Pernahkah kita mendengar atau bahkan terlibat dalam situasi di mana orang-orang saling mengejek dan menghina? Mungkin di sekolah, tempat kerja, atau bahkan di media sosial? Perilaku seperti ini sayangnya semakin umum terjadi di masyarakat kita. Namun, tahukah kita bahwa Islam sangat melarang perilaku saling ejek dan hina ini?
Tulisan ini membahas tentang larangan saling ejek dan hina dalam Islam, dampak negatifnya, serta bagaimana kita dapat membangun persaudaraan yang kuat antar sesama muslim.
Berikut uraiannya:
Mengapa Islam Melarang Saling Ejek dan Hina?
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kehormatan dan martabat manusia. Allah SWT telah memuliakan anak cucu Adam, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra: 70)
Oleh karena itu, merendahkan atau mengejek sesama manusia berarti tidak menghargai kemuliaan yang telah Allah berikan.
Bagaimana Dampak Negatif dari Kebiasaan Saling Ejek?
Kebiasaan saling ejek dan hina dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Hal ini dapat merusak hubungan antar individu, menciptakan permusuhan, dan bahkan memecah belah persatuan umat. Dr. Ali Shariati, seorang sosiolog Muslim terkemuka, pernah berkata: “Saling menghormati adalah fondasi dari masyarakat yang sehat dan beradab.”
Lebih jauh lagi, perilaku ini dapat menyebabkan trauma psikologis pada korbannya, terutama jika terjadi secara berkelanjutan seperti dalam kasus bullying.
Apa Kata Al-Qur’an tentang Larangan Saling Hina?
Al-Qur’an dengan tegas melarang perilaku saling mengejek dan menghina. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Bagaimana Hadits Nabi Memandang Perilaku Mengejek?
Rasulullah SAW juga sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dan menghindari perilaku mengejek. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Muslim (yang sejati) adalah orang yang muslim lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40)
Hadits ini menegaskan bahwa seorang muslim sejati tidak akan menyakiti saudaranya, baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Mengapa Kita Harus Menghormati Perbedaan Pendapat?
Islam mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan pendapat. Perbedaan adalah rahmat dan merupakan bagian dari fitrah manusia. Imam Syafi’i, salah satu ulama besar dalam Islam, pernah berkata: “Pendapatku benar tapi mungkin salah, pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.”
Sikap saling menghormati perbedaan ini akan menciptakan suasana yang harmonis dan mendorong kemajuan pemikiran dalam masyarakat.
Apa Hukumnya Mengejek Orang Lain dalam Islam?
Mengejek orang lain dalam Islam termasuk perbuatan yang dilarang dan berdosa. Allah SWT memperingatkan kita dalam Al-Qur’an:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah: 1)
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa mengejek dan mencela orang lain adalah perbuatan yang akan mendatangkan celaka bagi pelakunya.
Apa Dampak Saling Ejek terhadap Persatuan Umat?
Perilaku saling ejek dapat merusak persatuan umat. Hal ini dapat menciptakan perpecahan, permusuhan, dan melemahkan ikatan persaudaraan antar sesama muslim. Padahal, persatuan umat sangat ditekankan dalam Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Muslim no. 2586)

Mengapa Kita Perlu Menjaga Lisan dari Ucapan Buruk?
Menjaga lisan dari ucapan buruk adalah salah satu ajaran penting dalam Islam. Lisan yang tidak terjaga dapat menimbulkan banyak kerusakan. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali: “Lisan adalah pedang yang tajam, jika tidak dijaga dengan baik, ia bisa melukai pemiliknya sendiri.”
Mengapa Bullying Dilarang Keras dalam Islam?
Bullying, yang merupakan bentuk ekstrem dari perilaku mengejek dan menghina, sangat dilarang dalam Islam. Hal ini karena bullying dapat menyebabkan kerusakan psikologis yang serius pada korbannya. Islam mengajarkan untuk saling menyayangi dan melindungi, bukan menyakiti.
Mengapa Kita Harus Berhati-hati dalam Berucap?
Setiap kata yang kita ucapkan memiliki konsekuensi. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap ucapan kita di hari kiamat. Allah SWT berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Bagaimana Membangun Persaudaraan yang Kuat Antar Umat Islam?
Untuk membangun persaudaraan yang kuat, kita perlu menghindari perilaku saling ejek dan hina. Sebaliknya, kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, memahami, dan memaafkan. Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradawi: “Persaudaraan Islam dibangun di atas dasar cinta, kasih sayang, dan saling menghormati.”
Kesimpulan
Islam dengan tegas melarang perilaku saling ejek dan hina karena hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam tentang kemuliaan manusia dan persaudaraan. Perilaku ini tidak hanya berdampak negatif pada individu, tetapi juga dapat merusak persatuan umat. Sebagai muslim, kita dituntut untuk menjaga lisan, menghormati perbedaan, dan membangun persaudaraan yang kuat.
Penutup
Marilah kita senantiasa berusaha untuk menjadi muslim yang baik dengan menjaga lisan dan perilaku kita. Semoga dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam tentang larangan saling ejek dan hina ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang. Ingatlah bahwa setiap kata yang kita ucapkan memiliki dampak, baik pada diri kita sendiri maupun orang lain.
Langkah Selanjutnya: Bagaimana Kita Bisa Mulai Memperbaiki Diri?
Mari kita mulai dengan introspeksi diri. Apakah kita pernah terlibat dalam perilaku mengejek atau menghina orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung? Jika ya, mari kita bertaubat dan berkomitmen untuk memperbaiki diri. Mulailah dengan hal-hal kecil, seperti menjaga ucapan kita sehari-hari dan berusaha untuk selalu berprasangka baik kepada orang lain. Ingatlah bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten.