Setiap kali liburan berakhir dan santri kembali ke pesantren, ada satu pemandangan yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Koper dan tas ransel memang dibawa, tapi yang paling ditunggu justru bukan isinya. Melainkan tas plastik besar yang dijinjing di tangan — berisi makanan dan jajanan dari rumah yang sudah ditimbun orang tua sejak berhari-hari sebelumnya.
Isinya bisa apa saja. Kerupuk buatan ibu. Rendang yang dimasak khusus untuk dibawa mondok. Kue kering yang baru keluar dari oven pagi itu. Snack kemasan yang dibeli di minimarket terdekat. Kadang ada buah-buahan, kadang ada sambal botolan, kadang ada sesuatu yang sangat khas dari daerah asal masing-masing santri.
Momen membuka tas plastik itu di asrama selalu jadi peristiwa.
Teman-teman sekamar yang sudah datang lebih dulu langsung mendekat. Bukan karena lapar. Tapi karena ada rasa penasaran yang tidak bisa ditahan — apa yang dibawa kali ini, apakah ada sesuatu yang baru, dan tentu saja apakah cukup untuk dimakan bersama-sama. Santri yang membawa jajanan dari rumah jarang sekali menyimpannya sendiri. Entah karena tidak enak hati, entah karena memang sudah terbiasa, tas plastik itu biasanya terbuka untuk siapa saja.
Dalam hitungan jam, isinya tinggal separuh. Sebelum tidur malam, biasanya sudah habis sama sekali.
Kenapa momen ini terasa lebih dari sekadar soal makanan?
Bagi santri yang baru pulang dari rumah, tas plastik itu adalah potongan terakhir dari kehangatan keluarga yang masih bisa dipegang. Rendang buatan ibu, misalnya — bukan cuma makanan. Itu adalah cara ibu mengatakan bahwa dia memikirkan anaknya bahkan saat anak itu sudah jauh. Setiap suapan membawa ingatan tentang dapur di rumah, tentang aroma yang sudah dikenali sejak kecil.
Ketika jajanan itu dimakan bersama teman-teman, ada sesuatu yang terjadi secara diam-diam. Santri yang membawa makanan dari Padang membagikannya kepada teman dari Jawa. Santri dari Kalimantan mencicipi kue khas Sulawesi untuk pertama kalinya. Meja kecil di kamar asrama berubah menjadi tempat pertemuan rasa dari seluruh penjuru Indonesia.
Tidak ada yang mengatur itu. Terjadi begitu saja.
Orang tua yang mengemas jajanan itu mungkin tidak pernah tahu kemana makanan buatan mereka berakhir. Rendang yang dimasak dengan penuh kasih sayang ternyata dimakan oleh anak dari kota lain yang belum pernah mereka temui. Kue kering yang dipanggang sejak subuh ternyata jadi teman belajar malam santri dari kamar sebelah. Ada kebaikan yang mengalir tanpa direncanakan.
Tradisi ini mengajarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di rumah, anak-anak terbiasa bahwa makanan di kulkas adalah milik keluarga. Di pesantren, batas itu melebar. Milik sendiri dengan cepat menjadi milik bersama, dan tidak ada yang merasa dirugikan. Justru santri yang paling banyak memberikan jajanannya biasanya yang paling banyak mendapat balasan di hari-hari berikutnya — teman yang membawakan nasi goreng dari kantin, atau potongan buah yang disisakan khusus untuknya.
Siklus memberi dan menerima itu terjadi secara alami tanpa ada yang menghitung.
Di Darunnajah 2 Cipining, momen setelah liburan selalu diwarnai dengan suasana yang khas — lorong asrama berbau campuran dari puluhan jenis makanan rumahan, tawa yang lebih keras dari biasanya, dan cerita liburan yang diceritakan sambil mengunyah.
Kadang kita lupa bahwa kemurah-hatian paling tulus justru tumbuh dari hal yang paling sederhana — sebungkus jajanan dari rumah yang dibuka untuk semua orang.
Kalau ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang berkunjung atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.