Tulisan ini adalah Transkrip dari Ceramah KH Zainuddin MZ (Alm);

Lanjutan dari: 10 Musuh Setan (Part 1)

Saudara-saudara, kita maklum bahwa shalat merupakan sarana yangpaling efektif untuk mendekatkan manusia kepada Allah. Makin dekat manusia dengan Allah, makin tidak seneng iblis dan setan. Karena itu segala macam cara mereka berusaha mengaduk-aduk shalat kita. Dan sesungguhnya jikalau kita mengerjakan shalat, itu kan targetnya cuma dua; pertama, agar shalat kita itu sah. Yang kedua, agar shalat kita itu qabul, yakni diterima oleh Allah. Kalau soal sah dan tidak, ukurannya gampang. Saya kalau ditanya orang, “Pak, shalat saya atau tidak?” Saya bisa jawab, “Saudara shalatnya syarat rukunnya cukup apa tidak?” “Cukup.” “Sah.” Itu kalau perkara sah. Tapi kalau sudah perkara qabul. “Pak, shalat saya diterima atau tidak oleh Allah?” Ini saya tidak bisa jawab. Kenapa? Soal qabul mencakup masalah batin. Cuma ukuran logikanya, kalau syarat rukun cukup, insya Allah qabul.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, oleh karenanya pada saat kita shalat iblis, setan, datang dari segala macam penjuru supaya kita kehilangan rasa khusyu’. Apalagi kalau kita jadi imam yang gerak kita, bacaan kita, dilihat, didengar, disaksikan oleh orang banyak, digodanya gerakan kita, dibolak-baliknya hati kita supaya di dalam shalat itu banyak yang kita ingat, hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Kadang-kadang belum shalat kita ribut nyari pulpen, gak ketemu. Begitu takbir, ingat pulpen di atas lemari. Mulai goncang lagi niat kita shalat. Kadang-kadang kalau hati tidak bisa dipermainkan, iblis berbisik lagi, gerakan kita dalam shalat tidak mencerminkan kekhusyukan. Kalau gerak juga ternyata masih bisa khusyuk, bacaan kita dibuatnya kita seperti dikejar-kejar waktu. Shalat Isya’ misalnya dengan cara kilat khusus, super singkat. Saya katakan tadi apalagi kalau kita jadi imam, iblis mudah mendatangkan penyakit Riya’. Karena mengimami orang banyak, lalu supaya dikira alim dibuatlah shalatnya itu mantep-mantep, suratnya dicari yang panjang-panjang, paling pendek Sabbihis sama Wadhdhuha. Tapi kalau sudah shalat sendirian, cukup Inna a’thainakal kautsar sama Qul huwallahu ahad. Kayaknya khusyuk bukan main, kalau imam. Bahasa difasih-fasihin kayak orang enam belas tahun di Makkah. Ushallahi fardhal maghribi tsalatsa rakaatin.

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia, oleh karena shalat merupakan sarana yang paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka orang yang khusyuk di dalam shalatnya merupakan musuh utama daripada iblis. Sekarang bagaimana bisa khusyuk caranya. Kalau khusyuk 100%, rasa-rasaya sulit. Untuk sampai ke arah sana orang memerlukan tahapan. Kepada Imam Ali karramallahu wajhah baginda Nabi pernah memberikan satu test case. “Ali!” “Saya, ya Rasul.” “Kalau kau bisa shalat dua rakaat saja dengan khusyuk, aku kasih hadiah surban.” “Baik, ya Rasul.” Sembahyang Imam Ali dua rakaat. Selesai shalat, assalu’alaikum assaluma’alaikum, Rasul bertanya, “Yang mana surbannya, Li.” Tanpa nengok, Imam Ali menjawab, “Yang ijo, ya Rasul.” Setelah menjawab, “Yang ijo.” Rasul berkata, “Kamu tidak khusyuk, Li.” Kenapa? Soalnya tadi waktu sembahyang mikirin, “Nanti kalau ditawarin surban pilih yang ijo aja ah.” Sehingga begitu ditanya, reflek menjawab, “Yang mana, Li?” “Yang ijo saja, ya Rasul.” Oleh karena itu menurut al-Imam Nawawi pada tingkatan yang paling sederhana, sudah sampai ke tingkat khusyuk asal pada waktu takbiratul ihram ingat kepada Allah. Tapi jangan lupa itu tangga pertama. Jangan ada fatwa begini lalu aman. “Yang penting kan takbirnya inget Tuhan. Sebelah sononya mah mau kemana kek.” Bukan itu. Itu pada tingkatan pertama. Sudah sah, dipandang khusyuk, shalatnya orang awam asal pada waktu takbiratul ihram dia ingat kepada Allah. Tetapi harus terus berusaha agar sepanjang shalat dia ingat kepada Allah. Caranya bagaimana? Pertama, menanamkan diri bahwa pada saat kita sedang mengerjakan shalat yang lain tidak ada kecuali Allah. Yang kedua, berusaha memahami apa yang kita baca. Sehingga pada saat kita sujud, subahana rabbiyal a’la wa bihamdih, terbayang ke-Mahasucian Allah, ke-Mahatinggian Allah, sehingga hati tidak mengembara. Mulut berucap hati mengikuti apa yang diucapkan. Yang kadang-kadang membuat hati kita jalan-jalan; badan di masjid, badan takbir, badan ruku’, tapi hati di pasar, hati di kantor, hati di pabrik, karena yang kita ucapkan tidak barakar di hati. Yang kita baca kita gak tahu artinya. Sangat boleh jadi hati lalu mengembara ke mana-mana. Jadi untuk menopang kekhusyukan ini cara yang paling efektif; Pertama, tidak ada yang lain pada waktu kita shalat kecuali Allah. Yang kedua, berusaha memahami apa yang kita baca. Dikala kita duduk di antara dua sujud, rabbighfirli, ya Allah ampuni dosa saya, warhamni, kasihani saya, dan selanjutnya. Mulut membaca hati mengikuti. Dengan mengikuti hati tidak terlalu mengembara. Ada tempat ia kembali.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, itu yang kelima. Yang keenam, yang menjadi musuh iblis,

مؤمن ناصح

“Orang mukmin yang suka memberikan nasehat.”

Orang yang mukmin yang suka memberikan petunjuk. Termasuk juru-juru dakwah, para muballigh, itu merupakan musuh utama iblis. Kenapa? Tiap hari iblis kampanye. Tiap hari iblis mengajak dengan segala macam cara yang kalau perlu dia berikan kamuflase, dia berikan fatamorgana. Kalau perlu, yang haram dia bungkus dengan merek halal. Kalau perlu, kejahatan dia bungkus dengan baju kebajikan. Istilahnya racun diberi mereka madu. Dan itu wajar. Cuma kita tentu harus punya filter, daya saring positif agar tidak salah pilih. Karena iblis ini pinter betul. Kalau kita khusyuk dalam shalat dia tanamkan kepada kita misalnya seperti tadi itu, “Shalatmu memang hebat, khusyuk. Di kampung ini tidak ada orang yang shalatnya seperti kamu.” Tertanam itu dalam hati kita, timbul ujub. Akhirnya, “Iya, gue lihat-lihat di kampung sini kagak ada yang sembahyangnya kayak gua.” Nah, sudah masuk iblis. Jadi dia pandai mengikuti gerak hati dan irama denyut jantung manusia ini. Kemana kecenderungan manusia, kesitu dia masuk. Pendeknya iblis itu ibarat tukang joged dia ngerti bener irama gendang.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, termasuk juru-juru dakwah, para muballigh, orang yang suka memberikan nasehat ini, mereka memberikan filter kepada umat, kepada jamaah, jangan sampai salah pilih. Dan iblis menyesatkan kita supaya kita salah pilih. Satu contoh ringan, kalau di depan saudara ada dua buah gelas. Yang segelas isinya jamu, yang segelas isinya sirup. Kira-kira saudara minum yang mana? Jamu apa sirup? Sirup apa jamu? Orang yang pikirannya panjang, dia pasti minum jamu. Pahit memang, getir memang, tapi besok badan sehat, tenaga kuat, gairah kerja ada, kreatifitas timbul, semangat menghadapi kehidupan tumbuh. Orang mukmin orang yang berpandangan jauh ke depan. Pandangannya panjang. Panjang kemana? Tidak cuma ke dunia. Sampai juga ia memandang ke alam barzah, ke akhirat. Shalat itu jamu, pahit. Ngaji, hadir di majlis ta’lim, itu jamu, pahit. Shadaqah jamu, pahit. Mengeluarkan uang untuk kepentingan orang lain, “Enak aja minta sumbangan, datang-datang, yang nyari peras keringat, banting tulang gue, loe datang-datang meminta.” Ia enak ngumpulin harta lalu bakhil bin pelit alias medit. Itu jamu.

