
Abu Darda’ Al-Anshari memeluk Islam pada peristiwa Perang Badar. Ia juga ikut pada Perang Uhud, bahkan seluruh peperangan bersama Rasulullah saw. Ia terhitung dalam sahabat yang paling paham agama dan berwawasan luas. Nama aslinya ‘Uwaimir bin Amir atau dikatakan ‘Umair bin Qais bin Said Al-Anshari.
Abu Darda seorang pedagang yang banyak beribadah, banyak ikut dalam peperangan, puasa di siang hari, dan bangun, shalat di malam hari. Rasulullah saw telah mempersaudarakannya dengan Salman Al-Farisi yang suatu ketika menasihatinya, “Wahai Abu Darda’, sesungguhnya tubuh kamu mempunyai hak, Tuhan dan keluargamu juga mempunyai hak atas kamu, maka berpuasalah dan berbukalah lalu datangilah istrimu, berilah setiap yang berhak akan haknya.” Karena selama ini Abu Darda’ selalu berpuasa siang hari dan bangun beribadah sepanjang malam dan tidak mendatangi istrinya.
Manakala terbuka kepulauan Qabras pada zaman kekhalifahan ‘Ustman bin ‘Affan, dibawalah seorang hamba sahaya ke hadapan Abu Darda’, maka menangislah Abu Darda’. Dikatakan kepadanya, “Engkau menangis di hari Allah swt memuliakan Islam dan orang-orangnya?”
Jubair berkata, Abu Darda’ berkata. “Wahai Jubair, jelaslah bagi umat ini, jika mereka mengingkari hukum Allah swt, kelak mereka akan menuai hasil dari perbuatan mereka. Betapa rendah hamba yang mengingkari perintah Allah swt.”
Seakan-akan tangisan Abu Darda’ tumpah disebabkan hinanya seorang hamba dan umat ini dikarenakan perbuatan dosa mereka kepada Allah swt. Inilah yang terjadi atas umat penghujung zaman ini, mengingkari hukum-hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, maka Allah swt tuangkan ke atas mereka dengan keburukkan-keburukkan dan diliputi kehinaan. Tak ada kemuliaan bagi umat Islam dan umat Muhammad ini, kecuali dengan menaati perintah-perintah Allah swt.
Siapa yang takut kepada-Nya, Allah swt menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Siapa yang tidak takut kepada Allah swt, maka segala sesuatu menjadi menakutkan baginya.
(WARDAN/Rabiah Adawiyah)