Saat Santri Mendoakan Orang Tua di Sepertiga Malam Tanpa Diketahui

Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada ustadz yang berdiri di samping, mengawasi. Masjid masih gelap, udara dingin menyentuh kulit melalui jendela yang terbuka separuh. Jam dinding baru menunjuk angka tiga. Dan di barisan paling belakang, seorang santri mengangkat tangan setelah sujud terakhirnya. Bibirnya bergerak pelan. Matanya basah. Ia sedang menyebut nama ibunya.

Tidak ada yang tahu. Tidak teman sekamarnya, tidak pengasuhnya, tidak juga ibu yang namanya sedang disebut dalam doa itu.

Kenapa justru di kejauhan hati seorang anak bisa begitu dekat dengan orang tuanya?

Kita sering mengira bakti kepada orang tua itu soal patuh. Soal menjawab panggilan dengan suara lembut. Semua itu benar. Tapi ada bentuk bakti yang lebih sunyi, lebih dalam, dan justru muncul ketika tidak ada siapa pun yang melihat. Bakti yang tumbuh dari rindu.

Apa yang terjadi ketika seorang anak belajar hidup tanpa orang tuanya?

Bulan-bulan pertama di pesantren itu berat. Anak yang di rumah tidak pernah mencuci piringnya sendiri, tiba-tiba harus mengatur seluruh hidupnya. Dan di antara semua penyesuaian itu, ada satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun — rasa kehilangan yang diam-diam mengajarkan rasa syukur.

Seorang santri pernah bercerita kepada kakak kelasnya. Bukan curhat besar. Cuma kalimat pendek setelah makan malam. Kak, aku baru sadar masakan ibu itu enak banget. Kakak kelasnya tersenyum. Karena ia pernah merasakan hal yang persis sama.

Di rumah, kita tidak pernah menghitung berapa kali ibu memanaskan lauk yang sama supaya kita tetap makan hangat. Semua itu terasa biasa. Sampai kita pergi. Sampai kita tinggal di tempat yang mengharuskan kita melakukan segalanya sendiri. Baru dari situ, pelan-pelan, kita mulai mengerti.

Ternyata rindu itu guru yang paling jujur.

Bagaimana doa di sepertiga malam mengubah hubungan anak dengan orang tuanya?

Ada sesuatu tentang waktu sepertiga malam yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saja. Ketika dunia tidur dan seorang santri memilih berdiri di atas sajadahnya, yang keluar dari mulutnya bukan hafalan doa semata. Yang keluar adalah percakapan paling jujur antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Dan anehnya, dalam percakapan itu, yang paling sering disebut bukan dirinya sendiri.

Kalimat-kalimat doa untuk orang tua itu tidak diajarkan di kelas. Tidak ada di buku teks. Kalimat itu muncul karena seorang anak sudah cukup dewasa untuk menyadari bahwa ia berhutang seumur hidup kepada dua orang yang tidak pernah menagih.

Apakah orang tua pernah benar-benar tahu?

Mungkin tidak. Dan mungkin memang tidak perlu.

Ada seorang ibu yang pernah bertanya kepada anaknya saat hari kunjungan. Kamu sering sholat malam? Anaknya hanya menjawab, kadang-kadang, Bu. Padahal teman sekamarnya tahu, anak itu bangun hampir setiap malam. Sajadahnya selalu yang pertama terbentang di sudut masjid.

Kenapa ia tidak cerita? Karena ia merasa bahwa doa yang disimpan antara dirinya dan Allah saja rasanya berbeda.

Ada ikatan yang bekerja di luar logika. Dan pesantren, tanpa bermaksud, menjadi tempat di mana ikatan itu diuji, dirindukan, lalu ditemukan kembali dalam bentuk yang jauh lebih kuat.

Kenapa pengalaman ini membentuk karakter yang berbeda?

Karena tidak semua pelajaran bisa diberikan melalui kata-kata. Beberapa pelajaran harus dirasakan. Harus dijalani. Harus dimenangkan lewat malam-malam panjang yang sepi.

Santri yang sudah melewati fase ini pulang dengan sesuatu yang berbeda di matanya. Ia mencium tangan orang tuanya lebih lama. Ia mendengarkan cerita ibunya dengan lebih sabar. Ia melihat ayahnya bukan lagi sebagai sosok yang serba bisa, tapi sebagai manusia biasa yang sudah memberikan segalanya.

Di Darunnajah 2 Cipining, akar itu mendapat ruang untuk tumbuh. Bukan lewat ceramah tentang berbakti. Tapi lewat pengalaman hidup mandiri yang perlahan membuka mata setiap santri tentang betapa berharganya orang-orang yang mereka tinggalkan di rumah.

Mungkin kita yang sedang membaca ini adalah orang tua yang masih ragu melepas anaknya. Percayalah, ada doa-doa yang hanya bisa lahir dari kerinduan. Dan kerinduan itu butuh jarak untuk bisa tumbuh.

Kalau kita ingin tahu lebih banyak, hubungi WhatsApp 0812111180. Karena kadang, langkah terbaik yang bisa kita ambil untuk anak kita adalah memberinya ruang untuk merindukan kita. Dan di ruang rindu itu, ia akan belajar mendoakan kita dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.