Ketika Teman Sekamar Bangunkan Kita untuk Tahajud Padahal Dia Sendiri Masih Mengantuk

Jam dua lebih sedikit. Kamar asrama masih gelap. Dari kasur sebelah, ada tangan yang pelan-pelan menepuk bahu. Suaranya setengah berbisik, setengah menguap. Bangun, tahajud. Kalau dilihat wajahnya, matanya sendiri masih setengah terpejam. Kakinya masih berat untuk turun dari kasur. Tapi ia sudah bangun duluan — dan hal pertama yang ia lakukan bukan pergi ke kamar mandi, tapi membangunkan teman di sebelahnya.

Mengapa gestur kecil ini begitu bermakna?

Karena tidak ada yang menyuruhnya. Tidak ada aturan pesantren yang mengatakan bahwa santri wajib membangunkan teman sekamarnya untuk tahajud. Ini bukan tugas piket. Ini bukan kewajiban organisasi. Ini murni inisiatif pribadi dari seseorang yang percaya bahwa kebaikan harus ditularkan — bahkan ketika tubuhnya sendiri belum sepenuhnya siap.

Ada sesuatu yang sangat dalam dari gestur ini. Orang yang membangunkan orang lain untuk beribadah sedang melakukan dua hal sekaligus — menunjukkan kepedulian dan menunjukkan prioritas. Ia peduli pada temannya sampai tidak mau temannya melewatkan waktu yang paling baik untuk berdoa. Dan ia memprioritaskan kebaikan temannya di atas kenyamanan tidurnya sendiri.

Tidak banyak orang dewasa yang mampu melakukan itu. Tapi di pesantren, anak-anak usia dua belas tahun melakukannya setiap malam.

Bagaimana kebiasaan saling membangunkan ini terbentuk?

Biasanya dimulai dari satu orang di kamar yang sudah terbiasa tahajud — bisa jadi santri yang memang sudah punya kebiasaan itu dari rumah, atau santri yang terinspirasi setelah melihat wali kamarnya bangun lebih dulu setiap malam. Orang itu tidak membangunkan seluruh kamar sekaligus. Ia membangunkan satu teman. Hanya satu.

Teman yang dibangunkan awalnya mungkin mengeluh. Mungkin menarik selimut lebih erat. Mungkin bilang nanti dulu, lima menit lagi. Tapi setelah beberapa malam, ada sesuatu yang berubah. Ia mulai merasa tidak enak kalau tidak ikut bangun. Bukan karena takut dikritik, tapi karena ia mulai merasakan sendiri manfaat dari tahajud yang sudah beberapa kali ia jalani.

Lalu orang kedua itu mulai membangunkan orang ketiga. Dan orang ketiga membangunkan orang keempat. Dalam beberapa bulan, seluruh kamar bangun bersama tanpa perlu dikomandoi. Rantai kebaikan itu berputar dengan sendirinya.

Apa yang terjadi di perjalanan dari kamar ke masjid?

Perjalanan dari asrama ke masjid di jam dua malam punya suasana yang tidak ditemukan di jam-jam lain. Udara malam yang dingin langsung menyegarkan wajah yang tadi masih mengantuk. Langit yang penuh bintang — terlihat jelas karena pesantren berada di dataran tinggi jauh dari polusi cahaya kota — menjadi pemandangan yang setiap malam selalu terasa baru.

Santri berjalan berdampingan dalam diam. Tidak ada obrolan. Hanya suara langkah kaki dan napas yang berembun di udara dingin. Tapi kebersamaan di momen itu sangat terasa — lebih terasa dari kebersamaan di waktu ramai. Ada ikatan yang terbentuk dari menjalani sesuatu yang sulit bersama-sama di waktu yang seharusnya dipakai untuk tidur.

Apa dampak jangka panjang dari kebiasaan ini?

Santri yang terbiasa saling membangunkan untuk tahajud membawa kebiasaan itu ke kehidupan dewasa. Banyak alumni yang bilang bahwa kebiasaan tahajud adalah satu-satunya kebiasaan pesantren yang tidak pernah mereka tinggalkan — dan setiap kali bangun di tengah malam, mereka teringat tangan teman yang menepuk bahunya bertahun-tahun lalu.

Kebiasaan ini juga membentuk pola hubungan yang sehat. Orang yang terbiasa dibangunkan untuk kebaikan tanpa diminta akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Ia menjadi pasangan yang mengingatkan untuk sholat. Menjadi orang tua yang membangunkan anak dengan lembut. Menjadi teman yang hadir di saat dibutuhkan tanpa harus menunggu diminta.

Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, kebiasaan saling membangunkan untuk tahajud sudah menjadi budaya asrama yang turun-temurun dari angkatan ke angkatan. Bukan budaya yang dipaksakan oleh aturan, tapi budaya yang tumbuh dari teladan wali kamar dan dari pengalaman merasakan sendiri ketenangan setelah sholat di sepertiga malam terakhir.

Mungkin bertahun-tahun dari sekarang, ketika dua alumni bertemu di suatu tempat, salah satu cerita pertama yang mereka tertawakan bersama adalah tentang malam-malam ketika seseorang menepuk bahu mereka di jam dua pagi dengan mata setengah merem sambil berbisik — bangun, tahajud — lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandi duluan.

Kebaikan kecil itu mungkin terlihat sepele. Tapi bagi yang pernah merasakannya, itu adalah salah satu bentuk persahabatan paling tulus yang pernah ada.

Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan spiritual santri di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan dijawab dengan senang hati.