Santriwati yang Menjadi Ketua Organisasi Santri — Kepemimpinan Perempuan Sejak Remaja
Seorang santriwati kelas dua belas yang memimpin organisasi dengan ratusan anggota sedang menjalani sesuatu yang jarang dialami perempuan seusianya. Ia menyusun program untuk satu tahun, mengelola anggaran, mengoordinasikan puluhan pengurus, menyelesaikan perselisihan, dan mempertanggungjawabkan hasilnya di depan seluruh anggota. Tanggung jawab ini nyata, bukan simulasi.
Bagi orang tua dengan anak perempuan yang aktif kreatif dan menunjukkan potensi kepemimpinan, kesempatan memimpin secara nyata menjadi hal yang jarang tersedia. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa kepemimpinan bisa dilatih melalui pelatihan atau seminar. Padahal kapasitas memimpin terbentuk dari pengalaman memimpin sesungguhnya dengan tanggung jawab yang nyata.
Kehidupan pesantren menyediakan struktur organisasi yang lengkap untuk santriwati. Ada organisasi santri putri dengan berbagai bidang, ada kepengurusan asrama, ada koordinator berbagai kegiatan. Semua dipimpin dan dikelola oleh santriwati sendiri di bawah bimbingan ustadzah.
Cerita di Balik Pengalaman Memimpin
Cerita di balik pengalaman santriwati memimpin organisasi biasanya menunjukkan pembelajaran yang sangat nyata dan kadang berat.
Pada awal menjabat, biasanya muncul semangat yang besar. Ada banyak gagasan yang ingin dijalankan. Ada keinginan membuat perubahan. Semangat ini wajar dan bagus.
Namun kenyataan segera menghadirkan tantangan. Gagasan yang bagus ternyata sulit dijalankan. Anggaran terbatas. Waktu terbatas. Tidak semua pengurus bersemangat. Ada yang tidak mengerjakan tugasnya. Ada yang tidak sepakat dengan arah yang diambil.
Tantangan pertama biasanya adalah menggerakkan orang. Menyusun rencana mudah. Membuat orang benar-benar mengerjakannya jauh lebih sulit. Ketua yang hanya memerintah biasanya tidak diikuti. Yang efektif adalah yang bisa meyakinkan dan memberi teladan.
Tantangan kedua adalah menghadapi perbedaan pendapat. Dalam organisasi selalu ada yang tidak sepakat. Menghadapi ketidaksepakatan tanpa menjadi otoriter dan tanpa kehilangan arah menuntut kematangan.
Tantangan ketiga adalah menghadapi kegagalan. Ada program yang tidak berjalan sesuai rencana. Ada kegiatan yang sepi peserta. Ada target yang tidak tercapai. Menerima kegagalan tanpa menyalahkan orang lain menuntut kebesaran hati.
Tantangan keempat adalah menyeimbangkan tugas organisasi dengan kewajiban lain. Ketua organisasi tetap harus belajar, tetap harus menghafal, tetap harus mengikuti seluruh kegiatan pesantren. Waktu menjadi sangat terbatas.
Tantangan kelima adalah menghadapi kritik. Sebagai ketua, ia menjadi sasaran kritik dari berbagai pihak. Ada yang menganggapnya terlalu keras, ada yang menganggapnya terlalu lemah. Menerima kritik tanpa hancur menuntut ketahanan mental.
Tantangan keenam adalah mempertanggungjawabkan di akhir masa jabatan. Laporan pertanggungjawaban disampaikan di depan seluruh anggota. Kegagalan harus diakui secara terbuka. Ini adalah ujian kejujuran dan keberanian.
Melalui tantangan-tantangan ini, terbentuk kapasitas yang tidak bisa dibangun melalui pelatihan mana pun. Pembelajaran melalui pengalaman nyata dengan tanggung jawab nyata jauh lebih dalam.
Kapasitas yang Terbentuk
Kapasitas pertama adalah menyusun rencana yang realistis. Setelah beberapa kali rencana yang terlalu ambisius gagal, santriwati belajar menyusun rencana yang bisa dijalankan dengan sumber daya yang ada.