Saudara hadirin yang saya muliakan, shadaqah jamu, pahit. Puasa jamu, pahit. Jihad jamu, pahit. Tapi nanti begitu kita meninggalkan dunia masuk ke alam barzah, apalagi pindah ke akhirat, baru terasa, “Waduh, nikmatnya dulu, kemarin itu minum jamu, sekarang badan sehat, tenaga kuat, kerja semangat. Nikmatnya dulu saya waktu di dunia shalat, rajin ngaji, suka shadaqah, suka menolong orang. Sekarang terasa manfaatnya. Begitu saya berada di alam barzah.” Apalagi sudah dibangkitkan di alam mahsyar di akhirat nanti, terasa seluruh kebajikan yang saya kerjakan. Nah, orang yang berpikir jangka pendek, cuma ngelihat yang ada di depan hidungnya saja. “Ngapain minum jamu, getir? Sirup nih, manis.” Dia minum. Dia ambil sirup, minum. Manis memang pada waktu minum. Tapi besok bibir jontor. Meninggalkan perintah Allah, sirup itu. Manis. Tidak shalat, manis. Tidak bayar zakat, sirup, manis. Tidak puasa, sirup, manis. Manis sekarang. Tapi nanti besok begitu masuk ke alam barzah. Begitu dibangkitkan di padang mahsyar di akhirat nanti, merintih kita menahan penyesalan yang sudah tidak ada artinya lagi. Sampai-sampai penduduk mahsyar itu yang berkata diceritakan dalam Quran,

يا ليتني كنت ترابا

“Wahai celaka, kenapa kita nggak jadi tanah saja.”

Menyesali kejadiannya, andaikata mereka bisa kembali hidup di dunia lagi, mereka akan minta kejadian yang kedua untuk berbuat baik. Tapi, tentu sudah penyesalan yang tidak ada gunanya lagi. Maka saudara-saudara, emang cuma jalan duluan kecebur di sumur yang nyesel duluan. Ada orang jalan, yang paling depan kecebur di sumur, “Itu tu gue nyesel duluan.” Nyesel duluan. Yang lain mesti nyeselnya belakangan.

Saudara hadirin yang saya muliakan, nah orang yang suka memberikan nasehat kepada orang lain dimusuhi iblis. Kenapa? Tentu nasehat yang membawa kebaikan. Iblis gak seneng betul itu. Kita nasehatin teman, “Udah berhenti dah, jangan pada mabok lagi!” Iblis geregetan bener. “Ni orang dilarang lagi.” Kita nasehatin temen, “Udah, jangan masang-masang lagi deh. Gak bakalan kena, dibohongin. Gak ada orang jadi kaya masang judi. Bangkrut malah loe.” Ini kan termasuk tipu daya iblis, judi dinamain sumbangan. Itu sama saja tuh. Racun mereknya madu. Judi dinamain sumbangan. Abang-abang becak pada nyumbang, kayak orang kaya lagunya.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, adalah kewajiban kita memang untuk tawashau bil haq, saling nasehat menasehati. Setiap kita juru dakwah. Setiap kita wajib menyampaikan apa yang sudah kita tahu kepada orang yang belum atau kurang tahu. Saudara yang bisa bismillah wajib mendakwahkan bismillah itu kepada orang yang belum tahu bismillah. Saudara bisa fatihah harus menyampaikan itu kepada orang yang belum bisa fatihah. Persetan dengan orang lain. Apalagi yang cuma kerjanya ngeritik saja. “Loe baru bisa fatihah doank sudah ngajar!” Biar aja yang diajarin gak bisa fatihah kok. Apa masalahnya pemerataan di bidang keilmuan. Sebab memang biasa penonton itu lebih pandai menilai. Kayaknya lebih pinter dari yang main. Sama saja orang nonton bola, ngomel melulu. Padahal dia sendiri belum tentu bisa main. Dengerin orang pidato pun begitu, monten bisa. Wah, kalau dia yang pidato satu jam kayak semenit. Tapi kalau si anu tuh kita udah pegel belum juga mau berhenti. Monten bisa. Coba dia suruh pidato. Udah seperempat jam masih amma ba’du, amma ba’du. Apa mau dibilang amma ba’du.

