Sholawat Asyghil merupakan shalawat yang mashur dibaca oleh masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan pesantren. Hampir dalam setiap istighasah, shalawat ini termasuk bacaan utama yang harus dikumandangkan secara berjamaah. Ada yang menyebutnya ‘Shalawat Dzalimin’, ‘Shalawat Salimin’, atau ‘Shalawat Asyghil’.

Yang pertama kali membaca shalawat Asyghil ini adalah Imam Ja’far Assadiq (w. 138 H). Beliau biasa membaca shalawat ini saat malakukan doa qunut shalat Subuh. Namun kemudian shalawat ini masyhur dengan sebutan Sholawat Habib Ahmad bin Umar Alhinduan Ba ‘Alawy (w.1122 H). Hal ini karena shalawat ini termasuk bacaan shalawat yang dihimpun dalam kitabnya Alkawakib Almudhi’ah fi Zikris Shalah ‘ala Khairil Bariyyah.

Bagi Imam Ja’far Assadiq, kekacauan politik tak boleh sampai mengganggu proses pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Karena pada saat itu, ilmu pengobatan, geografi, astronomi, kimia, sastra, mulai berkembang dan diminati. Maka di setiap qunut, beliau berdoa sebagaimana shighat shalawat di atas.

Biar sajalah para peminat kekuasaan bertarung berebut jabatan dan sibuk dengan urusan mereka, asal tidak merecoki aktivitas keilmuan dan keagaamaan serta memolitisasinya. Dengan sikap tenang serta setia pada pematangan ilmu dan spiritualitas, beliau dan para murid mampu menyongsong masa transisi itu dengan baik.

Selain untuk memohonkan shalawat dan salam atas Nabi SAW, keluarga dan sahabatnya, shalawat ini bertujuan meminta kepada Allah agar kita diselamatkan dari kejahatan orang-orang yang dzalim. Berikut lafadz shalawat Asyghil;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa asyghilidz dzolimin bidz dzolimin wa akhrijna min bainihim salimin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan limpahkanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”

Valid atau tidaknya informasi ini, memang perlu kita periksa lagi dari sumber-sumber yang mu’tabar. Namun spirit dari shighat shalawat dan latar belakang kisahnya selalu pas dengan kondisi kehidupan kita, yang mulai lalai dengan isu-isu riil kehidupan nan konstruktif, malah terlena dengan perkara politis destruktif.