Sebelum masuk pesantren, sholat Dhuha mungkin bukan sesuatu yang terlintas di benak anak-anak remaja. Di rumah, jadwal pagi hari sudah diisi dengan persiapan sekolah, sarapan, dan perjalanan ke kampus. Sholat sunnah yang waktunya terbatas antara terbit matahari dan sebelum Dzuhur itu sering terlewat begitu saja — bukan karena tidak mau, tapi karena tidak terbiasa.
Di pesantren, sholat Dhuha menjadi bagian dari rutinitas yang dilalui setiap hari.
Bukan sebagai kewajiban yang dipaksakan dengan ancaman hukuman. Tapi sebagai kebiasaan kolektif yang berjalan secara alami — ketika seluruh asrama bergerak ke masjid di waktu Dhuha, santri yang sebelumnya tidak pernah mengenal sholat ini ikut bergerak juga. Dorongan sosial itu cukup untuk memulai. Yang membuat kebiasaan itu bertahan adalah sesuatu yang lain.
Awalnya hanya ikut-ikutan. Teman pergi ke masjid, ikut pergi. Teman sholat, ikut sholat.
Tidak ada niat spiritual yang muluk di hari-hari pertama. Hanya mengikuti arus. Tapi setelah beberapa minggu menjalaninya secara konsisten, ada yang mulai berubah. Santri yang awalnya ikut tanpa niat mulai merasakan dampak kecil yang tidak bisa diabaikan — pagi hari terasa lebih tenang setelah sholat Dhuha. Pikiran yang tadinya berantakan sebelum masuk kelas menjadi lebih teratur. Tubuh yang tadinya lesu mendapat energi yang datangnya tidak bisa dijelaskan secara logis.
Perubahan itu tidak datang sekaligus. Tapi datangnya konsisten.
Setiap hari yang dimulai dengan sholat Dhuha terasa sedikit lebih ringan dari hari yang tidak. Perlahan, santri mulai menyadari pola itu. Bukan karena diceramahi. Bukan karena membaca buku tentang keutamaan sholat Dhuha. Tapi karena merasakan langsung di tubuh dan pikirannya sendiri. Pengalaman personal selalu lebih meyakinkan dari teori manapun.
Momen transformasi biasanya terjadi di hari libur.
Di hari-hari biasa, sholat Dhuha terasa otomatis karena jadwal pesantren mengarahkan ke sana. Tapi di hari libur, ketika tidak ada jadwal yang memaksa, santri punya pilihan — tidur lebih lama atau bangun seperti biasa dan sholat Dhuha. Ketika dia memilih yang kedua tanpa ada tekanan dari luar, di momen itulah kebiasaan berubah menjadi kebutuhan. Sholat Dhuha bukan lagi sesuatu yang dia lakukan karena ikut-ikutan. Ini sesuatu yang dia butuhkan untuk memulai harinya dengan benar.
Dampak kebiasaan ini bertahan jauh melampaui masa mondok.
Alumni pesantren yang sudah bekerja di kantor atau melanjutkan kuliah sering bercerita bahwa sholat Dhuha tetap menjadi bagian dari pagi mereka. Kadang dilakukan di mushola kantor. Kadang di pojok kamar kost. Kadang di masjid terdekat di tengah perjalanan ke kampus. Tempatnya berubah, tapi kebiasaannya tetap. Fondasi yang dibangun di pesantren ternyata cukup kuat untuk bertahan di lingkungan yang sama sekali berbeda.
Di Darunnajah 2 Cipining, sholat Dhuha menjadi salah satu amalan sunnah yang dibiasakan kepada seluruh santri setiap hari. Bukan dengan ceramah panjang tentang keutamaannya, tapi dengan pembiasaan sederhana yang konsisten dari hari ke hari.
Kebiasaan baik memang jarang dimulai dari kesadaran. Lebih sering dimulai dari ikut-ikutan — dan tidak ada yang salah dengan itu, selama pada akhirnya kebiasaan itu tumbuh menjadi sesuatu yang dipilih dengan sadar.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan spiritual santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.