Tausiah Pimpinan Jum’at Pagi
Menu

Tausiah Pimpinan Jum’at Pagi

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

IMG-20130712-WA0001IMG-20130712-WA0000IMG-20130712-WA0002Wardan [23/08/13]. Sunnah pesantren yang satu ini adalah tausiyah Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining, wajib dan mutlak dijalankan, tidak boleh putus atau berhenti di tengah-tengah pengajaran dan pendidikan sampai kapanpun. Sunnah ini harus diteruskan dan dikembangkan generasi-generasi penerusnya, yaitu “Tausiyah Jumat Pagi.”

Kegiatan tersebut merupakan interaksi langsung pimpinan dengan santri secara keseluruhan untuk memberikan tausiyah, arahan tentang kehidupan di pesantren, baik kepada pengurus dan anggota.
Menyampaikan informasi-informasi faktual pesantren, baik kebijakan ataupun kegiatan-kegiatan yang akan dijalankan secara umum, sehingga pengurus organisasi dan seluruh santri menjadi satu visi dan misi tinggal pesantren.
Alhamdulillah kegiatan tausiyah sampai sekarang masih berjalan, dan mari kita dukung senantiasa tetap ada di masa-masa mendatang (walaupun tempat dan waktu) bisa saja berubah, tetapi kegiatan tausiyah pimpinan secara rutin tidak berubah, tetap ada dan terus ada. “Ma da ma tis samawat wal ardh”
Sebab merupakan salah satu elemen fundamental atau ruh dalam kehidupan kepesantrenan, di mana seorang kiyai menuangkan ide-ide, dituangkan dalam nasihat-nasihatnya yang senantiasa selalu dikenang dan diaplikasikan santri, sampai kelak mereka menjadi bagian dari masyarakat luas.
Pada kesempatan jum’at, 23 Agustus 2013, Pak Kiyai sampaikan tema “Pentingnya Aplikasikan Kehidupan Ramadhan di Sebelas Bulan Lainnya.”

Sambil menunggu santri dari kampus 2 dan kampus 3, pengajian diawali dengan kegiatan mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah secara berjamaah, Tasyahhud, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Salawat dan do’a.
Setelah jumlah santri mendekati seratus persen, dan waktu makin berputar, matahari mulai menyapa jamaah, Pak Kiyai mulai membuka tausiyah jum’at.
Allah ciptakan bulan Ramadahan hakikatnya adalah sebagai bulan percontohan (modelling) dan pembeda terhadap bulan-bulan lainnya, baik dari sisi ibadah dan a’mal shalihah.
Pada bulan Ramadhan, banyak kaum muslimin giat tunaikan ibadah dan amal kebaikan. Tidak sekedar mendirikan sholat fardhu, yang bilangannya hanya tujuh belas rakat saja, melainkan juga rajin dirikan salat-salat nawafil, seperti halnya tarawih (yang tidak ada selain pada bulan Ramadhan), witir, tahajud, dll.
Dari perbuatan (a’mal) dan aqwal (perkataan), senantiasa terjaga. Langkah perbuatan senantiasa terkendali, tidak menjadi pemarah, perkataan-perkataan selalu ingin yang baik dan bijaksana, menjaga dari perkataan dusta dan sia-sia.

