Tips Hebat Cara Menikmati Lebaran

Tips Hebat Cara Menikmati Lebaran

Bulan suci ramadhan sudah tiba, perayaan Lebaran pun mulai dibicarakan umat Islam.

Perayaan Lebaran kita lakukan setiap tahun, lebaran mampu mendatangkan kebahagian yang luar biasa bagi umat Islam. Banyak diantara kita yang rela berkorban apapun demi merasakan hangatnya  lebaran di tengah-tengah keluarga. Biaya yang mahal, jauhnya perjalanan dan lelahnya terjebak macet, tak diambil pusing.

Indahnya nuansa berlebaran ternyata sudah terlanjur menguasai perasaan kita. Akibatnya kita tidak pernah mempersoalkan berapa banyak biaya yang kita keluarkan. Padahal tidak sepantasnya perayaan lebaran menjadikan kita lalai dan lupa daratan. Islam tidak membenarkan kita melampui batas sehingga perayaan Lebaran kita lepas kontrol dan tanpa ukur.

Di dalam sebuah berita disebutkan, bahwa untuk menyambut perayaan Lebaran tahun lalu, Bank Indonesia menyiapkan dana tunai sebesar Rp 61,36 triliun. Namun pada kenyataannya, prediksi ini tidak tepat, bahkan jauh dari kenyataan yang terjadi di lapangan. Dalam kurun waktu sekitar 4 minggu ternyata dana tunai yang diserap oleh masyarakat, terutama umat Islam mencapai angka fantastis. Dijelaskan bahwa sampai H-5 lebaran tahun lalu permintaan umat Islam terhadap uang tunai telah mencapai Rp. 77 triliun. Angka ini jauh melebihi permintaan umat Islam pada periode sebelumnya.

Lalu apakah kita menjadi bangga? Tidak. Justru seharusnya kita malu. Sadarkah kita bahwa banyak dari dana tersebut tidak mengalir ke kantung-kantung umat Islam namun mengalir ke kantung-kantung umat lain? Silahkan kita cermati pusat-pusat perbelanjaan yang banyak dibanjiri oleh umat Islam selama bulan Ramadhan, niscaya kita dapatkan kebanyakannya milik umat lain.

Akan tetapi coba kita amati hari-hari besar umat lain, adakah dari umat Islam yang turut menikmati keuntungan dari  perayaan mereka?

Bila demikian adanya, mengapa selama ini umat Islam seakan-akan tidak perduli akan fakta ini?

Uang 77 trilyun, mungkin tidak pernah kita bayangkan, namun itulah kenyataannya. Kemampuan membelanjakan uang begitu besar dalam waktu yang singkat, adalah bukti nyata bahwa sesungguhnya umat Islam itu kaya.

Bagaimana tidak kaya, angka di tadi hanyalah hitungan kasar, karena itu sebatas uang yang secara resmi dicairkan oleh Bank Indonesia. Faktanya, lebih banyak lagi uang yang disimpan di bawah bantal, di bawah baju, di lemari, di brankas pribadi, dan lain-lain. Tidak terhitung jumlahnya.

Bayangkan berapa puluh trilyun angka seluruhnya jumlah uang yang dibelanjakan umat Islam pada saat lebaran?

Andai uang yang sangat besar ini tidak dihambur-hamburkan. Andai kita bisa menahan diri tidak merayakan lebaran dengan berlebihan. Andai kita uang umat Islam diinvestasikan pada usaha-usaha produktif, tentu hal ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang besar.

Dan andai kita mau menyisihkan sebagian uang perayaan lebaran untuk menyantuni fakir miskin, tentu kita bisa mengentaskan kemiskinan dan memajukan umat.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rakyat miskin di Indonesia pada bulan Maret 2011 adalah 30 juta jiwa. Dengan demikian bila uang sebesar 77 triliun dibagikan kepada mereka maka masing-masing bisa mendapatkan paling sedikit 2,4 juta rupiah.

Tentu uang sebesar ini bagi rakyat miskin sangat berarti dan bahkan bisa menjadi modal untuk usaha guna menyambung hidup keluarga mereka.

Namun kenyataannya dana tersebut kita belanjakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, sehingga tidak banyak memberikan nilai positif bagi kesejahteraan umat. Hanya segelintir orang, yaitu para pedagang yang dapat menikmati derasnya aliran dana umat.

Mari kita ingat-ingat kembali, apa yang tahun lalu kita lakukan saat merayakan Lebaran? Berapa banyak baju baru yang kita beli? Sepatu dan sandal. Berapa banyak makanan yang kita siapkan? Seolah-olah lebaran kita tidak sah bila tidak menyediakan hidangan dan kue yang beraneka ragam.

Lebih ironis lagi, bagi sebagian orang tujuan Lebaran telah beralih dari ibadah dan syukur menjadi ajang pamer baju baru, kue, perhiasan, kendaraan baru dan lain sebagainya.

Tidakkah kita ingat sabda Nabi kita Muhammad SAW berikut ini.

 كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِى غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلاَ مَخِيْلَةِ

“Makan, minum, berpakaian dan bersedekahlah, tanpa berlebih-lebihan dan sombong” [HR Bukhari]

Ubudiyah kepada Allah Azza wa Jalla bukan terletak pada amaliyah lahir semata, namun juga pada kepatuhan kita kepada segala perintah dan larangan, apapun bentuknya. Ubudiyah bisa berupa makan dan minum, sebagaimana dapat terwujud pada menahan diri dari keduanya.

Namun, apa boleh dikata bila ternyata umat Islam lebih menekankan pada penampilan lahir, seakan Lebaran hanya sekedar bersenang-senang dengan pakaian baru dan hidangan enak.

Padahal Rasulullah SAW dan para sahabat telah mencontohkan, dalam merayakan Lebaran nilai-nilai ibadah itu seharusnya lebih ditekankan dibanding penampilan.

Pernah suatu ketika Hari raya Idul Fitri telah tiba, namun ternyata saat itu masih ada Sahabat Nabi SAW yang belum mempunyai jilbab yang dapat digunakan menutup auratnya ketika keluar rumah.

Mari kita renungkan kata mutiara berikut ini:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمِنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ

“Lebaran itu bukan miliknya orang yang pakai baju baru. Tapi lebaran sesungguhnya itu milik orang yang ketaatannya bertambah (setelah Ramadhan)”.

Semoga paparan sederhana ini mampu menggugah iman kita, sehingga kita tidak menghamburkan uang kita dalam hal-hal yang kurang bernilai. Alangkah indahnya bila uang kita dititipkan di sisi Allah SWT. Berapa banyak pintu-pintu surga yang terbuka di sekitar kita, namun betapa sedikit yang berhasil kita raih dengan harta kekayaan kita.

Pendaftaran Santri Baru