Sebuah babak penting tengah berlangsung di Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Ratusan santriwati kelas 6 TMI mengikuti Ujian Nihai Tahap 2 sebagai penanda akhir perjalanan studi mereka. Ujian berlangsung dalam dua tahap: ujian lisan pada 16–21 Mei 2026 dan ujian tulis pada 23 Mei hingga 3 Juni 2026.
Sebanyak 119 santriwati kelas 6 TMI Putri mengikuti seluruh rangkaian ujian dengan penuh kesungguhan. Pelaksanaan ujian lisan terpusat di Kelas Kampus 1, sementara ujian tulis digelar di Aula Kampus 1. Penataan ruang ujian yang terkonsentrasi dalam satu zona ini mencerminkan ikhtiar nyata panitia untuk menciptakan lingkungan ujian yang kondusif dan bermartabat.
Salah satu terobosan yang patut dicatat adalah pemasangan banner motivasi belajar di berbagai zona lingkungan pesantren. Langkah sederhana ini ternyata memberi dampak yang tidak kecil—miliu belajar terbentuk lebih kuat, dan semangat para peserta ujian terjaga lebih konsisten sepanjang rangkaian kegiatan berlangsung. Lingkungan yang berbicara adalah guru diam yang tak pernah berhenti mengajar.

Para santriwati menunjukkan keseriusan dan antusiasme yang tinggi sepanjang pelaksanaan. Meski demikian, sejumlah santriwati terpaksa mengikuti ujian susulan akibat sakit atau karena bersamaan dengan jadwal seleksi masuk perguruan tinggi—sebuah realita yang lumrah di usia transisi menuju dewasa. Panitia tetap memberikan ruang dan kesempatan yang adil bagi seluruh peserta tanpa terkecuali.
Pasca ujian, tantangan berikutnya adalah proses input dan pengolahan nilai secara menyeluruh sebagai dasar penentuan kelulusan seluruh santriwati akhir TMI 2026. Proses ini menjadi fase krusial yang menuntut ketelitian tinggi dari seluruh tim Departemen TMI dan panitia ujian. Setiap angka yang tercatat membawa konsekuensi besar bagi perjalanan hidup ratusan santriwati ke depannya.
Kegiatan ini secara keseluruhan berjalan lancar, kendati panitia mengakui masih terdapat sejumlah catatan evaluasi untuk penyempurnaan di masa mendatang. Sikap terbuka terhadap evaluasi inilah yang justru mencerminkan kedewasaan sebuah institusi pendidikan. Bukan lembaga yang sempurna, melainkan lembaga yang terus bertumbuh—itulah karakter sejati pendidikan yang hidup.