Menyibukkan diri menggetarkan bibirnya dengan lantunan kitabullah, kakinya melangkah ke majlis-majlis ta’lim, dan dzikir. Seluruh aspek kehidupannya ditimbang dan bertolok ukur terhadap keridhoaan Allah.
Kehidupan seperti inilah pada kenyataannya yang diharapkan oleh Allah SWT. atas ummat Muhammad SAW. pada bulan-bulan selain pada bulan Ramadhan.
Sebab seorang mukmin yang berpuasa mempunyai kegembiraan luar biasa. Gembira karena telah menjalankan kewajibannya selaku hamba yang taat, gembira karena mendapat pengampunan, gembira karena mendapatkan balasan yang tiada ternilai (bila menjalankan ibdahnya dan pekerjaannya) dengan rasa ikhlas dan berserah diri, dengan setiap kebaikan minimal dibalas dengan sepuluh pahala.
Dengan demikian, kegembiraan mukmin, tidak terbatas pada kegembiraan lahiriyah saja, melainkan kegembiraan batiniyahnya juga tercakup.
Sebab Allah firmankan melalui hadis Rasul-Nya, bahwa “Puasa itu untuk-Ku, Aku sendirilah yang akan memberikan balasannya.”
Dalam mempertahankan kegiatan ibadah dan amalan di bulan Ramadhan dimaksud, sebenarnya Allah SWT. sudah berikan keringanan/kemudahan-kemudahan.
Sebagaimana pada bulan Syawal, disyariatkan berpuasa enam hari, yang menurut sebagian besar Ulama’ bisa kapanpun menjalankannya, selama masih bulan syawal, merupakan penyempurna puasa Ramadhan.
Seorang yang menjalankan puasa Ramdahan, diikuti enam hari bulan Syawal, seakan ia berpuasa (mendapat pahala) selama satu tahun penuh.
Di bulan-bulan hijriyah lainnya dianjurkan puasa ayyamul bidl, 13, 14 dan 15 pada setiap bulannya dengan keuntungan dan perhitungan dari Allah tercatat sebagai puasa selama satu bulan.
Bulan Dzulhijjah yang tidak disyariatkan berpuasa di pertengahan bulannya, maka Allah gantikan dengan mensyariatkan melakukan amal-amal kebaikan pada sepuluh hari awal bulan (termasuk di dalam perbuatan baik adalah berpuasa).
Selain dari berpuasa di pertengahan bulan, ada juga puasa-puasa sunnah lainnya, tasu’a dan ‘asyura, senin dan kamis dan daud, serta bahkan berpuasa sepanjang masa (selain dari pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa), sebagaimana yang dilakukan Sahabat Abu Bakar As Sidiq RA. dan Sayyidah ‘Aisyah RA., bagi yang mampu.
Itulah pilihan-pilihan dari Allah SWT. untuk menjalankan serta mengaplikasikan kehidupan puasa Ramadhan di sebelas bulan lainnya, dari yang terberat sampai kepada yang teringan.
Sedangkan orang yang berhalangan/udzur syar’i, seperti haid, nifas, sakit, ‘ajuz. Mereka juga diperkenankan mendapat pahala seperti pahala orang berpuasa dengan cara memberikan buka puasa “walau hanya sebutir kurma”, “semangkuk kolak”, “sebutir buah manis.”
Sebagaimana ummat lain mengambil manfaat melalui terapi puasa dari aspek yang berbeda, yakni untuk merampingkan badan, namun sekali lagi orang mukmin yang medawamkannya mendapatkan manfaat lahir dan batin, jasmani dan ruhani. Tidak menitikberatkan kepada aspek kesehatan, tetapi jauh dari itu mendapatkan aspek akhirat.
Aspek ibadah sholat yang dijalankan pada bulan Ramadhan dibiasakan secara khusyu’ dan bilangannyapun lebih banyak bila dibandingkan dengan sholat fardzu. Hal ini selain membutuhkan waktu lumayan panjang, juga membutuhkan energi ekstra.
Sholat tarawih, semakna dengan nyantai woles (bahasa gaul), dilakukan di malam-malam Ramadhan dijalankan dengan split-split, dengan ritme slow, tidak terburu nafsu cepat selesai.
Gambaran inilah sebagai suatu pembelajaran untuk dipraktikkan di bulan-bulan lainnya. Dengan menjalankan sholat secara berjamaah, dengan bilangan dan bacaan yang lama dan tentunya dengan harapan khusyu’, berdampak kepada terbiasa untuk melakukannya.
Sehingga menjalankan sholat di hari-hari biasa, selain di bulan Ramadhan terasa ringan, asyik, enjoy, tiada beban, sehingga seluruh sholat-sholat wajib bisa dijalankan secara berjamaah tanpa paksaan dan terpaksa dan melakukan sholat-sholat sunnah sebagaimana sholat tasbih (dirasa lama) menjadi trend kaum muslimin.
Betapa indah, bila menjalankan ibadah sholat dengan langkah kaki ringin, menghadirkan hati dan kekhusyukan. Inilah hakikat buah dari latihan di bulan Ramadhan. “Sesungguhnya sholat itu terasa berat dijalankan, kecuali bagi mereka yang khusyu’ menjalankannya.”
Begitulah seharusnya pengaruh Ramadhan terhadap ibadah-ibadah dan amalan-amalan yang dilakukan di luara Ramadhan. Makin tumbuh, makin subur, dan berbuah, serta bermanfaat bagi lainnya.
Pada bulan Ramadhan haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tidaklah seperti halnya orang-orang berlomba-lomba secepatnya menuntaskan sholat tarawihnya, bahkan berlomba siapa yang mampu membaca al-fatihah dalam satu nafas, dan seterusnya.
Mereka menghiraukan hakikat kekhusyukan dan pelatihannya, tetapi sebatas menghitung kuantitas dan targetnya. Dengan demikian, atsar usai Ramadhan tidak berbekas, bahkan hilang tertelan ombak, bagai buih di lautan.
Sebagai tindakan nyata, hidupkan sunnah Rasulullah, Pak Kiyai dalam kesempatan tausiyahnya menegaskan dan mengumumkan kembali tentang pelaksanaan puasa Syawal yang telah dimulai pada Kamis, 22 Agustus 2013.
Maka seluruh civitas pesantren, tidak hanya santri-santri yunior saja diwajibkan menjalankannya, tetapi demikian pula santri-santri senior juga harus lebih menjalankan dan memaknai puasa ini.