Yang ketujuh, yang menjadi musuhnya iblis,

تائب ثابت على توبته

“Orang yang bertaubat dan tetap di atas taubatnya.”

Secara jujur tidak ada manusia yang tidak punya salah. Dan orang yang baik memang bukan orang yang tidak punya salah. Karena tidak ada orang yang tidak punya salah. Orang yang baik adalah orang yang apabila melakukan kesalahan dia segera sadar, dijadikannya itu sebagai pelajaran untuk tidak diulanginya lagi pada masa yang akan datang. Biasanya kita menghakimi orang pinter. Kita gak merasa bahwa kita juga punya kesalahan. Kalau kita melihat maling ayam, kita teriak. Padahal kita nyolong kambing. Lebih besar dari si maling ayam. Merasa diri lebih bener dari yang lain padahal kita lebih kotor dan lebih jelek. Hilang sifat introspeksinya. Yang kita musuhi yang kita caci maki, tahu-tahu kita sendiri yang melakukannya.

Saudara-saudara kaum Muslimin, orang yang bertaubat dan tetap dalam taubatnya, stabil, itu musuh iblis. Apa ada orang yang taubatnya gak tetep? Ada. Yang istilah kita “taubat sambal” namanya. Kalau dia makan sambal kepedesan, tobat makan sambel. Besok mau makan kagak ada samel, ngomel. “Mana sambel?” Kemarin udah taubat, sekarang, “Mana sambel?” Ini taubat yang namanya taubat sambel. Istighfar. Habis istighfar nyolong lagi. Istighfar lagi. Besok nyolong lagi. Istighfar lagi. Itu taubat yang tidak tetap namanya. Allah Maha Pengasih dan Penyayang dengan segala kebesarannya. Ia akan memaafkan segala perbuatan yang bersifat salah dari hamba-hamba-Nya. Cuma manusia kadang-kadang yang tidak mau memaafkan dirinya sendiri. Amat dungu manusia macam ini. Membiarkan dirinya hanyut berlarut-larut dalam lembah dosa. Sementara dia diberikan umur tidak digunakannya untuk bertaubat.

إن الله يقبل التوبة العبد ما لم يغرغر

“Allah senantiasa akan menerima taubat seorang hamba sepanjang nafasnya belum sampai di tenggorokan.”

Kalau nafas sudah sampai di tenggorokan, baru berniat taubat, kasep, terlambat. Kayak Fir’aun. Fir’aun itu begitu ditenggelamkan di lautan merah, udah cengap-cengap mau mampus, baru ngomong dalam sekaratnya,

آمنت بربي موسى وهارون

“Kalau begini mah saya juga percaya ama Tuhannya Musa.”

Udah sekarat baru mau taubat. Malaikat Maut gemes banget. Dilelepin, mati. Kepada adik-adik remaja, biasanya kalau sudah bicara taubat, pikiran kita, “Ah, taubat mah urusan 70 tahun ke atas. Kita masih lama ini.” Sebenarnya tidak. Masalah taubat adalah masalah salah dan dosa. Masalah salah dan dosa adalah masalah manusia sejak dia aqil baligh sampai ajal datang merenggut nyawa. Hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Hidup ini tidak selalu berjalan di atas kertas putih. Kadang kita tersilap. Kadang kita tersalah. Kadang situasi dan kondisi menyebabkan kita berbuat lain dari yang seharusnya. Itu kehidupan. Silih berganti. Oleh karenanya pesan Nabi,

وأتبع السيئة الحسنة

“Perbuatan salah ikuti dengan kebajikan.”

