Ustadzah Pembimbing Asrama Putri — Figur yang Menemani Masa Remaja Anak Perempuan
Seorang anak perempuan yang jauh dari ibunya membutuhkan figur perempuan dewasa yang bisa dipercaya untuk bercerita tentang hal-hal yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun. Masa remaja membawa pertanyaan tentang tubuh yang berubah, tentang perasaan yang membingungkan, tentang persoalan dengan teman, dan tentang berbagai hal yang terlalu pribadi untuk disampaikan lewat telepon.
Bagi orang tua siswa MTs atau SMP yang mempertimbangkan pesantren untuk anak perempuan, peran ustadzah pembimbing menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami. Banyak yang mengira peran ustadzah tidak lebih dari pengawas yang menjaga ketertiban, meski kenyataannya jauh lebih dalam dan sangat menentukan kesejahteraan anak.
Kualitas ustadzah pembimbing menjadi salah satu hal yang paling menentukan dalam memilih pesantren untuk anak perempuan. Fasilitas bisa dilihat dengan mata. Kualitas pendampingan lebih sulit dinilai namun jauh lebih berdampak.
Cerita di Balik Peran Ini
Cerita di balik peran ustadzah pembimbing menunjukkan bahwa ini bukan pekerjaan biasa.
Seorang ustadzah pembimbing biasanya tinggal di asrama bersama santriwati. Ia bangun sebelum mereka dan tidur setelah mereka. Ia ada ketika santriwati sakit di tengah malam. Ia ada ketika ada yang menangis karena rindu rumah. Ia ada ketika ada perselisihan yang harus diselesaikan.
Beban ini berat dan sering tidak terlihat. Ustadzah menghadapi puluhan anak dengan berbagai kepribadian dan persoalan. Setiap anak membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Pada minggu-minggu awal tahun ajaran, biasanya paling berat. Santriwati baru yang belum terbiasa banyak yang menangis. Ada yang tidak mau makan. Ada yang tidak bisa tidur. Ada yang ingin pulang. Ustadzah harus menenangkan mereka satu per satu.
Yang menarik, banyak ustadzah adalah alumni pesantren yang sama. Mereka pernah mengalami sendiri apa yang dialami santriwati. Mereka pernah menangis karena rindu rumah. Mereka pernah merasa tidak sanggup.
Pengalaman ini membuat mereka memahami dengan cara yang tidak bisa dipahami orang yang belum pernah mengalaminya. Ketika seorang santriwati menangis, ustadzah tahu persis apa yang ia rasakan.
Kedekatan yang terbangun sering sangat mendalam. Banyak santriwati yang menganggap ustadzah pembimbingnya seperti kakak atau bahkan seperti ibu kedua. Ikatan ini sering bertahan setelah lulus.
Tidak jarang hubungan itu tetap terjalin bertahun-tahun setelah masa mondok berakhir. Sebagian alumni masih meminta pendapat sang ustadzah ketika menghadapi keputusan besar dalam hidup seperti memilih jurusan, memilih pekerjaan, atau bahkan menjelang menikah.
Hal yang Ditangani Ustadzah
Salah satu yang paling sering muncul menyangkut kesehatan perempuan. Remaja perempuan menghadapi berbagai keluhan yang khas, mulai dari nyeri saat haid, ketidakteraturan siklus, hingga keluhan lain. Ustadzah menjadi orang pertama yang mendengar dan mengarahkan ke klinik bila perlu.
Berkaitan dengan itu ada pula pemahaman fiqih perempuan. Ada ketentuan khusus terkait ibadah selama masa haid dan ada pertanyaan tentang bersuci. Ustadzah memberi penjelasan yang benar sehingga santriwati tidak bingung.
Tidak kalah penting adalah persoalan citra diri. Remaja perempuan rentan terhadap persoalan penerimaan diri. Ada yang merasa tidak cantik, merasa terlalu gemuk, atau merasa tidak berharga, dan ustadzah membantu membangun citra diri yang sehat.
Dinamika pertemanan juga kerap menjadi sumber kegelisahan. Pergaulan remaja perempuan bisa sangat rumit; ada yang merasa dikucilkan, ada yang berselisih, ada yang saling menjauhi, sehingga ustadzah sering menengahi.
Ada pula pergulatan batin yang lebih dalam. Remaja sering mengalami kegelisahan yang sulit dijelaskan, seperti pertanyaan tentang tujuan hidup, keraguan tentang iman, atau perasaan tidak berarti. Di sinilah ustadzah menjadi tempat bercerita yang aman.
Sebagian santriwati bahkan membawa persoalan dari rumah, seperti perceraian orang tua atau kesulitan ekonomi keluarga. Beban ini berat dan mereka membutuhkan tempat bercerita.
Persoalan akademis pun tidak luput. Santriwati yang kesulitan mengikuti pelajaran atau yang merasa tertinggal membutuhkan dorongan dan bantuan.
Menjelang akhir masa mondok, muncul kebingungan tentang pilihan setelah lulus. Santriwati kelas akhir membutuhkan teman berpikir tentang pilihan yang tersedia, dan ustadzah kerap mengambil peran itu.
Kualitas yang Perlu Dinilai Orang Tua
Kualitas pertama adalah rasio ustadzah terhadap santriwati. Semakin sedikit santriwati per ustadzah, semakin baik pendampingan yang bisa diberikan. Bertanya tentang rasio ini kepada pesantren memberi gambaran tentang keseriusan mereka.
Kualitas kedua adalah apakah ustadzah tinggal di asrama. Ustadzah yang tinggal bersama santriwati jauh lebih memahami keseharian mereka dibanding yang datang pada jam tertentu saja.
Kualitas ketiga adalah latar belakang ustadzah. Apakah mereka memiliki pemahaman agama yang memadai. Apakah mereka memiliki pemahaman tentang psikologi remaja. Apakah mereka mendapat pelatihan.
Kualitas keempat adalah bagaimana mereka menangani persoalan. Bertanya kepada pesantren bagaimana mereka menangani berbagai persoalan memberi gambaran tentang pendekatan mereka.
Kualitas kelima adalah apakah santriwati merasa nyaman bercerita. Ini bisa dinilai dengan berbicara dengan santriwati yang sudah mondok atau dengan orang tua mereka.
Kualitas keenam adalah bagaimana komunikasi dengan orang tua. Ustadzah yang baik biasanya menjaga komunikasi dengan orang tua tentang perkembangan anak.
Kualitas ketujuh adalah apakah ada persoalan yang disembunyikan. Pesantren yang baik akan jujur tentang persoalan yang terjadi, bukan mengklaim semuanya selalu baik.
Bagi orang tua siswa MTs atau SMP yang mempertimbangkan pesantren untuk anak perempuan, kualitas ustadzah pembimbing menjadi salah satu hal yang paling menentukan. Anak yang mendapat pendampingan yang baik biasanya lebih tenang menjalani masa jauh dari orang tua dan cenderung lebih siap bertumbuh.
Peran ustadzah pembimbing seperti yang dibahas di sini memang menjadi salah satu penentu utama kesejahteraan anak perempuan di pesantren. Yang menentukan adalah kedekatan, kepercayaan, dan kesungguhan mendampingi. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan pendampingan yang dekat bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga punya cara sendiri untuk menilai kualitas pendampingan yang akan diterima anaknya.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.