Tradisi Membaca Kitab Bersama Ustadz dan Kedekatan Ilmu yang Terasa Hidup

Ada momen di pesantren yang suasananya berbeda dari semua kegiatan lain. Bukan di kelas. Bukan di lapangan. Tapi di halaman asrama atau di serambi masjid, ketika seorang ustadz duduk di tengah lingkaran santri yang memegang kitab yang sama, dan perlahan mulai membaca teks Arab yang sudah berusia ratusan tahun.

Tradisi ini disebut dengan banyak nama — bandungan, sorogan, atau sekadar mengaji kitab bersama. Apapun sebutannya, esensinya sama. Santri duduk mengelilingi ustadz, mendengarkan bacaan dan penjelasannya, lalu mencatat makna di sela-sela baris tulisan Arab yang sudah tercetak di halaman kitab mereka.

Suasananya selalu tenang tapi penuh konsentrasi.

Ustadz membaca satu kalimat dalam Bahasa Arab. Santri mendengarkan dengan saksama sambil mengikuti teks di kitab masing-masing. Setelah membaca, ustadz menjelaskan maknanya — kadang dalam Bahasa Indonesia, kadang dalam Bahasa Arab, kadang dicampur keduanya tergantung tingkat kemampuan santri yang hadir. Penjelasan itu tidak pernah kering. Selalu ada cerita, ada konteks sejarah, ada kaitan dengan kehidupan sehari-hari yang membuat teks kuno itu tiba-tiba terasa relevan.

Kenapa cara belajar yang sudah berusia ratusan tahun ini masih efektif?

Karena ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh buku teks modern atau video pembelajaran — yaitu kehadiran langsung seorang guru yang menguasai ilmunya secara mendalam. Ketika ustadz membaca kitab, santri tidak hanya menerima informasi. Mereka menyerap cara berpikir, cara memahami teks, cara menghubungkan satu konsep dengan konsep lain. Transfer pengetahuan yang terjadi bukan hanya soal isi — tapi juga soal metode.

Santri yang duduk di halaqah itu belajar bagaimana seorang ahli membaca teks. Bagaimana matanya bergerak mencari kata kunci. Bagaimana dia berhenti di kalimat tertentu untuk memberikan penekanan. Bagaimana dia mengaitkan teks yang sedang dibaca dengan teks lain dari kitab yang berbeda. Semua itu adalah keterampilan yang tidak bisa didapat dari membaca sendiri di kamar.

Momen paling berharga biasanya terjadi ketika ustadz berhenti membaca dan bertanya.

Pertanyaan itu bukan tes. Lebih mendekati undangan untuk berpikir. Santri yang bisa menjawab merasa senang, tapi santri yang belum bisa menjawab tidak merasa malu — karena ustadz langsung menjelaskan dengan sabar, kadang dari sudut pandang yang sama sekali baru. Ada dialog yang terjadi antara guru dan murid yang terasa hangat, bukan formal. Kedekatan itu tidak bisa dibangun di ruang kelas yang besar dengan puluhan murid. Halaqah yang lebih kecil memungkinkan interaksi yang lebih personal.

Catatan di kitab setiap santri berkembang menjadi sesuatu yang unik.

Di sela-sela baris teks Arab, santri menulis makna kata, catatan penting, dan kadang komentar pribadi mereka sendiri. Setiap kitab yang sudah selesai dibaca bersama ustadz menjadi benda yang sangat berharga — bukan karena harga kertasnya, tapi karena catatan di dalamnya adalah rekaman perjalanan belajar yang tidak bisa diulang. Santri yang sudah lulus kadang masih menyimpan kitab-kitab itu di rak buku mereka sebagai kenangan yang bermakna.

Ilmu yang diterima lewat halaqah terasa berbeda dari ilmu yang didapat lewat buku sendiri. Ada kehangatan, ada otoritas, ada sanad — rantai penyampaian ilmu dari guru ke murid yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu.

Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi membaca kitab bersama ustadz menjadi bagian dari kegiatan rutin yang sudah berlangsung sejak pesantren berdiri. banyak santri melewati pengalaman ini, dan setiap angkatan membawa pulang catatan-catatan di kitab mereka sebagai harta yang tidak ternilai.

Ada ilmu yang memang harus diterima dari manusia ke manusia, bukan dari layar ke mata. Tradisi halaqah kitab di pesantren menjaga cara penyampaian ilmu itu tetap hidup di tengah zaman yang serba digital.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.