Dosa iringi dengan taubat. Jangan nunggu. “Ah, saya untuk taubat takut nanti bikin lagi.” Nah, ini namanya punya harapan mau bikin lagi. “Nanti aja dah kalau tua-tuaan.” Saudara, kalau dosa itu ditumpuk, itu sama saja kotoran yang menodai hati. Kalau kotoran gak rajin kita bersihin, dia akan berkarat. Dan kalau sudah berkarat, sudah sulit untuk dibersihkan. Itu makna ungkapan Imamul Ghazali, “Hati manusia sebening kaca.” Lapisan dosa yang dia kerjakan adalah debu yang menutupi jernihnya kaca. Orang yang bersih dari dosa dekat dengan Allah, hatinya jernih seperti kaca. Dari hati yang jernih, radarnya kontak kepada Allah, sinyalnya nyambung, channelnya itu. Getarannya hebat. Wajar, kalau lalu dia bisa tahu apa yang besok akan terjadi. Diberitahu oleh Allah. Yang namanya ilmu laduni itu. Ilmu yang ditransfer langsung oleh Allah. Karena kebersihan hatinya. “Ah, mana ada orang gak belajar bisa pinter?” Iya, kalau hatinya buta, emang gak ada. Tapi kalau Allah mau berangkat dari hati yang bersih yang kontaknya nyambung kepada Allah. “Hati itu seperti kaca,” kata Imam Ghazali. Dosa yang kita lakukan adalah debu. Kalau debu sedikit datang, kita lap. Datang lagi, kita bersihin. Datang lagi, kita bersihin, insya Allah gak sampai jadi noda di atas kaca itu. Tapi kalau nunggu debu itu sampai bertumpuk. “Ah, besok aja dah ngelapnya dah ah. Besok aja ngebersihinnya.” Bertumpuk dia, sulit membersihkannya. Walaupun kena, nodanya tentu tertinggal di atas kaca itu. Karena itu dalam kehidupan remaja misalnya, pemuda misalnya, kita tidak bisa menolak mode, tidak bisa menolak musim. Modenya disco, disco. Modenya break dance, break dance. Modenya joged, joged. Modenya jaipongan, jaipongan. Mode pada waktunya habis ya habis. Tapi bagaimana pun dia punya dampak, memberkan bekas dalam membentuk kepribadian. Dan ini efek yang tidak kita inginkan. Efeknya, bukan modenya itu. Jadi oleh karenanya saudara-saudara, masalah taubat bukan masalah 70 tahun ke atas. Tapi masalah manusia sejak dia aqil baligh sampai ajal datang merenggut nyawa. Sepanjang nafas belum sampai di kerongkongan, Allah akan menerima taubat seorang hamba. Bahkan, dalam hadits qudsi Allah menyatakan,

لو عملتم الخطايا حتى ملأت السماء ثم ندمتم فتاب الله عليكم

“Kalaupun kamu berbuat dosa sampai penuh langit dengan dosamu, kemudian kamu bertaubat dan menyesal, Allah pasti akan menerima taubatmu.”

Jadi, orang yang taubat dengan sebenarnya dan tetap dalam taubatnya itu musuh iblis. Tapi orang yang taubatnya angin-anginan, iblis demen banget. Ini hari sembahyang, besok mabuk, besoknya lagi nyolong, besoknya lagi zina, besok taubat lagi. Kata iblis sorak, “Iye, loe gocek deh Tuhan.”

Selanjutnya, yang kedelapan, musuh iblis, musuh setan,

مؤمن يداوم على الطهارة

“Orang mukmin yang membiasakan diri selalu dalam keadaan bersuci.” Baik dari hadats kecil, lebih-lebih dari hadats besar.

Wudhu utamanya memang untuk shalat. Tapi membiasakan wudhu dalam kehidupan sangat baik sekali. Mau ke kantor, wudhu dulu. Mau ke pasar, wudhu dulu. Mau ngajar, wudhu dulu. Apa sebabnya? Karena dalam keadaan suci orang ada sikap memelihara kesuciannya. Kalau kita naik PPD pagi-pagi gelantungan, kalau punya wudhu hati-hati kesenggol perempuan juga, sayang sama wudhu. Tapi kalau gak punya wudhu, jangan kesenggol, kita nyeruduk. Ada semacam sikap apik di dalam kehidupan ini. Karena itu biasakan wudhu. Untuk menjaga kebersihan diri, kebersihan zhahir, kebersihan batin. Belum lagi kemanfaatan di akhirat. Sebab kata Nabi,

إن أمتي يأتون يوم القيامة غرا محجلين من أثر الوضوء

“Umatku di akhirat nanti akan datang menghadap Allah dengan muka berseri-seri, bersinar-sinar, dari sebab sering wudhu.”

