
Anjuran menjaga kebugaran tubuh telah disampaikan Islam jauh sebelum ilmu olahraga modern berkembang. Umar bin Khattab RA berpesan agar para orang tua mengajarkan anak-anak mereka berenang, memanah, dan menunggang kuda. Tiga keterampilan itu kini dikenal luas sebagai olahraga sunnah. Di baliknya tersimpan pesan tentang kesiapan fisik, ketajaman fokus, dan keberanian menghadapi tantangan.
Ketiganya memiliki kesamaan mendasar. Setiap jenis menuntut penguasaan diri sebelum penguasaan teknik. Seorang pemanah harus menenangkan napasnya, penunggang kuda harus mengendalikan rasa takutnya, dan perenang harus melepaskan ketegangan tubuhnya. Latihan fisik dalam ketiga cabang ini berjalan seiring dengan latihan mental yang berlangsung diam-diam.
menempati kedudukan yang paling banyak disebut dalam riwayat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kekuatan itu terletak pada kemampuan memanah, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. Beliau mengulang kalimat tersebut beberapa kali, menunjukkan penekanan yang khusus. Olahraga ini menuntut konsentrasi tinggi, kestabilan tangan, dan kesabaran mengulang gerakan yang sama ratusan kali.
Manfaat memanah bagi santri cukup luas:
– Melatih fokus dan ketenangan dalam menghadapi tekanan.
– Memperkuat otot bahu, lengan, dan punggung bagian atas.
– Menumbuhkan kesabaran melalui proses latihan yang berulang.
– Mengajarkan penerimaan atas hasil setelah usaha maksimal dilakukan.
Menunggang kuda melatih keberanian dan kepekaan. Penunggang harus membangun komunikasi dengan hewan yang jauh lebih besar dan bertenaga daripada dirinya. Keberhasilan dalam olahraga ini bergantung pada ketenangan, ketegasan, dan kelembutan yang diberikan pada saat yang tepat. Keseimbangan tubuh dan kekuatan otot inti terlatih secara alami selama berkuda.
Olahraga ini juga menyimpan pelajaran kepemimpinan. Seorang penunggang belajar memberi arahan yang jelas tanpa kekerasan, membaca tanda-tanda halus dari tunggangannya, dan menjaga kepercayaan yang telah terbangun. Cara kerja tersebut menyerupai hubungan seorang pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya, yang menuntut ketegasan sekaligus kasih sayang.

Berenang melengkapi keduanya dengan latihan pernapasan dan daya tahan. Hampir seluruh kelompok otot bekerja bersamaan, sementara daya apung air mengurangi tekanan pada sendi. Keterampilan ini juga bernilai sebagai kemampuan bertahan hidup, terutama bagi masyarakat yang tinggal di negara kepulauan dengan sungai dan pantai yang luas.
Ketiga olahraga tersebut berakar pada satu prinsip yang lebih besar. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Muslim bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meski pada keduanya terdapat kebaikan. Kekuatan yang dimaksud mencakup iman, ilmu, mental, dan fisik yang saling menopang satu sama lain.
Kekuatan fisik dalam Islam memiliki arah yang jelas. Ia diarahkan untuk menjaga diri, membela yang lemah, dan menunaikan tugas ibadah dengan tenaga penuh. Tubuh yang bugar memudahkan seseorang bangun untuk salat malam, menempuh perjalanan menuntut ilmu, dan membantu orang lain yang membutuhkan tenaganya. Kekuatan yang tidak diarahkan pada kebaikan kehilangan nilainya.
Di lingkungan pesantren, ketiga olahraga ini dapat dikembangkan sesuai ketersediaan sarana. Memanah relatif mudah dijalankan dengan peralatan sederhana dan lahan terbatas. Renang membutuhkan kolam dengan pengawasan yang memadai, sementara berkuda menuntut fasilitas dan pendampingan khusus. Di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining, kontur lahan yang luas memberi ruang bagi pengembangan kegiatan semacam ini.
Aspek keselamatan tetap menjadi syarat utama. Pemanahan menuntut area yang steril dari lalu-lalang orang, renang mengharuskan kehadiran pengawas yang menguasai teknik pertolongan, dan berkuda memerlukan pelindung kepala serta pelatih berpengalaman. Kelalaian pada aspek ini dapat mengubah kegiatan yang bermanfaat menjadi sumber kecelakaan.
Kepada para santri, ketiga olahraga ini menawarkan lebih dari kebugaran. Pilih salah satu yang paling memungkinkan dijalankan, tekuni secara rutin, dan perhatikan perubahan pada fokus serta ketahanan diri. Warisan sunnah ini diteruskan bukan untuk dikenang sebagai sejarah, melainkan untuk dijalankan sebagai kebiasaan yang membentuk generasi kuat pada masanya.
