Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al Islamiyyah (TMI) merupakan salah satu jenjang pendidikan utama yang diselenggarakan di pondok pesantren Darunnajah Cipining. Progam yang merupakan nama lain dari Kuliatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI-yang digunakan di pondok Modern Gontor) ini, ditempuh selama 6 tahun bagi lulusan SD/MI, atau 4 tahun bagi santri yang tamat SMP/MTs. Kurikulum yang digunakan merupakan perpaduan dari kurikulum pondok modern Gontor, pondok Salafiah dan Departemen Agama.
Secara umum, materi pelajaran agama sudah mulai disampaikan langsung dengan bahasa Arab semenjak di kelas 2 TMI (VIII SMP/MTs). Pelajaran tersebut antara lain: Aqidah, Nahwu, Shorf, Ta’bir, Muthola’ah, Mahfudzot, Tafsir, Hadits, Fiqh, Tarikh Islam, Imla. Dan secara berkesinambungan, pada setiap level yang lebih atas ditambahkan beberapa materi pelajaran, antara lain: di kelas 3 TMI (IX SMP/MTs) ditambahkan materi Tarbiyyah, di kelas 4&5 (XXI SLTA/MA) ditambahkan materi Balaghoh, dan di kelas 6 TMI (XII SLTA/MA) ditambah dengan pelajaran Al-Mantiq dan Tarikh Tasyri’.
Adapun materi yang diajarkan menggunakan bahasa Inggris di semua kelas, antara lain; English, Grammar, Composotion, Conversation, Reading dan Translation. Sedangkan pelajaran umum seperti Matematika, PKn, Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Ekonomi, TIK disampaikan dalam Bahasa Indonesia.
Untuk mengetahui hasil belajar para santri, maka di pesantren Darunnajah Cipining diselenggarakan beberapa ujian. Di samping menyelenggarakan Ujian Mid Semester, Ujian Semester, Ujian Nasional, UJian Praktik Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dan praktik Ketrampilan dan Juga UJian Akhir Sekolah, seperti pada lembaga pendidikan lainnya. Juga terdapat ujian lain yang merupakan ciri khas dari ujian di pesantren modern pada umumnya. Ujian tersebut adalah Ujian Lisan Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan ujian praktik Ibadah Amaliah.
Dan khusus bagi santri kelas nihai –sebutan kelas 6 TMI- juga diwajibkan mengikuti Ujian Nihai. Bahan ujian ini diambil dari seluruh materi pelajaran yang berbahasa Arab dan Inggris dari kelas 2-6 TMI. Materi lain yang juga diujikan dalam ujian Nihai tersebut adalah TIK dan kepesantrenan. Pada tahun ajaran 2008-2009, UJian Nihai ini dilaksanakan dalam 3 tahap: tahap pertama dilaksanakan bersamaan dengan ujian semester gasal, tahap kedua dari tanggal 20 April–2 Mei 2009 dan tahap ketiga dari tanggal 9–13 Mei 2009.
Untuk memberikan motivasi para santri dalam menghadapi Ujian Nihai yang notabene Ujian Akhir versi pesantren ini, banyak upaya yang ditempuh oleh pesantren Darunnajah Cipining. Antara lain, Pengarahan yang disampaikan langsung oleh pimpinan pesantren, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc, Direktur TMI, Ust. Muhammad Mufti Abdul Wakil, S.Pd.I, Kepala Madrasah Aliyah Darunnajah, Ust. Drs. Abdul Rasyid Sholeh dan para wali kelas dalam beberapa kesempatan.
Juga, pada hari Senin malam, 28 April 2009, seluruh santri kelas nihai dikumpulan bersama para pembimbing kegiatan mereka. Dalam pertemuan tersebut, Ust. Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I, salah satu pembimbing yang juga mendapatkan pembuat dan pengoreksi soal Mahfudzot, membagikan hasil koreksian yang telah diujikan pada tahap pertama tersebut. Dan tiga santri yang mendapatkan nilai tertinggi mendapatkan apresiasi dan reward berupa gantungan HP/kunci dan stiker Darunnajah. Ketiga santri tersebut adalah Eva Fauziah (kelas 6 B TMI, nilai 94), Yusep Supriatna (kelas 6 A TMI, memperoleh nilai 95) dan Sarah Syaepiana (kelas 6 B TMI, nilai 94). “Hal ini –pemberian kenang-kenangan, red- secara materi tidaklah seberapa, namun yang paling penting, inilah adalah budaya menghargai prestasi santri yang telah diperoleh dengan kesungguhan hati” jelas alumni Darunnajah Cipining tahun 2000 ini.
Penghargaan lain yang juga berkenaan dengan ujian nihai ini adalah bagi santri yang memperoleh nilai Mumtaz/Istimewa (rata-rata 86.00-100) atau Jayyid Jiddan/Baik Sekali (rata-rata 76.00-85.00) akan disebutkan nama mereka dan diperkenalkan kepada seluruh hadirin dalam Haflatu Takhrij/wisuda santri, yang akan diselenggarakan pada hari Kamis, 21 Mei 2009. Diharapkan Ujian Nihai ini tidak akan kehilangan urgensinya bagi pendidikan dan peningkatan kualitas para santri, ditengah-tengah ‘gencarnya’ menghadapi UJian Nasional. Semoga!.