Kepesantrenan

KEPESANTRENAN

Pondok Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam, kyai sebagai cental figurnya dan masjid sebagai titik pusat kejiwaannya.

“Jangan seperti monyet makan manggis”

Hakekat Pesantren terletak pada isi bukan pada kulit luarnya (asrama, fasilitas, dll). Pokok isi Pondok Pesantren adalah pendidikan mental dan karakter. Pokok isi Pondok Pesantren boleh berbeda-beda metode pembelajarannya tetapi Jiwa yang tidak boleh dirubah.
Jiwa Pondok Pesantren

1. Keikhlasan

“Sepi ing pamrih, Rame ing Gawe”

Kyai ikhlas memberi, Guru ikhlas mengabdi dan mendidik, Santri ikhlas taat dididik, dan semua penduduk pondok bahkan Wakif harus memiliki jiwa yang paling utama ini untuk kemajuan pesantren.

“Zelf Berdruifing System”

Santri membayar SPP tidak untuk membayar guru, semua yang dibayar kembali untuk keperluan santri itu sendiri (makan, listrik, air, dsb). Karena semua guru dipondok ini ikhlas mengabdi dan tidak dibayar oleh santri.

Tidak ada istilah “TAKE AND GIVE” ataupun “GIVE AND TAKE” tetapi istilah yang sebenarnya hanya ada “GIVE, GIVE, AND GIVE”. Santri tidak diajarkan untuk bermental TRANSAKSIONAL (memberi dan berharap balasan atau dibayar lalu memberi) tetapi seluruh santri dipondok ini santri harus ikhlas memberi mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan kamarnya, dll
2. Kesederhanaan

Kesederhanaan bukan berarti miskin. Kesederhanaan dimulai dengan gaya hidup dan pola pikir. Bahkan kesederhanaan menampakkan jiwa besar.

KH. Abdul Manaf Mukhayar (alm) salah satu Wakif Pondok Pesantren Darunnajah sekaligus kakek dari KH. Hadiyanto Arief, S.H, M.Bs pimpinan Pesantren Darunnajah 8 Cidokom meskipun beliau memiliki banyak lahan tanah dan beliau wakafkan untuk dibangun pesantren, setiap Jumat mengajarkan anak dan cucu-cucunya untuk belajar sederhana dengan mengajak makan dengan hanya dengan lauk tempe dan tauco.

3. Berdikari atau Kemandirian

Kemandirian adalan Jiwa kesanggupan menolong diri sendiri (self help) dan senjata hidup yang paling ampuh. Santri harus sanggup menyelesaikan masalahnya sendiri mulai dari mengantri mandi, menyiapkan kebutuhannya, menyelesaikan konflik dsb.

Kemandirian bukan hanya untuk santri saja tapi Pondok Pesantren juga harus memiliki jiwa kemandirian. Pondok tidak bergantung pada bantuan orang lain. Dibantu berjalan tidak dibantu pun akan terus berjalan. Dan tidak bisa diatur-atur oleh orang.

4. Ukhuwah Islamiyyah

Suasana kehidupan santri di Pesantren terdapat jalinan persaudaraan yang akan terjalin seumur hidup, gotong royong, saling membantu dan bermasyarakat.

Jiwa ini bukan hanya berlaku disekitar pondok tetapi harus berlaku untuk seluruh umat Islam yang akan menumbuhkan ukhuwah Islamiyyah apabila ada saudara kita terdapat musibah.

المسلم للمسلم كالبنيان يشد بعضهم بعضا
5. Kebebasan

Jangan salah mengartikan bebas sebebas-bebasnya, tetapi bebas dipesantren ada batasannya yaitu disiplin dan norma-norma. Bentuk kebebasan disini diartikan dengan bebas dalam berfikir, menentukan masa depan serta cita-cita.

Semua program dipondok ini berlandaskan pada panca Jiwa tanpa meninggalkan nilai-nilainya. Semua panca Jiwa ini yang harus dimiliki semua santri dalam kehidupan dipesantren ini juga harus dimiliki ketika sudah bermasyarakat.

Cidokom, 01 Agustus 2017

Kuliah Umum Kepesantrenan

Pimpinan Pesantren Darunnajah 8

KH. Hadiyanto Arief, S.H, M.Bs