Universitas Darunnajah Hidupkan Ramadhan dengan Kajian Reformasi Diri: "La‘allakum Tattaqün" Menjadi Spirit Perubahan Universitas Darunnajah Hidupkan Ramadhan dengan Kajian Reformasi Diri: "La‘allakum Tattaqün" Menjadi Spirit Perubahan

Universitas Darunnajah Hidupkan Ramadhan dengan Kajian Reformasi Diri: “La‘allakum Tattaqün” Menjadi Spirit Perubahan

Jakarta, 26 Februari 2026 – Bulan suci Ramadhan 1447 H menjadi momentum refleksi mendalam bagi civitas akademika Universitas Darunnajah. Melalui program “UDN Menyapa”, dosen dan mahasiswa menggelar kajian tarawih di Masjid Al-Ikhsan, Rabu (25/2/2026) malam, dengan tema sentral “Ramadhan sebagai Titik Awal Reformasi Diri”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag., dosen Universitas Darunnajah, sebagai penceramah, serta imam tarawih Anwar Hanifudin, MT., dan mahasiswa Andi Julianto sebagai MC sekaligus dokumentator.

Dalam ceramahnya, Dr. Irfanudin menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum strategis untuk melakukan reformasi diri secara total. Beliau mengawali dengan mengutip firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

“Puasa Ramadhan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi dirancang Allah sebagai madrasah takwa. Tujuan akhirnya adalah la‘allakum tattaqūn—agar kita mencapai derajat takwa. Takwa inilah fondasi reformasi diri sejati,” ujar Dr. Irfanudin di hadapan jamaah yang khusyuk.

Ia kemudian mengaitkan pesan Al-Qur’an tersebut dengan hukum perubahan dalam Islam, merujuk pada Q.S. Ar-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Ayat ini, menurut Dr. Irfanudin, menjadi prinsip dasar reformasi diri. “Ramadhan adalah titik awal perubahan. Allah telah memberi kita waktu satu bulan penuh untuk melatih diri, mengendalikan hawa nafsu, dan membangun kebiasaan baru. Jika kita tidak berubah di bulan ini, kapan lagi?” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Irfanudin juga mengupas tuntas konsep reformasi dari perspektif historis dan spiritual. Ia menjelaskan bahwa kata reformasi berasal dari bahasa Latin reformare yang berarti membentuk kembali atau memperbaiki struktur yang sudah ada. Dalam konteks Islam, reformasi diri bukan sekadar perubahan fisik atau sosial, melainkan transformasi spiritual yang mendalam.

“Secara historis, gerakan reformasi dalam Islam telah muncul sejak masa para nabi. Setiap rasul diutus untuk memperbaiki akidah dan moral umatnya. Nabi Muhammad SAW sendiri melakukan reformasi besar-besaran di Jazirah Arab, mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang beradab,” paparnya.

Hakikat reformasi dalam Islam, lanjut Dr. Irfanudin, tercermin dalam tiga konsep utama:

Taubat (التوبة): Kembali kepada Allah dengan menyesali dosa, meninggalkannya, dan berkomitmen tidak mengulangi. “Taubat adalah reformasi instan yang membersihkan masa lalu,” katanya.

Muhasabah (المحاسبة): Introspeksi diri dengan menghitung amal perbuatan sebelum dihisab di akhirat. “Orang yang sukses adalah yang selalu mengoreksi dirinya sendiri,” imbuhnya.

Kembali ke Fitrah (العودة إلى الفطرة): Menemukan kembali kesucian asal manusia yang cenderung kepada kebaikan dan tauhid. “Ramadhan mengembalikan kita ke fitrah, seperti bayi yang baru lahir, bersih dari dosa.”

Ibadah Ramadhan sebagai Sarana Reformasi

Dr. Irfanudin juga mengutip hadits tentang keutamaan qiyam Ramadhan:

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa melaksanakan qiyam Ramadhan dengan iman dan ikhlas, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menurutnya, hadits ini mengajarkan bahwa reformasi diri membutuhkan dua modal utama: īmān (keyakinan kuat) dan iḥtisāb (keikhlasan). “Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan semua ibadah Ramadhan harus dilandasi dua hal itu. Bukan karena riya atau kebiasaan, tetapi karena sungguh-sungguh mengharap ridha Allah.”

Ia juga mengingatkan keutamaan shalat berjamaah sebagaimana hadits riwayat Muslim:

من صلى صلاة العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما صلى الليل كله

“Barangsiapa shalat Isya berjamaah, seolah-olah ia telah menghidupkan separuh malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, seolah-olah ia telah menghidupkan seluruh malam.”

“Reformasi diri dimulai dari hal-hal kecil: menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Dari situ, Allah akan membuka pintu perubahan yang lebih besar,” pesannya.

Kegiatan “UDN Menyapa” ini mendapat respons positif dari masyarakat.

DKM Masjid Al-Ikhsan, Khoirul Rahmat, berharap kolaborasi dengan Universitas Darunnajah dapat terus berlanjut. “Kami bersyukur kampus ini hadir di tengah masyarakat, tidak hanya mengajar di kelas tetapi juga membina umat. Semoga Allah memberkahi langkah ini,” tuturnya.

Dengan semangat la‘allakum tattaqūn, Universitas Darunnajah berkomitmen menjadikan Ramadhan sebagai momentum kebangkitan spiritual. Program “UDN Menyapa” akan terus menghadirkan kajian-kajian bertema reformasi diri, melibatkan dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.