Kapasitas kedua adalah mengelola sumber daya terbatas. Anggaran terbatas, waktu terbatas, tenaga terbatas. Belajar mengalokasikan dengan bijak menjadi keterampilan yang sangat berharga.
Kapasitas ketiga adalah menggerakkan orang tanpa memaksa. Kepemimpinan yang efektif bukan tentang memerintah melainkan tentang meyakinkan dan memberi teladan.
Kapasitas keempat adalah mendengarkan berbagai pendapat lalu memutuskan. Musyawarah tidak berarti semua harus sepakat. Pada akhirnya harus ada keputusan. Belajar memutuskan setelah mendengar semua pihak menjadi keterampilan yang penting.
Kapasitas kelima adalah menyelesaikan perselisihan antar anggota. Ketua sering harus menengahi konflik. Keterampilan mediasi ini sangat berharga untuk berbagai peran di masa depan.
Kapasitas keenam adalah menerima dan mengelola kritik. Pemimpin selalu dikritik. Belajar memilah kritik yang membangun dari yang tidak, dan tidak hancur oleh kritik yang tidak adil.
Kapasitas ketujuh adalah bertanggung jawab atas kegagalan. Pemimpin bertanggung jawab atas hasil, termasuk kegagalan yang bukan sepenuhnya salahnya. Kebesaran hati untuk tidak menyalahkan orang lain adalah karakter kepemimpinan yang penting.
Kapasitas kedelapan adalah menyiapkan penerus. Masa jabatan terbatas. Pemimpin yang baik menyiapkan orang yang akan menggantikannya. Ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang diri sendiri.
Makna bagi Perempuan Muslim
Ada makna khusus dari pengalaman kepemimpinan bagi santriwati yang perlu dipahami.
Kenyataannya, banyak perempuan Muslim yang tidak pernah mendapat kesempatan memimpin sepanjang masa pendidikan mereka. Peran kepemimpinan sering secara tidak sadar diarahkan kepada laki-laki. Akibatnya, banyak perempuan berbakat yang tidak pernah mengembangkan kapasitas kepemimpinannya.
Padahal peran kepemimpinan perempuan sangat dibutuhkan di berbagai bidang. Memimpin organisasi perempuan, memimpin lembaga pendidikan, memimpin usaha, atau memimpin dalam berbagai peran profesional. Tanpa kapasitas yang terlatih, banyak perempuan merasa tidak siap ketika kesempatan datang.
Di pesantren dengan asrama putri yang terpisah, seluruh struktur organisasi santriwati dipimpin dan dikelola oleh santriwati sendiri. Tidak ada laki-laki yang mengambil peran itu. Setiap posisi kepemimpinan diisi perempuan.
Ini memberi kesempatan yang sangat berharga. Setiap santriwati berkesempatan mengambil peran kepemimpinan dalam berbagai tingkat. Mereka melihat bahwa perempuan bisa memimpin karena mereka melihatnya setiap hari.
Kepemimpinan yang terbentuk juga memiliki karakter khas. Bukan kepemimpinan yang meniru gaya laki-laki melainkan kepemimpinan yang tumbuh dari karakter sendiri. Banyak santriwati mengembangkan gaya kepemimpinan yang lebih kolaboratif dan lebih memperhatikan hubungan antar anggota.
Beberapa alumni santriwati yang kemudian memimpin lembaga atau usaha menceritakan bahwa pengalaman memimpin organisasi santri menjadi pelajaran kepemimpinan pertama yang paling berkesan. Mereka sudah pernah memimpin sebelum lulus SMA.
Bagi orang tua dengan anak perempuan aktif kreatif yang menunjukkan potensi kepemimpinan, jenjang pesantren modern memberi kesempatan memimpin yang jarang tersedia. Kapasitas yang terbentuk menjadi bekal untuk berbagai peran di masa depan.
Pengalaman kepemimpinan seperti yang dibahas di sini memang terbentuk dari tanggung jawab nyata, bukan dari pelatihan. Yang efektif adalah kesempatan memimpin sesungguhnya dengan segala tantangan dan pertanggungjawabannya. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan struktur organisasi yang memberi kesempatan memimpin bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan anak.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.