Sehingga tidak usah mengaku pun Rasul akan memanggil karena muka yang sering tersentuh air wudhu ini.

مؤمن يداوم على الطهارة

“Orang mukmin yang selalu membiasakan diri berada dalam keadaan suci, berwudhu.”

Kita lihat ajaran wudhu ya dari sejak bacaan saja itu sudah membawa manfaat. Lalu dari segi bahwa kita manusia sering tersilap melakukan dosa-dosa kecil. Dosa-dosa kecil itu oleh air wudhu dia rontok. Tangan kita suka colak-colek. Pada saat membasuh dua tangan,

اللهم إني أسألك اليمنى والبركة وأعوذ بك من الشؤم والهلكة

Dosa yang ada di tangan itu rontok. Mata kita suka pelatat-pelotot gak karuan, pada saat membasuh muka,

نويت رفع الحدث الأصغر

Dosa yang ada di mata rontok. Dari segi pembersihan batin. Belum lagi dari segi pembersihan zhahir. Sehari semalam kalau lima kali saja kita terkena air wudhu, itu sudah menjaga kesehatan dan kebersihan.

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah, yang kesembilan, orang yang menjadi musuh iblis yaitu,

متورع عن الحرام

“Orang yang memelihara diri dari yang diharamkan oleh Allah.”

Terpelihara dirinya, terpelihara yang dimakannya, yang diminumnya dari jenis-jenis yang haram, baik sedikit maupun banyak. Jangan cuma teriak haram waktu sedikit, tapi giliran banyak halal. Sama saja orang dikasih tahu, itu ada cerita anak-anak. Pak haji punya anak main judi dikasih tahu, “Pak, anak Bapak main judi.” “Astaghfirullah,” katanya. “Tapi menang, pak.” “Alhamdulillah.” Ini kan sama saja. Giliran sedikit dibilang haram. Karena dia gak dapat jatah. Begitu dapat banyak dan dia kecipratan jadi halal. Yang sedikit haram, banyaknya pun juga haram. Yang banyaknya haram, sedikitnya juga haram. Ada orang bilang, “Minuman keras kalau gak mabuk kan gak haram.” Yang memabukkan banyaknya sedikitnya tetap saja haram.

ما اسكر كثيره فقليله حرام

“Apa yang banyak menyebabkan jadi mabuk sedikitnya pun juga haram.”

Saudara-saudara kaum Muslimin, yang kesepuluh, yang terakhir, musuh daripada iblis ialah,

مؤمن رحيم

“Orang mukmin yang berhati pengasih.”

Orang mukmin yang suka menyambung silaturahmi. Orang mukmin yang tidak suka bertengkar. Orang mukmin yang tidak suka marah-marahan. Kalau pun terpaksa marah, tidak lebih dari tiga hari. Jadi boleh saja marah kalau alasannya tepat, tapi gak lebih dari tiga hari. Kalau perlu bikin perjanjian, “Kita marah ya. Tiga hari.” Itu limit. “Tidak halal,” kata Nabi, “bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari  tiga hari.” Tidak halal itu artinya haram. Kita ini kadang-kadang kalau sudah marahan, ama tetangga kah, ama teman kah, kadang-kadang suka berlaku perpanjangan waktu. Tidak cukup perpanjangan waktu, ditambah lagi perpanjangan generasi. Gak cukup kita yang marah, orang lain kita sundut-sundut supaya ngikut marah lagi. Marah pake ngundang. Kayak mafia lagunya. Udah dia marah, orang lain lagi disuruh marah.

Saudara hadirin yang saya muliakan, mukmin yang punya sifat belas kasih berhati jernih itu musuh utama dari iblis. Tapi mukmin yang suka marah-marahan, tukang hasud dan tukang bakar, itu teman-teman iblis. Oleh karena itu, mudah-mudahan kita semua menjadi musuh iblis dan jangan menjadi teman iblis. Sebab iblis sudah kadong memproklamirkan permusuhan. Sekali dia musuh kita, selamanya dia akan tetap menjadi musuh kita. Berusahalah untuk menjadi musuh iblis dan jangan sekali-kali toleransi berusaha, jangan berusaha menjadi teman iblis.

Inilah yang kita bicarakan pada pertemuan ini, mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih atas segala perhatian. Mohon maaf atas segala kekurangan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته