Istilah “broadcast” awalnya merupakan suatu rujukan dari bahasa Inggris yang artinya penaburan benih yang disebarkan luas di sebuah lapangan. kemudian kata broadcast ini diadopsi oleh teknisi radio yang pertama kali berdiri dari midwestern Amerika, untuk memudahkan dalam pengucapan, maka pengiriman sinyal radio tersebut disebut dengan broadcast.
Menurut disiplin ilmu komunikasi, broadcasting adalah cabang dari ilmu komunikasi yang berhubungan dengan penyiaran. Di dalam broadcasting sendiri sebenarnya yang paling dominan dikaji adalah bagaimana membuat konten sebuah siaran mulai dari praproduksi-produksi-pascaproduksi. Broadcasting mempelajari praktik bagaimana membuat sebuah tayangan/konten yang menarik dan enak dilihat atau didengar. Dalam teori ilmu komunikasi, broadcast berarti bagaimana pesan yang disampaikan sampai kepada khalayak ramai/umum. Karakteristik broadcasting antara lain: memberi informasi, mendidik dan menghibur. Broadcasting secara harfiah adalah proses pengiriman sinyal/pesan ke berbagai lokasi secara bersamaan baik melalui satelit, radio, televisi, komunikasi data pada jaringan dan lain sebagainya.
Sedangkan menurut UU Penyiaran No. 32 tahun 2002 penjelasan tentang dunia broadcast terbagi menjadi 2 yakni siaran (broadcast: kamus bahasa Inggris) dan penyiaran (broadcasting: kamus bahasa Inggris) yang masing-masing memiliki definisi sendiri-sendiri.
Broadcasting secara umum dapat diartikan sebagai siaran atau penyiaran. Di awal tahun 2000-an industri broadcasting mulai berkembang di Indonesia secara signifikan.
Broadcasting juga telah masuk ke dunia pesantren. Pesantren yang berbasis sistem modern bahkan getol menyelenggarakan pendidikan teknologi yang di antaranya mengelola dunia broadcasting. Broadcasting pesantren diharapkan menjadi penyeimbang perkembangan broadcasting modern. Broadcasting juga dijadikan sebagai media dakwah dalam mempublikasikan Islam di dunia global.
Pesantren Darunnajah Cipining yang turut menyelenggarakan pendidikan SMK berbasis teknologi diharapkan pula menjadi pionir perkembangan broadcasting ini. Karenanya, Darunnajah Cipining kerap mengikutsertakan para guru untuk mengikuti workshop Broadcasting dan Pertelivisian. Sebagaimana yang dilakukan pada hari Sabtu (16/2) di pesantren Darunnajah 14 Nurul Ilmi Serang Banten.
Bertempat di Aula Pondok Pesantren Nurul Ilmi kegiatan dimulai pukul 08.00 s.d. 17.00 WIB. Acara diawali dengan sambutan-sambutan. Diantaranya adalah dari Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14,Ust. Fajar Suryono S. Kom, dari Team Baraya TV (TV Lokal Banten), Founder Nurul Ilmi TV dari Ust. Didi Suhaedi, Tim creative 14 dan Jejaring Sosial Komunitas Pesantren Indonesia.
Adapun materi-materi yang disampaikan di antaranya seperti workshop Broadcast, jurnalistik, menjadi kameramen, presenter dan Host, Bikin Film dan Iklan Pendek. Wawancara dengan Team Baraya TV (Acara Om Uban), Membuat TV Online untuk Lembaga Pendidikan dan lain sebaginya. Peserta yang berjumlah sekitar 200 peserta datang dari Darunnajah 1 UluJami, Darunnajah 2 Cipining, Darunnajah 3 Al-Mansyur, Darunnajah 14 Nurul Ilmi, MTs 1 Kota Serang, SMK Bismilah, SMP 1 Ciomas, dan sekolahan lainnya.
Dalam cara seminar ini semua peserta tidak hanya mendengarkan materi-materi yang diberikan oleh pemateri saja akan tetapi para peserta juga terjun langsung praktek. Event ini disponsori oleh Baraya TV, Nurul Ilmi TV, salampesantren.com. dan rajak cetak.
Mengikuti kegiatan ini, para santriwan dan santriwati mengaku senang karena sangat memotivasi mereka untuk jaga jadi presenter, jagi editing, jago nyuting, dan lainnya. “Saya berharap acara ini dapat memotivasi anak-anak terutama pengurus dalam melaksanakan kegiatan organisasi seperti leadership lengkap dengan pendokumentasian acara-acara baik dalam bentuk visual, teks maupun video” ungkap Ustadz Sholeh. (Red)