Ratusan santriwati duduk bersila memenuhi Masjid Jami pada Rabu (7/10/2026). Mereka tidak sedang menghadapi ujian, melainkan menyiapkan hati lebih dulu. Lewat kegiatan taujihat (pengarahan) menjelang ujian murajaah ‘ammah semester gasal, seluruh santriwati diajak melihat ujian sebagai cermin untuk mengukur sejauh mana ilmu dan hafalan telah dikuasai.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santriwati Pesantren Darunnajah 2 Cipining dan berlangsung di Masjid Jami. Tema yang diangkat adalah kesiapan menghadapi ujian murajaah ‘ammah, yakni ujian pengulangan materi pelajaran secara menyeluruh pada semester gasal. Kegiatan berjalan baik dan lancar sejak awal hingga akhir.
Taujihat ini diselenggarakan untuk mempersiapkan santriwati menghadapi rangkaian ujian kepesantrenan. Sasaran utamanya adalah meluruskan niat dan mengubah cara pandang. Selama ini ujian kerap dipahami sebagai beban yang menimbulkan cemas. Dalam taujihat ini, santriwati diajak melihatnya sebagai alat ukur yang jujur atas proses belajar yang telah dijalani.
Ada satu kebiasaan sederhana yang sering luput: ujian tidak dimulai saat lembar soal dibagikan, tetapi saat seseorang memutuskan untuk mengulang pelajaran. Dari sudut pandang itu, nilai akhir hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Perjalanan itu mencakup niat, ketekunan, dan cara seseorang memperlakukan ilmu yang dipelajarinya.
Nilai kejujuran dan integritas menjadi pesan yang ditekankan dalam kegiatan ini. Dua nilai tersebut selalu diutamakan di lingkungan pesantren. Santriwati diingatkan bahwa hasil yang diperoleh dengan jujur, sekecil apa pun, lebih bermakna dibanding angka tinggi yang diraih dengan cara yang keliru.
Selain pembekalan nilai, kegiatan ini mendorong kesiapan mental dan kedisiplinan dalam mengulang pelajaran. Santriwati diajak menyusun waktu belajar, menjaga konsistensi, dan tidak menumpuk hafalan di hari-hari terakhir. Kesiapan mental dipandang sama pentingnya dengan kesiapan materi, sebab ketenangan membantu seseorang mengingat dengan lebih baik.
Kegiatan ditutup dengan pembekalan spiritual berupa motivasi dan doa bersama. Doa dipanjatkan agar para santriwati diberi ketenangan batin dan kemudahan selama menjalani proses ujian. Suasana khidmat di Masjid Jami menegaskan bahwa ikhtiar belajar selalu berjalan beriringan dengan tawakal kepada Allah SWT.
Kini tiba giliran santriwati menuntaskan persiapan masing-masing. Para orang tua dan wali santri dapat ikut mengambil peran dengan mendoakan serta memberi dukungan lewat kabar yang menenteramkan. Bagi pembaca yang memiliki putri di pesantren, sapaan hangat dan doa dari rumah sering kali menjadi tambahan semangat yang tidak ternilai.
