Kebiasaan itu dimulai dari ajakan yang sangat sederhana. Teman sekamar yang setiap pagi, setelah sarapan dan sebelum masuk kelas, selalu berjalan ke masjid sendirian. Suatu hari ia bertanya: mau ikut sholat dhuha? Tidak ada tekanan. Tidak ada ceramah tentang keutamaan dhuha. Hanya ajakan ringan dari seseorang yang sudah menjadikannya kebiasaan — dan ajakan itu mengubah segalanya.
Mengapa ajakan dari teman lebih efektif dari ajakan siapa pun?
Karena teman sebaya bicara dengan bahasa yang sama. Ketika ustadz menjelaskan keutamaan sholat dhuha di kelas, informasinya sampai ke kepala. Tapi ketika teman sekamar mengajak dengan cara yang santai dan tanpa beban, informasi itu sampai ke hati. Ada perbedaan besar antara tahu bahwa sesuatu itu baik dan melihat langsung seseorang yang seusia kita melakukannya setiap hari tanpa merasa terbebani.
Teman yang mengajak sholat dhuha tidak pernah memaksa. Kalau diajak dan jawabnya “nanti dulu,” ia pergi sendiri tanpa mengomentari. Kalau besoknya diajak lagi dan jawabnya masih sama, ia tetap pergi tanpa terlihat kecewa. Konsistensi tanpa tekanan itulah yang akhirnya membuat rasa penasaran muncul — apa sih yang membuat dia rajin sekali sholat dhuha setiap pagi?
Lalu suatu hari, tanpa diajak, kaki melangkah sendiri mengikutinya ke masjid. Dan di situlah semuanya dimulai.
Apa yang dirasakan santri setelah pertama kali sholat dhuha?
Banyak yang bilang tidak merasakan apa-apa di awal. Sholat dhuha berlangsung singkat — dua rakaat, kadang empat. Setelah selesai, yang terasa mungkin hanya sedikit lebih segar karena wudhu dan beberapa menit ketenangan di masjid. Tidak ada efek dramatis.
Tapi setelah seminggu melakukannya setiap hari, ada sesuatu yang mulai berubah. Pagi terasa lebih lengkap. Ada jeda kecil antara sarapan dan kelas yang tadinya diisi dengan hal-hal yang tidak bermakna — sekarang diisi dengan momen ketenangan yang membuat pikiran lebih siap untuk belajar.
Setelah sebulan, kebiasaan itu sudah melekat. Tubuh yang tidak sholat dhuha merasa ada yang kurang di paginya — seperti lupa menyikat gigi atau lupa sarapan. Bukan karena takut dosa, tapi karena tubuh dan pikiran sudah terbiasa dengan ritme itu.
Bagaimana kebiasaan ini menyebar di asrama?
Dengan cara yang sama persis — dari ajakan ringan satu orang ke orang lain. Santri yang sudah terbiasa sholat dhuha mengajak teman dekatnya. Teman dekatnya mengajak teman yang lain. Dalam beberapa bulan, bisa jadi seluruh kamar sudah punya kebiasaan yang sama.
Yang menarik, tidak pernah ada yang merasa dipaksa. Kebiasaan ini menyebar bukan karena tekanan sosial, tapi karena contoh nyata. Melihat teman yang setiap paginya terlihat lebih tenang dan lebih siap menghadapi hari membuat orang lain ingin merasakan hal yang sama.
Di pesantren, ibadah sunnah memang tidak diwajibkan. Tapi lingkungan yang mendukung membuat ibadah sunnah terasa ringan untuk dilakukan. Masjid selalu terbuka. Waktu antara sarapan dan kelas memang tersedia. Teman yang mengajak selalu ada. Semua kondisi ini membuat kebiasaan baik tumbuh secara alami tanpa perlu program khusus.
Mengapa kebiasaan ini bertahan sampai setelah lulus?
Karena kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun sudah menjadi bagian dari identitas. Alumni pesantren yang sudah bekerja dan berkeluarga sering bilang bahwa sholat dhuha adalah satu kebiasaan dari pesantren yang tidak pernah mereka tinggalkan. Di kantor, mereka mencari musholla saat istirahat pagi. Di rumah, mereka sholat dhuha sebelum berangkat kerja.
Dan yang paling sering diingat bukan sholatnya sendiri, tapi orang yang pertama kali mengajak. Teman sekamar yang di pagi hari, dengan cara paling sederhana yang bisa dibayangkan, mengulurkan tangan dan bilang: mau ikut?
Kebaikan yang ditularkan dari teman ke teman punya daya tahan yang luar biasa. Bukan karena kebaikan itu diperintahkan, tapi karena ia dicontohkan. Dan contoh yang dilihat setiap hari selama bertahun-tahun meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam dari ceramah mana pun.
Apa yang membuat pesantren menjadi tempat terbaik untuk membentuk kebiasaan ibadah?
Lingkungan dua puluh empat jam. Itu jawabannya yang paling jujur. Di rumah, kebiasaan baik sering kalah dengan kenyamanan. Di pesantren, kebiasaan baik diperkuat oleh lingkungan yang seluruhnya mendukung — masjid yang selalu dekat, teman yang selalu mengajak, jadwal yang selalu menyediakan waktu, dan teladan dari ustadz dan wali kamar yang menjalankan ibadah yang sama.
Sholat lima waktu berjamaah sudah menjadi fondasi. Di atas fondasi itu, ibadah sunnah seperti dhuha, tahajud, puasa Senin-Kamis, dan dzikir pagi petang tumbuh secara alami. Bukan karena dipaksakan, tapi karena santri melihat orang-orang di sekelilingnya melakukannya dengan ikhlas — dan keikhlasan itu menular.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, kehidupan ibadah santri berjalan sebagai satu kesatuan yang utuh dengan kehidupan akademik dan sosial. Tidak ada pemisahan antara waktu belajar dan waktu beribadah — semuanya mengalir dalam satu ritme yang saling melengkapi dan saling menguatkan.
Mungkin suatu hari nanti, santri yang sekarang diajak sholat dhuha oleh temannya akan mengajak orang lain melakukan hal yang sama — anaknya, pasangannya, rekan kerjanya. Dan rantai kebaikan yang dimulai dari satu ajakan ringan di kamar asrama bertahun-tahun lalu terus berputar tanpa henti.
Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan ibadah dan spiritual santri di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan hangat.