Tulisan Santri: Welcome to Error!

Walau sudah berlalu cukup lama, tetapi pengalaman ketika belajar selama satu bulan di Pare Kediri masih terasa hangat dalam pikiranku. Untuk itu aku mencoba untuk menuangkan kembali pengalaman yang sangat berkesan buatku, semoga menjadi motivasi khususnya buat sahabat-sahabatku, umumnya untuk semua para netter pengunjung setia website ini.

SantriSebelumnya perkenalkan nama saya Luthfiah Dwi Hawa, saat ini saya duduk di kelas XI-B SMK Darunnajah Cipining. Alamat, Kp Rancasari pasir Gaok, Ranca Bungur, parung, Bogor. Ketertarikan saya di dunia Jurnalistik sudah lama tertanam didalam dada, hobi membaca dan menulis semakin memperkuat niatku untuk masuk dan tergabung didalam komunitas Jurnalis Santri. Untuk itu saya beranikan diri untuk mengikuti seleksi yang dilakukan hari Jumat 5 April 2013, oleh salah satu Redaktur Wardan; Ustadz Deni Rusman.

Salah satu dari materi test seleksi adalah membuat sebuah tulisan pengalaman pribadi yang paling berkesan. Dalam hal ini, saya memilih pengalaman saat mengikuti Program Course English Learning Camp in pare, yang secara rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh Pesantren Darunnajah Cipining dalam rangka meningkatkan kwalitas kemampuan berbahasa Inggris dan mengisi waktu liburan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Pada tanggal 27 Juni hingga 27 Juli 2011, sebuah pengalaman yang sangat berkesan dalam hidupku. Perjalanan yang memakan waktu satu hari menambah pengalaman tersebut sangat sulit aku lupakan. Ya, yang namanya mengunjungi Kampung Inggris di pare tentu saja bertujuan ingin belajar bahasa Inggris. Waktu yang diagendakan untuk belajar di sana adalah satu bulan lamanaya. Peserta yang ikut pada saat itu adalah 30 orang, yang terdiri dari 15 santri putra dan 15 santri putri. Pembimbing yang menjadi pendamping kami adalah guru Bahasa Inggris kami yang sudah cukup “fasikh” didalam menirukan lidah orang barat.

Pare, bagiku adalah kampong yang unik. Dimana hampir semua penduduknya menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Tidak tanggung-tanggung, mumpung berada di kampong Inggris ini aku memanfaatkannya untuk belajar dengan semaksimal mungkin. Agar lebih maksimal, Aku belajar Full Time, mulai dari pagi (tepatnya setelah melaksanakan Shalat Shubuh) hingga malam hari. Dengan dibimbing oleh guru-guru yang sudah sangat luar biasa (sudah biasa) berbahasa inggris.

Awalnya kita diberikan masukan untuk tidak takut dengan bahasa Inggris. Pesan tersebut tertangkap dari ungkapan seorang guru kami yang bernama Mr Afif pada pertemuan pertama kami. Pada saat itu beliau mengucapkan; “Welcome to Error!” awalnya kami agak janggal mendengarkan ungkapan yang tidak biasa tersebut. Namun ternyata ungkapan yang sangat singkat tersebut mengandung makna yang cukup dalam, yakni kita “dilarang takut salah”, karena apapun yang kita ucapkan dalam bahasa Inggris, kita tidak akanpernah disalahkan. Dan menurut beliau (Mr Afif, red), berani mencoba adalah kunci sebuah kesuksesan.

Disana juga aku mendapatkan teman-teman baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain mendapatkan teman-teman baru, disana aku juga bisa belajar lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orangtua, lebih dewasa, dan tidak manja. Setiap akhri pecan kami mengambil kegiatan refres dengan mengunjungi tempat wisata yang sangat menakjubkan. Seperti Candi Surowono, jatim Park dan lain sebagainya. Jadi walaupun seharian belajar bahasa inggris, dengan refreshing ini kepala tidak cepat capek dan yang lebih penting akan lebih siap lagi untuk mendapatkan pelajaran baru selanjutnya. [WARDAN/Adara/Hawa]