Apresiasi Kemandirian dan Tradisi Pesantren dalam Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis
Jakarta, Selasa, 21 April 2026
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Republik Indonesia, Sonny Sonjaya, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pesantren Darunnajah Jakarta, Selasa (21/4/2026). Kunjungan ini dimaksudkan untuk memastikan kelayakan fasilitas dan kualitas operasional SPPG, sekaligus meninjau langsung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pesantren.
Kedatangan Waka BGN beserta tim diterima langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, K.H. Hadiyanto Arief, didampingi jajaran pengurus pesantren. Usai ramah tamah singkat, Sonny meninjau seluruh area dapur SPPG — mulai dari alur penerimaan bahan baku, proses produksi, penanganan sanitasi, penyimpanan bahan pangan, hingga sistem distribusi menu kepada santri.
Seusai peninjauan, Waka BGN menyampaikan sejumlah masukan untuk peningkatan operasional SPPG. Ia menekankan pentingnya konsistensi standar higienitas, akurasi kandungan gizi setiap porsi, serta efisiensi alur kerja agar pelayanan tetap prima di tengah jumlah santri yang besar. Masukan tersebut disambut terbuka oleh pengelola SPPG sebagai bahan penguatan tata kelola.
Membersamai Santri di Dapur

Yang menjadi perhatian khusus dalam kunjungan ini, Sonny Sonjaya menyempatkan diri duduk bersama para santri di ruang makan dapur pesantren. Ia menyantap menu MBG yang sama dengan yang dihidangkan kepada ribuan santri. Para santri Darunnajah yang berasal dari berbagai penjuru Tanah Air tampak antusias menyapa dan berbincang dengan tamunya, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di dalam dapur.
Dalam kebersamaan itu, Waka BGN juga mengingatkan para santri tentang adab makan yang baik: tidak menyisakan nasi sebagai bentuk penghargaan atas setiap butir pangan, membiasakan diri membaca doa sebelum dan sesudah makan, serta senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan. Pesan tersebut diterima dengan baik oleh para santri, yang memang telah akrab dengan adab makan sebagaimana diajarkan dalam tradisi pesantren.
Kekhasan SPPG Pesantren: Kemandirian dan Tradisi
K.H. Hadiyanto Arief, dalam keterangannya kepada Waka BGN, menjelaskan bahwa SPPG di lingkungan pesantren memiliki kekhasan tersendiri dibanding SPPG pada umumnya. Menurutnya, SPPG Pesantren Darunnajah tetap menjaga prinsip kemandirian (istiqlal dzati) yang menjadi nafas pesantren sejak awal berdiri, sekaligus melestarikan tradisi-tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“SPPG Pesantren bukan sekadar dapur; ia menjadi ruang pendidikan karakter. Karena itu, prinsip kemandirian dan tradisi-tradisi pesantren tetap kami pelihara berdampingan dengan program nasional ini,” ujar K.H. Hadiyanto Arief.
Kemandirian tersebut bukan sekadar prinsip, melainkan terwujud dalam desain kelembagaannya. SPPG Pesantren Darunnajah merupakan salah satu unit usaha wakaf yang dikelola secara mandiri oleh lembaga wakaf pesantren. Seluruh keuntungan operasional yang dihasilkan tidak bermuara pada pihak mana pun di luar pesantren, melainkan dikembalikan sepenuhnya untuk penguatan wakaf produktif Darunnajah. Dengan skema ini, SPPG sekaligus berfungsi sebagai instrumen kemandirian ekonomi pesantren sekaligus penopang keberlanjutan aset-aset wakaf yang melayani umat.
Sementara itu, pelestarian tradisi tampak pada tetap berjalannya amalan puasa sunnah Senin dan Kamis di kalangan santri. Pada hari-hari tersebut, menu MBG yang disediakan SPPG berfungsi sebagai menu berbuka puasa bagi santri yang menjalankan puasa sunnah. Dengan cara itu, program negara dan tradisi ibadah santri dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Kunjungan Waka BGN ke SPPG Pesantren Darunnajah Jakarta ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi antara Badan Gizi Nasional dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren dipandang memiliki potensi besar sebagai mitra strategis dalam penyelenggaraan Program MBG, mengingat kapasitas kelembagaan, kedisiplinan tata kelola, serta kultur hidup bersama yang telah lama terbangun di dalamnya. (Humas Darunnajah)
