
Sepekan penuh Aula Al-Ghozali menjadi saksi sebuah peralihan peran. Sebanyak 82 guru baru mengikuti Pembekalan Guru Baru Tahun Ajaran 2026-2027 sejak Senin, 27 Juli 2026, hingga Ahad, 2 Agustus 2026. Seluruh peserta adalah lulusan angkatan Glorious Generation yang baru saja menuntaskan masa belajar. Departemen Sumber Daya Manusia menggelar kegiatan bertema “Meneguhkan Khittah Perjuangan Pesantren Melalui Penguatan Kompetensi Guru Baru” itu secara intensif. Bagi mereka, bangku belajar kini berganti menjadi mimbar tanggung jawab.
Regenerasi pendidik adalah urat nadi keberlangsungan lembaga pendidikan Islam. Pesantren Darunnajah 2 Cipining memandang pembekalan ini sebagai langkah strategis yang melampaui rutinitas kalender akademik. Formasi guru baru tahun ini sepenuhnya diisi lulusan segar dari satu angkatan yang sama. Karena itu, masa transisi mereka perlu difasilitasi dengan sungguh-sungguh. Semangat juang alumni dijembatani dengan kapasitas profesional seorang pendidik.


Tantangan terbesar panitia justru berada di ruang batin. Peserta sudah mengenal lingkungan dan nilai Pesantren sejak lama, sehingga adaptasi bukan persoalan utama. Yang berat adalah mengubah pola pikir (mindset) dari santri yang dibimbing menjadi asatidz dan ustadzaat yang membimbing. Mereka harus beralih dari rutinitas belajar menuju penguasaan tata kelola kelas dan kedisiplinan administrasi. Wibawa sebagai uswah hasanah bagi adik-adik kelasnya pun mesti dijaga.
Pendekatan dari hati ke hati akhirnya menjadi pilihan panitia. Rangkaian acara dibuka secara resmi dengan wejangan dan arahan strategis Direktur Sumber Daya Manusia, Ust. Yogi Saputra, M.Pd., bersama Pembina Pesantren, Ust. Nasikhun Sugik, S.E., M.M. Aula Al-Ghozali menjadi pusat kegiatan utama sepanjang pekan. Front Office Kampus 3 dan Masjid Kampus 2 turut digunakan menyesuaikan kebutuhan materi. Suasananya berlangsung intensif sekaligus khidmat.

Mayoritas agenda difokuskan pada sore hingga malam hari. Satu sesi keilmuan khusus digelar pada Jumat pagi. Materi dirancang untuk menyeimbangkan kapasitas manajerial dan spiritual. Dari sisi profesionalitas akademik, peserta dibimbing secara praktikal menyusun perangkat administrasi pendidikan dasar. Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prosem), hingga tata cara pembuatan i’dad atau persiapan mengajar dikupas satu per satu.
Format sesi disusun kondisional mengikuti tema materi. Ketika pembahasan menyangkut santri putra, guru putra mengikuti sesi tersendiri, demikian pula sebaliknya bagi guru putri pada waktu yang sama. Materi yang berkaitan dengan santri putra dan putri disatukan dalam satu ruang. Sesi Kepengasuhan dan Tugas Wali Kamar, misalnya, dipisah: peserta putra di Front Office Kampus 3, peserta putri di Aula Al-Ghozali. Pemisahan itu membuka ruang pendekatan personal yang lebih dalam.




Enam pemateri mengisi rangkaian pembekalan sepanjang pekan, dan seluruhnya menerima sertifikat sebagai bentuk apresiasi Pesantren. Berikut nama para pemateri tersebut:
- Ust. Ahmad Rosichin, M.M.Pd.
- Ust. Abdul Hakim Firanda
- Ust. Solehudin, S.Pd.
- Ust. Ridha Makky, M.Pd.
- Ust. Imam Ghozali, M.Pd.
- Ust. Yogi Saputra, M.Pd.
Wawasan moral peserta turut diperkokoh di luar urusan teknis. Materi kepemimpinan, etika komunikasi, dan struktur organisasi diberikan secara berurutan. Pembekalan mengenai adab pergaulan islami menjadi bagian yang dinilai krusial. Rangkaian perjalanan intensif itu ditutup dengan doa bersama pada Ahad, 2 Agustus 2026. Doa tersebut menandai kesiapan utuh mereka terjun langsung membina para santri.
Hasil yang diharapkan terdengar sederhana, namun berat dipikul: lahirnya pendidik yang menjadi contoh nyata dalam kedisiplinan, ibadah, dan akhlak. Transfer ilmu berjalan seiring keteladanan sehari-hari. Sebagai tindak lanjut, Pesantren merancang program supervisi dan pendampingan berkelanjutan dari para guru senior. Keluwesan menyampaikan materi, ketertiban perangkat administrasi pembelajaran, hingga rubrik penilaian siswa akan terus dipantau. Evaluasi berkala dan forum bimbingan terstruktur menjadi kanalnya.
Berakhirnya pembekalan adalah titik tolak, bukan garis akhir. Delapan puluh dua pendidik muda itu kini memikul amanah yang dahulu mereka terima dari guru-gurunya sendiri. Wali santri dan masyarakat dapat mengikuti perjalanan mereka melalui kanal informasi resmi Pesantren, sekaligus menitipkan doa dan dukungan. Bagi alumni lain yang ingin mengabdi, pintu pembinaan kader terbuka melalui Departemen Sumber Daya Manusia. Ilmu yang diamalkan akan terus mengalir manfaatnya.


