Man Jadda Wajada—Barang siapa bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan. Begitulah salah satu bunyi pamplet ujian yang dipasang pihak panitia di berbagai tempat strategis di kampus Pondok Pesantren Darunnajah Cipining dalam menghadapi ujian semester 2 ini. Pamplet ini, berisi sebuah kata-kata mutiara (baca: mahfudzat), yang jika di pesantren, diberikan sebagai materi pertemuan perdana di kelas 1 MTs.

Karenanya, semua santri yang telah mengenyam pendidikan pesantren, sudah sangat mafhum akan penafsirannya. Bahkan karena mahfudzat ini menjadi kesan pertama santri ‘meneriakkan’ kosakata berbahasa Arab, pastinya mereka, telah menghapalnya luar kepala. Bahkan mungkin, menjadi satu-satunya mahfudzat hapalannya.
Namun, tiada terlepas dari itu, mahfudzat ini akan menjadi sangat bermakna jika digunakan sebagai salah satu mediator dan motivator santri saat ini yang sedang memperjuangkan nasibnya dalam ujian. Bagaimanapun alasannya, kata ‘sungguh-sungguh’ menjadi indikator santri pada pencapaiannya dalam menentukan hasil ujian. Maka, merupakan suatu ketepatan memang, jika mahfudzat ini menjadi dasar utama para santri dalam belajar.
Kata ‘sungguh-sungguh’ pulalah yang kemudian membedakan style dan trend santri dalam disiplin belajar. Akan sangat tampak, santri yang berjiwa sungguh-sungguh dalam belajar dan yang asal-asalan. Mereka yang bersungguh-sungguh, akan menggunakan segenap kesempatan dan kemampuan untuk menguasai materi ajar sebaik mungkin. Sehingga muncul dalam dirinya, aktivitas belajar. Mereka yang asal-asalan, hanya akan menunjukkan kesibukan pura-pura belajar.
Kurikulum pesantren Darunnajah Cipining, yang memadukan antara umum (diknas), agama (depag), dan lokal (kepesantrenan—Gontor), berimplikasi pada banyaknya materi pelajaran yang diajarkan. Hal demikian berdampak juga pada ujian. Dengan banyaknya materi pelajaran, maka biasanya, waktu yang digunakan untuk ujian hampir 1 bulan lamanya (sudah plus dengan ujian lisan).

Kondisi ini tidaklah harus menjadi beban belajar bagi santri. Pemilik jiwa ‘sungguh-sungguh’ justeru akan memaknai bahwa banyaknya materi, menyiratkan untuk belajar secara maksimal. Dan yang kudu disikapi pula adalah gaya belajar yang menyesuaikan materi pelajaran.
Maka, jika pembaca sempat mengunjungi pesantren Darunnajah Cipining saat ini, pembaca akan menemukan para santri yang tengah asyik menghapal, mencorat-coret buku, berdiskusi, membolak-balik buku. Secara sentral, mereka belajar di masjid usai melaksanakan shalat Shubuh, Ashar, dan Isya. Namun, di sela-sela aktivitas harian, pemandangan belajar individu di luar jam belajar menampakkan mereka sedang mempraktikan mahfudzat lain, yaitu yang berbunyi ‘Utruk Maa siwaddarsa—Tinggallkan semua hal kecuali belajar’ (WARDAN/Billah)