Tidaklah seperti orang kafir dalam memaknai hidup ini. Tujuan mereka sekedar terbatas dan berhenti pada dunia saja, tetapi tidak mempersiapkan akhirat. Maka wajar ungkapan yang menyatakan “Al-Dunnya Jannatul Kafir.”. “Dunia adalah syurga (tujuan) orang-orang kafir.
Mereka lalai dan tidak sadar, bahwa dunia adalah fana. Segala sesuatu tercipta di alam semesta ini akan punah. “Kullu man ‘alaiha Fân”.
Menggambarkan kehidupan Kuffar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.
و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عِيسَى أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَافَهُ ضَيْفٌ وَهُوَ كَافِرٌ فَأَمَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ فَحُلِبَتْ فَشَرِبَ حِلَابَهَا ثُمَّ أُخْرَى فَشَرِبَهُ ثُمَّ أُخْرَى فَشَرِبَهُ حَتَّى شَرِبَ حِلَابَ سَبْعِ شِيَاهٍ ثُمَّ إِنَّهُ أَصْبَحَ فَأَسْلَمَ فَأَمَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ فَشَرِبَ حِلَابَهَا ثُمَّ أَمَرَ بِأُخْرَى فَلَمْ يَسْتَتِمَّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’; Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Isa; Telah mengabarkan kepada kami Malik dariSuhail bin Abu Shalih dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan tamu orang kafir. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh pembantunya memerah susu seekor kambing untuk tamu, lalu diminum habis oleh tamu tersebut. Kemudian beliau menyuguhkan lagi, dan habis pula diminumnya. Di suguhkannya lagi, ia pun masih tetap meminumnya, sehingga akhirnya dia meminum habis susu perahan tujuh ekor kambing. Beberapa waktu kemudian dia masuk Islam. Rasulullah memerintahkan supaya diperah seekor kambing untuknya. Susu itu diminumnya habis. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh supaya diperah seekor lagi lalu diberikan pula kepadanya, tetapi dia tidak sanggup menghabiskannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin minum dengan satu usus (perut), dan orang kafir minum dengan tujuh usus (perut). (HR.MUSLIM : 3843).
Makna hadis dimaksud adalah Makan dan minumlah sesuai takaran perutmu, karena sesuatu yang dihalalkan untukmu bisa menjadi haram apabila kamu memasukan dalam perutmu melebihi takarannya.
Hadis ini disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika seorang kafir yang hadir atas undangan Rasulullah, dihidangkan dengan perahan susu kambing. Tamu tersebut minum perahan itu lalu meminta tambah, lalu diperahkan lagi untuknya. Dia minum dan meminta tambah lagi, begitulah seterusnya sehingga perahan ke tujuh.
Pada keesokan harinya dia memeluk Islam lalu Rasulullah menjamu dia dengan perahan susu kambing. Dia minum sehingga habis namun apabila di jamu dengan perahan kedua, dia tidak meminumnya. Melihat itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Orang mukmin makan dengan satu usus manakala orang kafir makan dengan 7 usus.
Kisah di atas tidaklah membatasi maksud hadis karena mengikuti kaedah, suatu hadis yang memiliki lafadz umum tetap tidak terikat dengan sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Justeru sabda Rasulullah: Orang mukmin, dia makan dengan satu usus manakala orang kafir dia makan dengan 7 usus tidaklah terikat kepada tamu yang minum 7 perahan susu kambing di atas.
Maksud Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam membedakan antara satu dan tujuh usus bukanlah bertujuan memberi pengertian dari sudut sains (biologi) tetapi adalah satu kiasan (majaz) bahwa orang Islam makan sedikit sedangkan orang bukan Islam makan banyak. Angka tujuh atau tujuh puluh lazimnya digunakan oleh masyarakat Arab untuk menyatakan jumlah yang banyak.
Begitulah gambaran orang-orang kafir, lebih mementingkan kehidupan dunia Hubbud Dunya. Beranggapan, bahwa dunia tujuan terakhirnya, sehingga menumpuk-numpuk kekayaan, sedangkan akhiratnya dilalaikan.
Namun sebaliknya, bagi orang-orang yang beriman surga adalah abadi. Di akhirat kelak. Dunia dijadikan pula sebagai surga, lebih-lebih akhiratpun harus digapainya.
“Ad-Dunya Mazro’atul âkhirah”, “Dunia laksana ladang/kebun untuk akhirat.” Sudah barang tentu menjalankan pekerjaan-pekerjaan bermanfaat, tidak ingin memperkaya diri, atau mendewakan perhiasan dunia, melainkan menabung untuk bekal akhirat, dengan cara berbagi dan beramal.
Sebagaimana difirmakan Allah dalam al-Qur’an al-Qashash, ayat 77 sebagai berikut :

                         •     
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Sungguh, seorang mukmin harus menciptakan kebahagiaan di akhirat, tetapi jangan lupa pula (kebahagiaan itu) harus dimulai dari kebahagiaan dunia (ketenangan, kesejahteraan, kedamaian, kekhusyukan, kepasrahan dan keridhoan Allah) sebagai bekal kelak di akhirat.
Orang kafir sekedar mengejar kelezatan kuliner, fashion, transportasi, tempat tinggal, kemewahan, tanpa memandang kehidupan masa depan.
Kembali pada puasa Ramadhan, sebagai wahana pembelajaran kehidupan mukmin sejati yang harus diaplikasikan kesehariannya.
Maka do’a yang senantiasa disenandungkan orang mukmin adalah “Kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan terbebas dari api neraka.” (disarikan dari paparan tausiyah Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining, Jum’at, 23 Agustus 2013). [Mr. Song]

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait