Masa pubertas merupakan proses alami yang akan dilewati oleh setiap anak,  untuk itulah anak anak usia sekolah kelas 5 atau kelas 6 harus dibekali pengetahuan yang mendalam agar anak tidak panik.  

SD Islam Darunnajah sudah rutin mengadakan kegiatan yang dikhususkan bagi anak perempuan yaitu keputrian,  dan pada minggu ini bertemakan “air suci yang mensucikan”. 

Tampil sebagai pembicara tunggal ustadzah Hj. Yayah Juriah,  S. Pd. I,  seorang daiyah dan juga pengajar di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. 

Sumber air yang bisa digunakan untuk bersuci ada dua,  yaitu air yang bersumber dari langit dan air yang bersumber dari air tanah. Dua sumber air itulah yang airnya suci dan mensucikan sehingga bisa dibuat untuk bersuci atau wudhu seperti air hujan, air sungai,  air laut,  air tanah,  dan salju. 

Berwudhu juga ada urutan dan tata caranya,  tidak asal basuh muka,  tangan,  kaki,  dan selesai. Lebih lanjut ustadzah yang enerjik ini memaparkan dengan gambalang dan detail tata cara melaksanakan wudhu,  anak anak pun dengan sekasma memperhatikan penjelasan ustadzah dan sekali kali anak menganggukan kepala tanda faham dengan apa yang sedang disampaikan. 

Materi akhir yang disampaikan adalah tentang tata cara mandi wajib.  Materi ini sangat penting karena sebagian besar peserta keputrian ini sudah mengalami menstruasi.  Dimana anak anak yang masih belia ini harus tahu bagaimana tata cara mandi wajib dan apa apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat haid (menstruasi). 

Batas minimal haid adalah sehari semalam,  dan batas maksimal haid adalah lima belas hari.  Bila sampai lima belas hari masih keluar darah maka itu bukan darah haid, atau dalam ilmu fiqih disebut darah isitihadoh (darah penyakit). 

Ada pertanyaan: bolehkah mandi saat haid?  Mandi saat haid boleh asal tidak niat mandi wajib,  jadi mandi seperti biasa sehari hari untuk membersihkan badan saja. 
Pada akhir sesi,  diadakan praktik wudhu dengan dibimbing langsung oleh ustadzah Yayah dengan dibantu oleh para ibu guru yang mengikuti acara keputrian.