
Sebanyak 148 santri mengunjungi International Islamic Book Fair (IBF) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Mereka datang dari berbagai tingkatan kelas. Kunjungan ini mempertemukan santri langsung dengan buku dan orang-orang yang menghidupkannya. Wahyu pertama dalam Islam dibuka dengan perintah Iqra’, yang berarti “bacalah”. Dari perintah itulah tradisi ilmu bermula, dan di Senayan para santri belajar memaknainya.
Para santri berangkat dari Pesantren Darunnajah 2 Cipining untuk mengikuti pameran yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta. Mereka tidak datang sendirian. Banyak murid dari sekolah lain juga hadir di lokasi yang sama. Suasana pameran pun ramai oleh para pelajar yang ingin mengenal dunia buku dari dekat.
Di dalam arena, pengunjung dapat menikmati beragam kegiatan. Rangkaian utama IBF mencakup:
- pameran ribuan buku dan ratusan tenant;
- seminar inspiratif;
- program keluarga;
- temu penulis;
- pameran produk dalam ekosistem halal dan pendidikan.
Pesantren berharap kunjungan ini memperdalam wawasan santri tentang membaca. Santri diharapkan pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang makna literasi. Membaca di sini dipahami sebagai proses panjang yang membentuk cara berpikir dan karakter. Hasil akhirnya bukan jumlah buku yang dibeli, melainkan sikap santri terhadap ilmu.


Menurut IKAPI DKI Jakarta, IBF diselenggarakan untuk meningkatkan literasi Islam dan memperkuat ekosistem nilai-nilai syariah di tengah masyarakat. Ratusan penerbit dihadirkan di satu tempat. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah dan terjangkau dalam mendapatkan referensi keislaman yang sahih dan mendalam. Pameran ini juga menjadi sarana menumbuhkan minat baca.
IBF juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan dakwah. Seminar, bedah buku, tabligh akbar, dan temu penulis menjadi media menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan inklusif. Di sisi lain, pameran ini menggerakkan ekonomi kreatif Muslim. Produsen dan konsumen bertemu langsung, mulai dari penerbit buku, busana muslim, kuliner halal, keuangan syariah, hingga agen perjalanan haji dan umrah.
Acara ini turut menjadi ruang silaturahmi bagi ekosistem pendidikan Islam. Tokoh agama, penulis, penerbit, akademisi, pondok pesantren, orang tua, dan generasi muda berkumpul dalam satu lokasi. Mereka saling bertukar gagasan dan membangun jaringan kerja sama. Bagi santri, suasana ini memberi gambaran bahwa menuntut ilmu, yang dalam ajaran Islam menjadi kewajiban, berlangsung di banyak tempat dan bersama banyak orang.

Kegiatan berlangsung lancar. Seluruh peserta aktif mengikuti rangkaian acara selama kunjungan. Keaktifan itu menjadi modal awal bagi tumbuhnya kebiasaan membaca yang lebih kuat di lingkungan santri.
Kunjungan ke IBF menunjukkan bahwa budaya baca dapat dibangun lewat pengalaman langsung. Harapannya, santri membawa semangat itu kembali ke asrama dan kelas, lalu menjadikan buku sebagai teman belajar sehari-hari. Orang tua, guru, dan masyarakat diajak membiasakan membaca di rumah, mendampingi anak memilih bacaan bermutu, serta meluangkan waktu mengunjungi pameran buku. Bacaan yang baik bermula dari kebiasaan kecil yang dijaga bersama.
