik anak  akan menjadi sebuah kombinasi dahsyat untuk mewujudkan manusia-manusia unggul yang ber IMTAQ dan ber IMTEQ yang menjadi kebanggan orang tua dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.