Malam sebelum ujian besar, suasana asrama berubah. Buku-buku terbuka di mana-mana. Suara santri mengulang pelajaran terdengar dari setiap kamar. Tapi ada satu momen yang selalu terjadi sebelum lampu dipadamkan — satu kamar berkumpul, membentuk lingkaran kecil, dan saling mendoakan. Bukan doa formal yang dipimpin oleh satu orang. Tapi doa pribadi yang dipanjatkan masing-masing untuk teman-teman yang besok akan menghadapi ujian yang sama.
Mengapa tradisi ini begitu khas pesantren?
Di tempat lain, malam sebelum ujian biasanya diwarnai kecemasan individual. Setiap orang sibuk dengan buku catatannya sendiri. Kompetisi terasa di udara. Ada perasaan bahwa keberhasilan satu orang berarti kegagalan orang lain.
Di pesantren, suasananya berbeda. Santri yang sudah paham materi membantu menjelaskan kepada teman yang belum mengerti. Catatan yang paling rapi diedarkan ke seluruh kamar. Ringkasan pelajaran yang dibuat satu orang difotokopi untuk semua. Tidak ada yang menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri — karena di pesantren, ilmu yang dibagikan justru semakin bertambah.
Dan di akhir malam, sebelum tidur, doa bersama itu menjadi penutup yang menentramkan. Bukan hanya mendoakan diri sendiri lulus dengan nilai baik, tapi mendoakan semua teman di kamar, di kelas, bahkan di seluruh angkatan untuk diberikan kemudahan.
Bagaimana tradisi ini terbentuk dari generasi ke generasi?
Tidak ada yang tahu persis kapan tradisi ini dimulai. Yang jelas, setiap angkatan mewarisinya dari angkatan sebelumnya. Santri baru melihat kakak kelasnya berdoa bersama sebelum ujian, lalu melakukan hal yang sama saat gilirannya tiba. Rantai itu berputar terus tanpa harus didokumentasikan di peraturan mana pun.
Wali kamar sering ikut dalam momen ini — duduk bersama santri, ikut berdoa, dan kadang menambahkan beberapa kata penguatan yang sederhana tapi tepat. Kehadiran wali kamar di momen ini memberikan rasa aman — bahwa ada orang dewasa yang juga mendoakan mereka.
Kadang, doa bersama diakhiri dengan membaca surat-surat pendek dari Quran secara berjamaah. Suara bacaan yang terdengar dari satu kamar menyebar ke kamar-kamar lain, dan perlahan seluruh lorong asrama dipenuhi lantunan ayat yang dibaca bersamaan. Momen itu menciptakan ketenangan kolektif yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Apa dampak tradisi ini terhadap suasana ujian?
Santri yang masuk ruang ujian setelah malam doa bersama membawa ketenangan yang berbeda. Bukan ketenangan karena sudah menguasai semua materi — ada yang masih merasa kurang persiapan. Tapi ketenangan karena tahu bahwa usahanya sudah maksimal dan bahwa teman-temannya mendoakannya.
Suasana kompetisi akademik di pesantren menjadi sangat sehat. Bukan kompetisi yang saling menjatuhkan, tapi kompetisi yang saling mengangkat. Santri yang mendapat nilai tertinggi dirayakan oleh seluruh kelas. Santri yang nilainya belum memuaskan didukung untuk mencoba lebih baik — bukan dengan ejekan, tapi dengan tawaran bantuan belajar.
Pola ini membentuk mental yang sangat berbeda dari mental kompetisi di tempat lain. Santri pesantren tumbuh dengan keyakinan bahwa keberhasilan orang lain bukan ancaman — melainkan inspirasi. Dan keyakinan itu bermula dari malam-malam sebelum ujian, ketika mereka mendoakan keberhasilan teman-temannya dengan tulus.
Apa yang membuat doa bersama sebelum ujian begitu berkesan?
Kejujurannya. Di momen itu, semua topeng jatuh. Santri yang biasanya terlihat percaya diri mengakui bahwa ia belum menguasai bab tertentu. Santri yang biasanya pendiam tiba-tiba memimpin doa dengan suara yang bergetar. Santri yang biasanya bercanda menjadi serius dan khusyuk.
Di momen itu, semua orang jujur tentang ketakutannya. Dan justru karena kejujuran itu, ikatan di antara mereka semakin kuat. Mengetahui bahwa teman-teman kita juga merasa takut — dan memilih untuk menghadapi ketakutan itu bersama-sama — adalah pengalaman yang membentuk keberanian yang bertahan lama.
Alumni pesantren sering bilang bahwa kebiasaan berdoa sebelum menghadapi tantangan besar adalah salah satu bekal paling berharga dari pesantren. Bukan hanya doa sebagai ritual, tapi doa sebagai cara untuk mengingatkan diri bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari usaha sendiri — dan bahwa meminta pertolongan kepada Tuhan bukan tanda kelemahan, tapi tanda kebijaksanaan.
Apakah tradisi ini bertahan setelah lulus dari pesantren?
Banyak alumni yang tetap mendoakan teman-teman pesantrennya saat menghadapi momen penting. Saat teman menghadapi ujian masuk kerja, ada yang mengirim pesan berisi doa. Saat teman akan menikah, ada yang sholat hajat untuk kebahagiaan pernikahannya. Saat teman sedang sakit, ada yang mendoakan dari jauh tanpa memberi tahu.
Tradisi saling mendoakan yang dimulai dari kamar asrama bertahun-tahun lalu ternyata tidak berakhir di pesantren. Ia menjadi kebiasaan hidup yang mewarnai hubungan antar alumni dengan warna yang sangat khas — warna kepedulian yang tulus, tanpa syarat, dan tanpa pamrih.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, suasana menjelang ujian selalu diwarnai oleh kegiatan spiritual yang menenangkan. Istighosah bersama, doa di kamar masing-masing, dan saling menguatkan antar teman menjadi tradisi yang membuat ujian bukan menjadi beban, tapi menjadi momen pembuktian yang dihadapi bersama.
Mungkin itulah perbedaan terbesar antara menghadapi ujian sendirian dan menghadapi ujian sebagai bagian dari komunitas — ketika kita tahu ada ratusan orang yang mendoakan kita, langkah masuk ke ruang ujian terasa jauh lebih ringan.
Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan akademik dan spiritual santri di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan dijawab dengan senang hati.