Sekitar 700 santriwati memenuhi Lapangan Stadion Kampus 3 pada Jumat, 7 Agustus 2026 pagi. Mereka mengikuti Gladi Perdana Apel Tahunan ke-39 yang digelar Departemen Pengasuhan sebagai latihan pertama menjelang puncak acara pada 22 Agustus 2026. Barisan yang tertata rapi pagi itu menyimpan pesan sederhana namun dalam: kedisiplinan lahir dari pengulangan, bukan dari kebetulan. Di lapangan yang sama, ratusan santriwati belajar bahwa keindahan sebuah formasi selalu bermula dari kesediaan setiap orang menyesuaikan langkahnya dengan barisan.

Gladi perdana ini menampilkan seluruh rangkaian penampilan santriwati yang akan disuguhkan pada Apel Tahunan dan Khutbatul ‘Arsy ke-39 nanti. Setiap kelompok tampil bergantian di hadapan dewan guru dan panitia untuk diukur kesiapannya. Adapun penampilan yang digladi meliputi:
- Paduan Suara
- Drumband
- Pasukan Khusus (PASUS)
- Demo Ekstrakurikuler
Peserta gladi mencakup seluruh santriwati kelas 1 hingga kelas 6 TMI. Rentang usia yang lebar ini menuntut penyesuaian ritme antara santriwati baru yang masih meraba pola barisan dan santriwati senior yang telah melewati beberapa musim apel. Kegiatan dikawal oleh panitia Apel Tahunan dan Khutbatul ‘Arsy ke-39 yang berjumlah tujuh orang, dibantu santriwati kelas 6 TMI Pinnacle Generation. Bagi para santriwati kelas akhir tersebut, gladi ini sekaligus menjadi ruang belajar memimpin sebelum mereka menuntaskan masa pengabdian di pesantren.
Kehadiran para pimpinan menegaskan bobot kegiatan ini. Gladi perdana disaksikan langsung oleh Wakil Pengasuh, Pengawas Pesantren, Direktur Pengasuhan, beserta seluruh dewan guru Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Kehadiran mereka memberi bobot berbeda pada latihan pagi itu, karena setiap gerak dan suara diamati untuk kemudian dinilai. Bagi santriwati, tatapan para guru menjadi pengingat bahwa latihan pun layak dijalani dengan kesungguhan yang sama seperti hari pertunjukan.
Departemen Pengasuhan menempatkan gladi perdana sebagai tolok ukur sekaligus bahan evaluasi menuju pelaksanaan Apel Tahunan ke-39 pada 22 Agustus 2026. Melalui latihan ini, panitia dapat memetakan bagian mana yang telah rapi dan bagian mana yang masih memerlukan penajaman, mulai dari ketepatan formasi hingga keserasian tempo. Pendekatan tersebut memungkinkan perbaikan dilakukan lebih awal, jauh sebelum ribuan pasang mata menyaksikan penampilan sesungguhnya. Secara keseluruhan, rangkaian gladi perdana berjalan dengan baik dan lancar sesuai rencana panitia.
Di balik derap langkah dan tabuhan genderang, tersimpan pelajaran yang jarang tertulis dalam buku pelajaran. Apel Tahunan mengajarkan santriwati bahwa amal yang baik menuntut persiapan, dan bahwa kesungguhan dalam perkara kecil menentukan mutu perkara besar. Islam mengajarkan itqan, yakni menyempurnakan pekerjaan sebaik mungkin, dan latihan berulang di lapangan adalah wujud paling konkret dari ajaran tersebut. Ketika ratusan santriwati bersedia mengulang gerakan yang sama demi keselarasan bersama, di situlah karakter sesungguhnya sedang dibentuk.
Kompaknya barisan juga menyimpan makna sosial yang penting. Sebuah formasi hanya akan terlihat indah apabila setiap individu bersedia menahan diri, menyamakan langkah, dan memercayai rekan di kanan-kirinya. Nilai kebersamaan semacam ini menjadi bekal yang akan terus terpakai jauh setelah para santriwati meninggalkan bangku pendidikan. Dari lapangan, mereka membawa pulang pemahaman bahwa keberhasilan kolektif selalu menuntut kerelaan pribadi.

Dengan waktu tersisa sekitar dua pekan menuju 22 Agustus 2026, evaluasi dari gladi perdana menjadi modal utama perbaikan. Panitia dan seluruh peserta masih memiliki ruang untuk mematangkan setiap detail penampilan. Wali santri, alumni, dan masyarakat sekitar dapat turut menyemarakkan Apel Tahunan dan Khutbatul ‘Arsy ke-39 dengan hadir menyaksikan langsung penampilan para santriwati. Dukungan dan doa dari luar pagar pesantren akan menjadi penyemangat tambahan bagi mereka yang kini tengah berlatih di bawah terik matahari.
